Gelar The 12th ACPID 2026 di Bandung, Tenaga Kesehatan Asia Komitmen Perkuat Ketahanan Kesehatan Anak
Ketua Pengurus Pusat Ikatan Dokter Anak Indonesia, Piprim Basarah Yanuarso, saat membuka The 12th Asian Congress of Pediatric Infectious Diseases (ACPID) 2026, di Bandung(MI/SUMARIYADI)

WABAH Covid-19 menjadi pelajaran penting bagi tenaga medis di dunia. Infeksi tidak mengenal batas negara, sehingg wabah cepat berkembang secara global.

“Dalam wabah Covid-19, anak menjadi korban dengan angka kematian yang paling tinggi. Mereka mennggung dampak terbesar, baik langsung maupun tidak langsung,” ungkap Ketua Pengurus Pusat Ikatan Dokter Anak Indonesia, Piprim Basarah Yanuarso, saat membuka The 12th Asian Congress of Pediatric Infectious Diseases (ACPID) 2026, di Bandung, Jumat (14/8) sore.

Di Indonesia, lanjut dia, banyak persoalan anak lainnya yang belum terselesaikn. Di antaranya merebaknya penyakit TBC, dengur, campak, pneumonia, diare dan berbagai penyakit tropis lainnya. Beban ini tidak hanya dialami anak Indonesi, tapi juga anak-anak di Asia.

Selain itu, jug muncul ancaman yang kompleks, resistensi antimikroba, munculnya kembali penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi, resistensi vaksin yang meningkat, perubahan iklin, tingginya mobilitas dan ketimpangan akses terhdap pelayanan kesehatan.

“Kita tidak dapat mengatasinya sendiri. Karena itu, kongres ini tidak boleh berhenti pada kegiatan saling tukar hasil penelitian. Kongres harus menjadi ruang membangun kepercayan, memperkuat network internasional serta melahirkan kolaborasi nyata antarnegara,” tegasnya.

Dia menambahkan, para tenaga medis perlu bekerja sama dalam mengatasi penyakit, penelitian multicenter, kesiapsigaan hadapi wabah, dan pemerataan akses vaksin.

“Keberhasilan tenaga kesehatan bukan pada angka penelitian, dan banyaknya publikasi yang dihasilkan dalam kongres. Keberhsilan kita ialah menurunnya angka kematian dan angka kesakitan,” tandas Piprim.

Dia menyampaikan penyelenggaraan kongres ini merupakan bukti nyata peran aktif Indonesia dalam mendorong kolaborasi regional.

“Kongres ini bukan sekadar pertemuan ilmiah, tetapi sebuah gerakan kolektif untuk membangun ketahanan bersama. Asia memiliki tantangan unik dalam penanganan penyakit infeksi anak,” tambahnya.

IDAI, lanjut Piprim, berkomitmen penuh untuk memfasilitasi pertukaran pengetahuan dan pengalaman demi menciptakan strategi yang lebih efektif dan adaptif di masa depan.


1.000 PESERTA


Penyelenggaraan 12th Asian Congress of Pediatric Infectious Diseases (ACPID) 2026 berlangsung bersamaan dengan Annual Scientific Meeting on Pediatric Infectious Diseases (ASMPID). Kongres berlangsung Jumat-Minggu, 14–16 Agustus 2026 di Trans Hotel & Convention Center, Bandung.

 

Mengusung tema besar “Fostering Asian Collaboration in Pediatric Infectious Diseases Control to Strengthen Resilience Against Future Global Threats,” kongres dua tahunan ini menjadi salah satu forum ilmiah paling prestisius di kawasan Asia dan dunia.

Acara ini mempertemukan lebih dari 1.000 peserta yang terdiri dari dokter spesialis anak, konsultan penyakit infeksi, peneliti, akademisi, tenaga kesehatan, hingga para pembuat kebijakan dari berbagai negara.

Kehadiran lebih dari 100 pembicara nasional dan internasional menegaskan komitmen bersama dalam memperkuat ketahanan kesehatan anak di tengah ancaman penyakit infeksi yang kian kompleks.

Sementara itu, Ketua Panitia ACPID 2026 sekaligus Ketua IDAI Cabang Jawa Barat, Prof Anggraini Alam menekankan bahwa momen ini adalah langkah strategis untuk mengatasi berbagai masalah kritis.

“Kongres ini akan menyoroti isu-isu mendesak seperti penyakit yang dapat dicegah dengan vaksin (VPD), penyakit tropis terabaikan (NTD), penyakit emerging dan re-emerging, serta ancaman serius dari resistansi antimikroba. Kami merancang program ilmiah yang komprehensif dengan harapan setiap peserta dapat membawa pulang wawasan dan keterampilan praktis untuk meningkatkan tata laksana infeksi pada anak di negara masing-masing,” jelasnya.

Dukungan penuh juga datang dari Presiden Asian Society for Pediatric Infectious Diseases (ASPID) Mike Yat-Wah Kwan. Ia menyatakan bahwa ACPID 2026 adalah wadah ideal untuk memperkuat sinergi antar negara di Asia.

“Kami melihat antusiasme luar biasa dari para ahli dan praktisi. Melalui simposium dan diskusi interaktif, kami berharap dapat menghasilkan rekomendasi konkret yang tidak hanya berdampak pada penelitian tetapi juga langsung pada kebijakan kesehatan anak di kawasan Asia. Ini adalah investasi jangka panjang untuk masa depan generasi kita,” ungkapnya.

Pada kesempatan yang sama, Ketua Unit Kerja Koordinasi (UKK) Infeksi dan Penyakit Tropis IDAI, Prof Edi Hartoyo menambahkan bahwa kolaborasi Asia sangat penting untuk menghadapi ancaman global di masa depan.

“Kami tidak hanya fokus pada aspek medis, tetapi juga pada aspek pencegahan, pengendalian infeksi, dan pengelolaan sumber daya. Dengan mengintegrasikan pendekatan One Health dan manajemen nutrisi dalam penanganan penyakit infeksi, kita dapat menciptakan sistem kesehatan yang lebih tangguh dan holistik,” terang Prof Edi.

 

 



Source link

By Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *