Hampir Separuh Kasus Demensia Dipicu Faktor Risiko yang Bisa Diubah
ilustrasi(Magnific)

HAMPIR separuh dari seluruh kasus demensia di dunia ternyata dapat dihubungkan dengan faktor-faktor risiko yang berpotensi untuk diubah atau dicegah setiap individu, seperti kebiasaan merokok hingga tekanan darah tinggi. Temuan terbaru dari Lund University di Swedia berhasil mengidentifikasi bagaimana faktor risiko spesifik tersebut memengaruhi perkembangan penyakit Alzheimer dan demensia vaskular, yang merupakan dua penyebab utama demensia pada manusia.

Meskipun risiko demensia sebagian dibentuk oleh faktor yang tidak dapat diubah seperti usia, jenis kelamin, dan faktor genetik, terdapat banyak pengaruh lingkungan serta gaya hidup yang tergolong modifiable (dapat dimodifikasi). Faktor-faktor tersebut meliputi kebiasaan merokok, penyakit kardiovaskular, kadar lemak darah yang tinggi, tingkat aktivitas fisik, konsumsi alkohol, gangguan pendengaran, hingga tekanan darah tinggi.

Dalam studi jangka panjang ini, para peneliti melacak hampir 500 partisipan yang memiliki usia rata-rata 65 tahun dan tidak menunjukkan tanda-tanda gangguan kognitif pada awal penelitian. Selama empat tahun, tim peneliti memantau perubahan pada white matter (zat putih) otak, serat saraf yang sering mengalami kerusakan pada kasus demensia vaskular, sekaligus memantau akumulasi protein amyloid β dan tau yang menjadi penanda utama penyakit Alzheimer.

Hasil pengamatan menunjukkan bahwa mayoritas faktor risiko yang dapat diubah, seperti merokok, penyakit jantung, lemak darah tinggi, dan hipertensi, terhubung langsung dengan kerusakan pembuluh darah di otak serta penumpukan perubahan white matter yang lebih cepat.

“Kami melihat bahwa sebagian besar faktor risiko yang dapat diubah, seperti merokok, penyakit kardiovaskular, lemak darah tinggi, dan tekanan darah tinggi, di antara yang lainnya, terhubung dengan kerusakan pada pembuluh darah otak dan akumulasi perubahan zat putih yang lebih cepat,” kata Isabelle Glans, peneliti di Lund University.

Selain itu, para peneliti mengidentifikasi adanya hubungan antara faktor risiko tertentu dengan akumulasi protein terkait Alzheimer.

“Diabetes dikaitkan dengan peningkatan akumulasi amyloid β, sementara orang dengan BMI lebih rendah mengalami akumulasi tau yang lebih cepat. Namun, temuan ini masih perlu diselidiki lebih lanjut dan divalidasi dalam studi masa depan,” lanjut Isabelle Glans.

Temuan riset ini menegaskan pentingnya menjaga kesehatan pembuluh darah dan metabolisme tubuh sejak dini. Walaupun tidak semua faktor genetik dapat diubah, memperbaiki gaya hidup mampu mengurangi dampak kerusakan otak secara komprehensif, sehingga dapat membantu menunda munculnya gejala demensia. (Science Daily/Lund University/Z-2)



Source link

By Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *