NU Didorong Perkuat Peran Global melalui Soft Diplomacy
Mudir Ali JATMAN Ali Masykur Musa(IPNU)

Mudir Ali JATMAN Ali Masykur Musa mendorong Nahdlatul Ulama (NU) memperluas perannya dari organisasi sosial-keagamaan di tingkat nasional menjadi kekuatan masyarakat sipil yang turut berkontribusi dalam membangun perdamaian dunia. Menurutnya, perubahan global yang semakin terbuka membuat NU perlu memiliki perspektif internasional dan memainkan peran melalui pendekatan soft diplomacy.

Gagasan tersebut disampaikan Ali Masykur Musa dalam Silaturahmi Nasional (Silatnas) Majelis IPNU pada Jumat (7/8). Ia menilai perkembangan teknologi, informasi, ekonomi, dan interaksi sosial telah membuat batas antarnegara semakin cair sehingga organisasi seperti NU tidak dapat lagi melihat perannya hanya dalam konteks geografis Indonesia.

“NU harus menjadi bagian warga dunia, karena saat ini telah terjadi state borderless,” ujarnya.

Menurut Ali Masykur Musa, kondisi dunia yang semakin terhubung menghadirkan berbagai persoalan yang tidak lagi dapat diselesaikan hanya melalui pendekatan domestik. Karena itu, NU dinilai memiliki peluang untuk berkontribusi dalam menciptakan kehidupan global yang damai melalui kekuatan sosial dan keagamaan yang dimilikinya.

Ia menggambarkan peran tersebut melalui konsep peaceful coexistence, yakni mendorong kehidupan bersama yang damai di tengah dunia yang semakin tanpa batas. Untuk mewujudkannya, NU dapat mengembangkan pendekatan equilibrium diplomacy yang menitikberatkan pada upaya membangun keseimbangan dalam hubungan antaraktor di tingkat global.

“Karena sekarang tidak ada kekuasaan yang diperoleh tanpa menuju kekuatan diplomasi,” katanya.

Ali Masykur Musa menilai gagasan tersebut perlu menjadi bagian dari cara pandang terhadap kepemimpinan NU ke depan. Ketua Umum NU tidak cukup hanya memiliki kemampuan mengelola persoalan internal organisasi, tetapi juga perlu memahami dinamika geopolitik, geostrategi, serta perkembangan ideologi global yang memengaruhi kehidupan berbangsa dan bernegara.

Dalam konteks diplomasi, ia membedakan ruang antara hard diplomacy dan soft diplomacy. Menurutnya, hard diplomacy merupakan ranah negara yang dijalankan melalui instrumen resmi seperti Kementerian Luar Negeri, TNI, dan Polri.

Sementara itu, NU memiliki karakter dan kekuatan yang berbeda sehingga ruang kontribusinya berada pada jalur soft diplomacy.

“Kalau NU harus mengambil peran, namanya soft diplomacy,” tegasnya.

Menurut Ali Masykur Musa, soft diplomacy dapat menjadi sarana bagi NU untuk membangun pengaruh melalui kekuatan sosial-keagamaan, nilai-nilai Islam Ahlus Sunnah wal Jamaah, jaringan ulama dan pesantren, masyarakat sipil, serta tradisi dialog yang selama ini menjadi bagian dari perjalanan NU.

Pendekatan tersebut memungkinkan NU berkontribusi tanpa harus masuk ke ranah kekuasaan formal negara. NU dapat memainkan peran sebagai jembatan antarmasyarakat, membangun komunikasi lintas kelompok, memperkuat dialog, serta mendorong terciptanya perdamaian dan keseimbangan dalam hubungan global.

Karena itu, Ali Masykur Musa menilai karakter kepemimpinan NU perlu diperluas agar mampu merespons perubahan lingkungan strategis dunia. Figur yang memimpin NU ke depan, menurutnya, harus memiliki wawasan yang tidak hanya berorientasi pada persoalan internal organisasi, tetapi juga memahami berbagai perkembangan global.

“Ini ciri yang harus dimiliki oleh calon ketua umum yang akan datang, yang tahu persis tentang geopolitik, geostrategi, dan grand ideology di dalam konteks berkehidupan berbangsa dan bernegara, khususnya di dalam kehidupan dunia ini,” ujarnya.

Menurutnya, perspektif global tersebut menjadi semakin penting menjelang Muktamar NU. Pemilihan kepemimpinan organisasi tidak hanya berkaitan dengan kemampuan mengelola struktur dan agenda internal, tetapi juga menyangkut kapasitas membawa NU berinteraksi dengan lingkungan internasional yang semakin kompleks.

Dalam kerangka tersebut, NU memiliki peluang memperluas pengaruhnya melalui kekuatan masyarakat sipil dan keagamaan. Pengaruh tersebut dapat diwujudkan melalui pembangunan jembatan dialog, penguatan nilai perdamaian, serta kemampuan menciptakan keseimbangan dalam berbagai relasi global.

Gagasan Ali Masykur Musa tersebut sekaligus memperluas horizon kepemimpinan NU setelah sebelumnya menekankan pentingnya mengembalikan organisasi kepada ruh Ahlus Sunnah wal Jamaah An-Nahdliyah sebagai amanah diniyah. NU ke depan diharapkan tidak hanya kuat sebagai organisasi di dalam negeri, tetapi juga mampu tampil sebagai kekuatan sosial-keagamaan yang berkontribusi dalam membangun perdamaian dunia melalui soft diplomacy. (E-3)



Source link

By Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *