
KEMERDEKAAN tidak hanya dirayakan melalui sejarah, tetapi juga melalui kemampuan bangsa menjawab persoalan masa depan dengan kekuatan sendiri. Di bidang kesehatan, salah satu upaya itu datang dari Universitas Indonesia (UI). Bersama Tsinghua University, Tiongkok, UI mengembangkan prototipe vaksin dengue tetravalen berbasis messenger Ribonucleic Acid (mRNA) yang berpotensi menjadi vaksin dengue mRNA pertama di dunia.
Inovasi tersebut merupakan upaya UI dalam memperkuat kemandirian kesehatan Indonesia. Bagi bangsa yang memperingati 81 tahun kemerdekaan, kemampuan mengembangkan teknologi strategis merupakan wujud kemandirian yang relevan dengan tantangan masa kini. Di bidang vaksin, Indonesia masih bergantung pada bahan baku impor. Karena itu, penguasaan teknologi dari tahap riset hingga pengembangan produk menjadi kebutuhan strategis.
Prototipe vaksin ini diluncurkan pada 8 Juli 2026 dalam Launch Ceremony of the mRNA Tetravalent Dengue Vaccine Prototype di Gedung Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Pengembangannya mempertemukan UI, Tsinghua University, pemerintah, LPDP, dan PT Etana Biotechnologies Indonesia dalam satu ekosistem riset dan hilirisasi.
Merancang Vaksin untuk Karakteristik Indonesia
Riset vaksin ini dilakukan oleh Infectious Disease and Immunology Research Center (IDIRC) Indonesian Medical Education and Research Institute (IMERI), Fakultas Kedokteran UI, di bawah kepemimpinan Prof. Dra. Beti Ernawati Dewi, Ph.D. Penelitian dimulai melalui pendanaan kompetitif LPDP pada 2023 dan berlanjut pada 2024 dengan keterlibatan PT Etana, sebelum diperkuat melalui kolaborasi dengan Tsinghua University.

Prof. Dra. Beti Ernawati Dewi, Ph.D/Dok. Humas UI
Kandidat vaksin dikembangkan dengan platform mRNA menggunakan gen preM-E dari strain virus dengue yang beredar di Indonesia. Pendekatan tetravalen dirancang untuk mencakup empat serotipe virus dengue sehingga kandidat vaksin mempertimbangkan keragaman virus yang menjadi tantangan di Indonesia.
Tim juga memanfaatkan artificial intelligence (AI) untuk memprediksi kemungkinan mutasi virus. Hasil prediksi dapat menjadi pertimbangan dalam pengembangan desain vaksin agar lebih adaptif terhadap perubahan karakteristik virus.
Aspek keamanan menjadi bagian lain dari desain kandidat. Modifikasi pada fusion loop ditujukan untuk mengurangi risiko antibody-dependent enhancement (ADE), yaitu kondisi ketika antibodi justru membantu virus menginfeksi sel dan dapat memperberat penyakit.
Pengembangan tersebut menggabungkan virologi, imunologi, bioinformatika, dan teknologi mRNA. Tim telah melakukan pengumpulan spesimen dari sejumlah wilayah Indonesia, analisis epidemiologi molekuler, konstruksi mRNA, formulasi lipid nanoparticle (LNP), serta pengujian antigenisitas, imunogenisitas, dan studi praklinis di Indonesia dan Tiongkok.
“Pengembangan vaksin ini tidak hanya menghasilkan kandidat vaksin, tetapi juga memperkuat kapasitas peneliti Indonesia melalui transfer teknologi, pertukaran pengetahuan, dan pengembangan kompetensi di bidang vaksin generasi baru,” ujar Prof. Beti.
Dari Riset Menjadi Kekuatan Nasional
Pengembangan vaksin masih berada pada tahap prototipe dan uji praklinis. Setelah tahap tersebut selesai, kandidat harus melalui uji klinis sebelum dapat diproduksi dan digunakan secara luas. Karena itu, capaian saat ini merupakan tahapan bagi proses panjang menuju vaksin yang dapat dimanfaatkan masyarakat.
Kolaborasi lintas negara dan lintas sektor menjadi bagian penting dalam proses tersebut. Tsinghua University berkontribusi melalui keahlian teknologi mRNA, UI melalui kapasitas riset dan pengembangan ilmiah, LPDP melalui dukungan pendanaan, serta PT Etana sebagai mitra industri untuk mendorong hilirisasi.
Rektor UI, Prof. Dr. Ir. Heri Hermansyah, S.T., M.Eng., IPU, menilai kolaborasi tersebut menunjukkan bahwa kerja sama akademik dapat diarahkan untuk menghasilkan teknologi medis yang relevan bagi kebutuhan masyarakat.

Rektor UI, Prof. Dr. Ir. Heri Hermansyah, S.T., M.Eng., IPU/Dok.Humas UI
“Dengan dukungan pemerintah dan industri, kami berharap inovasi ini dapat bergerak dari laboratorium menuju uji klinis hingga dimanfaatkan masyarakat,” ujar Prof. Heri.
Pada peluncuran prototipe, UI, Tsinghua University, PT Etana Biotechnologies Indonesia, dan tim peneliti kedua negara menandatangani Research Agreement untuk melanjutkan pengembangan vaksin.
Bertepatan dengan HUT ke-81 RI, inovasi ini menunjukkan bentuk kontribusi perguruan tinggi dalam mengisi kemerdekaan melalui penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi. Vaksin dengue mRNA bukan sekadar produk riset, melainkan upaya membangun kemampuan nasional untuk menghasilkan teknologi kesehatan yang mempertimbangkan kebutuhan Indonesia.
Dari laboratorium UI, pengetahuan diterjemahkan menjadi sebuah prototipe. Dari kolaborasi, kapasitas riset diperkuat. Dan dari inovasi tersebut, Indonesia membangun salah satu pijakan menuju kemandirian vaksin dan ketahanan kesehatan nasional. (H-4)
