Potensi Pasar Sepatu Nasional Capai Rp290 triliun per Tahun
Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita membuka Indo Leather & Footwear (ILF) Expo 2026 di Jakarta, Rabu (5/8).(MI/Iis Zatnika)

Data Badan Pusat Statistik (BPS) menyatakan potensi pasar sepatu nasional diperkirakan mencapai sekitar Rp290 triliun per tahun. Perhitungan tersebut didasarkan pada rata-rata pengeluaran masyarakat untuk membeli sepatu dan jumlah penduduk Indonesia yang kini mendekati 290 juta jiwa.

Sementara, terkait subsektor tekstil, pakaian jadi, kulit, dan alas kaki yang menaungi industri sepatu dan alas kaki, hingga saat ini masih menjadi salah satu penyerap tenaga kerja terbesar di Indonesia dengan lebih dari 3,8 juta pekerja. 

Demikian diungkapkan Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita saat membuka Indo Leather & Footwear (ILF) Expo 2026 di Jakarta, Rabu (5/8).

Agus mengungkapkan, pada semester pertama tahun ini, nilai ekspor sektor tersebut mencapai sekitar 4,85 miliar $AS, sementara subsektor kulit dan alas kaki tumbuh 5,28%. Di sisi investasi, kepercayaan investor juga meningkat signifikan, dari sekitar Rp13,5 triliun pada 2024 menjadi Rp24 triliun pada 2025. Industri alas kaki juga mencatatkan surplus perdagangan sebesar 2,89 miliar $AS, menandakan ekspor jauh lebih besar dibandingkan impor.

“”Karena itu, menjaga daya saing industri berarti sekaligus menjaga jutaan lapangan pekerjaan. Tugas kita bersama memastikan potensi tersebut dapat diisi semaksimal mungkin oleh industri dalam negeri. Pemerintah juga berkewajiban menjaga daya beli masyarakat agar pasar domestik terus tumbuh,” ujar Agus.

Agus menegaskan industri alas kaki Indonesia merupakan industri masa depan yang memiliki peluang besar untuk terus berkembang, baik di pasar domestik maupun internasional. Dengan kekuatan pasar dalam negeri yang besar serta semakin terbukanya akses ekspor, pemerintah mendorong industri meningkatkan nilai tambah, memperluas pasar global, dan memperkuat rantai pasok nasional.

“Industri tekstil, kulit, dan alas kaki Indonesia bukanlah industri masa lalu, melainkan industri masa depan. Setiap sepatu yang kita jahit membawa nama Indonesia di ruang-ruang ritel di seluruh dunia.”

 

Menurut Agus, Indonesia memiliki keunggulan yang tidak dimiliki banyak negara, yakni besarnya pasar domestik sekaligus kuatnya peluang ekspor. Kombinasi tersebut menjadikan industri alas kaki sebagai salah satu sektor manufaktur yang layak terus dikembangkan. Meski demikian, Agus menilai capaian tersebut belum cukup mengingat potensi industri yang masih sangat besar.

“Wajah industri alas kaki Indonesia hari ini adalah tiga T, yaitu tangguh, tumbuh, dan terpercaya. Namun pemerintah tidak ingin berhenti pada pertumbuhan saja. Pertumbuhan hari ini harus menjadi lompatan untuk tumbuh lebih baik lagi ke depan,” kata Agus.

Untuk mendorong lompatan tersebut, Agus menyampaikan tiga harapan pemerintah kepada pelaku industri. Pertama, industri harus naik kelas dari sekadar meningkatkan kapasitas produksi menjadi menghasilkan produk bernilai tambah tinggi melalui modernisasi mesin, pemanfaatan teknologi, peningkatan kompetensi sumber daya manusia, hingga penerapan industri hijau.

“Konsumen global kini tidak hanya memperhatikan kualitas produk, tetapi juga proses produksinya, termasuk aspek keberlanjutan dan perlindungan terhadap tenaga kerja. Dunia hari ini membeli bukan hanya produknya, tetapi juga melihat bagaimana produk itu diproduksi. Di situlah letak masa depan daya saing Indonesia,” ujarnya.

Kedua, pemerintah meminta pelaku usaha memanfaatkan momentum implementasi Indonesia-European Union Comprehensive Economic Partnership Agreement (IEU-CEPA) untuk memperluas ekspor.

“Industri agar tidak hanya menunggu peluang, tetapi telah siap dengan sertifikasi, kapasitas produksi, dan kualitas produk ketika akses pasar semakin terbuka. Mari kita banjiri produk-produk Indonesia di negara lain, bukan kita banjiri produk negara lain di Indonesia,” tegasnya.

Ketiga, pemerintah mendorong penguatan rantai pasok industri nasional mulai dari penyamak kulit, produsen benang dan kain, hingga produsen alas kaki dan garmen agar menjadi satu ekosistem yang saling terintegrasi.

“Hulu dan hilir harus bergandengan tangan. Ketika ekosistemnya kuat, kita akan lebih siap menghadapi berbagai gejolak global. Pada ILF Expo ini kita harap terjadi promosi produk, transaksi bisnis, kontrak dagang baru, komitmen investasi, serta alih teknologi di bidang mesin, proses produksi, desain, dan pengembangan industri.” (X-6)



Source link

By Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *