
KOMISARIS Utama PT Pertamina (Persero) Mochamad Iriawan melakukan Management Walkthrough (MWT) ke tiga fasilitas strategis Pertamina di Jakarta untuk memastikan keandalan operasi dan memperkuat sinergi antarsubholding dalam menjaga ketahanan energi nasional.
Kunjungan yang berlangsung Selasa (4/8) itu diawali di Terminal LPG Jakarta, dilanjutkan ke Fuel Terminal (FT) Tanjung Priok beserta area marine, kemudian ke fasilitas PT Pertamina Lubricants, dan ditutup dengan dialog bersama jajaran pekerja di kantor Regional Jawa Bagian Barat (JBB).
Dalam kunjungan tersebut, Iriawan mengapresiasi kinerja para pekerja Pertamina yang dinilainya berperan penting menjaga ketersediaan bahan bakar minyak (BBM), LPG, dan pelumas bagi masyarakat maupun sektor industri.
“Jakarta merupakan etalase Pertamina. Keandalan operasi di wilayah ini sangat menentukan kepercayaan masyarakat terhadap Pertamina. Karena itu, tidak boleh ada ruang bagi gangguan pasokan maupun penurunan kualitas layanan,” kata Iriawan.
Ia meminta seluruh fasilitas strategis memiliki tingkat operational readiness yang optimal melalui keandalan aset, predictive maintenance, integritas fasilitas, kecukupan stok, kesiapan sumber daya manusia, hingga sistem tanggap darurat yang andal.
Menurut Iriawan, aspek keselamatan, kesehatan, keamanan, dan lindungan lingkungan (HSSE) harus menjadi budaya kerja di seluruh lini operasional, bukan sekadar memenuhi ketentuan administratif.
“Seluruh risiko harus diidentifikasi dan dimitigasi sejak dini melalui inspeksi yang konsisten, disiplin operasi, manajemen perubahan, serta kepemimpinan yang hadir di lapangan,” ujarnya.
Ia menambahkan setiap temuan dalam Management Walkthrough harus menjadi peringatan dini untuk mencegah insiden.
“Keberhasilan bukan diukur dari tidak adanya kecelakaan hari ini, tetapi dari kemampuan mengidentifikasi dan menghilangkan potensi bahaya sebelum menjadi insiden,” katanya.
PENINGKATAN KEANDALAN
Kepada Regional JBB, Iriawan meminta peningkatan keandalan distribusi BBM melalui digitalisasi, optimalisasi logistik, dan koordinasi yang lebih kuat dengan seluruh terminal maupun pemangku kepentingan agar mampu merespons dinamika kebutuhan energi secara cepat.
Sementara itu, kepada Pertamina Lubricants, ia mendorong peningkatan daya saing melalui inovasi produk, efisiensi proses, peningkatan kualitas, serta perluasan pasar domestik dan internasional.
Untuk Terminal LPG Jakarta, Iriawan menegaskan pentingnya menjaga integritas fasilitas mengingat lokasinya berada di kawasan padat penduduk. “Integritas fasilitas, inspeksi, pemeliharaan, kesiapsiagaan darurat, dan pengamanan operasi harus menjadi prioritas utama,” ujarnya.
Iriawan juga menekankan pentingnya memperkuat sinergi antarsubholding melalui konsep One Pertamina agar rantai pasok energi berjalan secara terintegrasi, mulai dari pengadaan, penyimpanan, distribusi hingga pelayanan kepada pelanggan.
“Hilangkan pola kerja yang masih berjalan sendiri-sendiri dan bangun sinergi mulai dari pengadaan, produksi, penyimpanan, transportasi, distribusi hingga pelayanan kepada pelanggan,” katanya.
Menurut Iriawan, integrasi tersebut diharapkan mampu meningkatkan efisiensi operasional, mengoptimalkan pemanfaatan aset, serta memperkuat daya saing perusahaan tanpa mengurangi standar HSSE dan kualitas layanan. (Ant/E-2)
