
Centre for Strategic and International Studies (CSIS) Indonesia menyoroti kualitas pertumbuhan ekonomi nasional dalam menciptakan lapangan kerja yang layak. Meski ekonomi Indonesia pada kuartal II-2026 tercatat tumbuh cukup tinggi sebesar 5,29% secara tahunan (year-on-year), kualitas penyerapan tenaga kerja dinilai masih menjadi persoalan serius.
Peneliti Senior Departemen Ekonomi CSIS, Deni Friawan, menjelaskan bahwa pertumbuhan ekonomi saat ini memang mampu menyediakan lapangan kerja. Namun, mayoritas lapangan kerja yang tercipta bukanlah sektor berkualitas yang mampu memberikan penghasilan layak.
“Walaupun tingkat penganggurannya berkurang, kebanyakan yang tercipta adalah di sektor informal. Unemployment rate terutama untuk yang berpendidikan tinggi, S1, S2, dan S3, justru mengalami peningkatan. Ini menunjukkan adanya permasalahan educated unemployment yang besar di Indonesia,” ujar Deni dalam diskusi di Jakarta, Kamis (6/8).
Deni menambahkan, peningkatan sektor informal terlihat dari banyaknya masyarakat yang memilih berusaha sendiri, terutama di sektor perdagangan dan pertanian. Fenomena menjamurnya pedagang di lapangan menjadi indikasi nyata peralihan ini. Kondisi ini diperparah dengan persaingan yang semakin berat (severe) di tingkat bawah.
“Kalau ada yang mengeluh omzet turun, itu bukan sekadar daya beli berkurang karena kelas menengah turun, tapi persaingannya juga makin berat,” imbuhnya.
Di sisi lain, meski angka kemiskinan menunjukkan tren menurun, CSIS mengingatkan bahwa jumlah penduduk miskin masih berkisar 22 juta orang dengan standar garis kemiskinan yang rendah, yakni Rp669 ribu per bulan. Deni juga menyoroti rasio gini (gini coefficient) yang kembali meningkat, yang menandakan pelemahan kelas menengah dan peningkatan ketimpangan.
“Pelemahan kelas menengah dan peningkatan ketimpangan ini bisa menimbulkan risiko terhadap stabilitas ekonomi dan politik,” tegas Deni.
Senada dengan hal tersebut, peneliti Departemen Ekonomi CSIS, Adinova Fauri, menyebut pertumbuhan ekonomi di atas 5% belum memberikan hasil optimal pada penciptaan lapangan kerja berkualitas. Ia menyoroti sektor industri manufaktur yang seharusnya menjadi motor penyerapan tenaga kerja formal justru tumbuh melambat.
“Industri manufaktur hanya tumbuh 4,52% secara tahunan. Angka ini stagnan dan bahkan di bawah pencapaian triwulan yang sama tahun sebelumnya yang mencapai 5,68%,” papar Adinova.
Data CSIS menunjukkan, meski angka pengangguran terbuka berada di level 4,65%, angka pengangguran bayangan atau pekerja paruh waktu masih sangat tinggi mencapai 33%. Proporsi pekerja informal pun tetap dominan di angka 59%, dengan peningkatan jumlah pekerja yang berusaha sendiri dari 20,58% pada Februari 2025 menjadi 21,4%.
“Ini menjadi catatan penting bahwa penciptaan lapangan kerja yang ada bukan terjadi pada sektor formal atau yang memiliki produktivitas tinggi serta kesejahteraan yang lebih baik,” pungkas Adinova.
Guna mengatasi persoalan ini, CSIS mendorong pemerintah untuk segera memperbaiki sektor produktif dengan memperkuat industri manufaktur, memacu ekspor, memperbanyak lapangan kerja formal, serta memperkuat perlindungan bagi rumah tangga. (E-3)
