
PENYAKIT Ginjal Kronis (PGK) kini menjadi tantangan kesehatan serius di Indonesia yang memerlukan perhatian mendalam. Dengan jumlah penderita yang terus meningkat, urgensi deteksi dini, tata laksana yang tepat, hingga pemantauan jangka panjang menjadi kunci utama untuk mencegah pasien jatuh ke tahap Penyakit Ginjal Tahap Akhir (PGTA) yang memerlukan terapi pengganti ginjal.
Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia sekaligus Dokter Spesialis Urologi, Prof. Dr. dr. Nur Rasyid, Sp.U(K), menekankan bahwa masa depan layanan uro-nefrologi sangat bergantung pada integrasi layanan.
Menurutnya, keberhasilan medis tidak lagi hanya diukur dari satu tindakan, melainkan kesinambungan proses dari diagnosis hingga pasca-operasi.
“Masa depan layanan uro-nefrologi ditentukan oleh kemampuan menghadirkan layanan terintegrasi, mulai dari deteksi dini, pembedahan presisi dengan teknologi terbaru, hingga program pemantauan jangka panjang oleh tim multidisiplin,” ujar Prof. Nur Rasyid.
MI/HO—The 6th Symposium on Urology, Nephrology, and Transplantation Services 2026.
Ia menambahkan bahwa pendekatan ini memastikan pasien mendapatkan penanganan yang pas, menghindari risiko under maupun over treatment.
| Indikator | Statistik |
|---|---|
| Estimasi Penderita PGK | > 33,4 Juta Jiwa |
| Peringkat Penyebab Kematian | Ke-10 di Indonesia |
| Angka Kematian Tahunan | > 42.000 Kematian |
Inovasi Transplantasi dan Teknologi Robotik
Siloam Hospitals Asri menjadi salah satu institusi yang konsisten mengembangkan kapabilitas uro-nefrologi selama lebih dari satu dekade. Hingga Juni 2026, rumah sakit ini mencatatkan pencapaian signifikan dalam layanan transplantasi ginjal dengan hasil klinis yang melampaui standar internasional.
| Parameter | Data |
|---|---|
| Total Transplantasi Ginjal | > 533 Tindakan |
| Survival Rate Pasien (1 Tahun) | 98,1% |
| Survival Rate Cangkok (1 Tahun) | 96,7% |
| Teknologi Unggulan | Robotik Da Vinci Xi & RALDN |
Rumah sakit ini juga mencetak sejarah sebagai institusi pertama di Indonesia dan Asia Tenggara yang melakukan transplantasi ginjal berbantuan robotik serta Robotic-Assisted Living Donor Nephrectomy (RALDN). Chief Executive Officer Siloam International Hospitals, Caroline Riady, menyatakan bahwa integrasi teknologi dan kolaborasi multidisiplin adalah kunci untuk memberikan akses layanan berstandar global di dalam negeri.
Membangun Ekosistem Pembelajaran Berkelanjutan
Guna mempercepat transformasi inovasi ke praktik klinis, Siloam menyelenggarakan The 6th Symposium on Urology, Nephrology, and Transplantation Services 2026. Forum ini melibatkan 38 pembicara internasional dan nasional serta lebih dari 500 tenaga kesehatan.
Chief Medical Officer Siloam International Hospitals, dr. Grace Frelita, MM, menjelaskan bahwa simposium ini bertujuan membangun ekosistem pembelajaran yang berlandaskan Value-Based Health Care. Fokus utamanya adalah hasil klinis, keselamatan, dan pengalaman pasien yang berkelanjutan.
Ke depan, Siloam Hospitals Asri berkomitmen untuk terus memperkuat posisinya sebagai Center of Excellence di bidang uro-nefrologi. Melalui inovasi klinis dan pendidikan berkelanjutan, diharapkan masyarakat Indonesia tidak perlu lagi mencari pengobatan ke luar negeri untuk mendapatkan layanan ginjal yang komprehensif. (Z-1)
