
DETAK jantung yang terlalu lambat kerap dianggap sebagai tanda kelelahan atau kurang istirahat. Padahal, kondisi tersebut dapat menjadi gejala bradikardia, salah satu gangguan irama jantung (aritmia) yang berpotensi mengganggu aliran darah ke seluruh tubuh.
Pada kondisi normal, jantung berdetak secara teratur untuk memompa darah yang membawa oksigen dan nutrisi ke berbagai organ. Namun, ketika irama jantung menjadi terlalu lambat, terlalu cepat, atau tidak teratur, kemampuan jantung dalam memenuhi kebutuhan tubuh dapat terganggu.
Bradikardia umumnya ditandai dengan detak jantung yang lebih lambat dari normal. Kondisi ini tidak selalu berbahaya, tetapi jika disertai keluhan seperti pusing, mudah lelah, sesak napas, nyeri dada, hingga pingsan, penderita sebaiknya segera menjalani pemeriksaan medis.
Gejala tersebut muncul karena jantung tidak mampu memompa darah secara optimal sehingga pasokan oksigen ke organ tubuh, termasuk otak, berkurang.
Untuk mengetahui penyebab gangguan irama jantung, dokter biasanya akan melakukan serangkaian pemeriksaan, seperti elektrokardiogram (EKG), Holter monitor, maupun pemeriksaan penunjang lainnya. Hasil pemeriksaan akan menentukan apakah pasien memerlukan pengobatan, tindakan medis, atau hanya pemantauan berkala.
Salah satu terapi yang dapat diberikan pada kasus tertentu adalah pemasangan alat pacu jantung (pacemaker). Perangkat berukuran kecil ini ditanam di bawah kulit di area dada dan berfungsi mengirimkan impuls listrik ketika detak jantung melambat atau iramanya tidak teratur sehingga ritme jantung tetap stabil.
Pemasangan alat pacu jantung umumnya direkomendasikan pada pasien yang mengalami bradikardia bergejala, blok jantung (heart block), sindrom sinus sakit (sick sinus syndrome), atau pingsan berulang akibat gangguan irama jantung.
Prosedur pemasangannya tergolong minimal invasif dan biasanya berlangsung sekitar satu hingga dua jam. Dokter akan memasukkan kabel kecil melalui pembuluh darah menuju jantung, kemudian menghubungkannya dengan alat pacu jantung yang ditanam di bawah kulit.
Setelah prosedur, pasien tetap perlu menjalani kontrol rutin untuk memastikan alat bekerja dengan baik. Meski demikian, sebagian besar pasien dapat kembali menjalani aktivitas sehari-hari dengan lebih nyaman karena gejala seperti pusing dan mudah lelah berangsur membaik.
Pengguna alat pacu jantung juga dianjurkan menghindari paparan medan magnet yang kuat serta selalu memberi tahu tenaga kesehatan mengenai perangkat yang digunakan sebelum menjalani tindakan medis tertentu.
Dokter mengingatkan agar masyarakat tidak mengabaikan gejala gangguan irama jantung, meskipun awalnya hanya berupa rasa lelah atau pusing yang muncul sesekali. Penanganan sejak dini dapat membantu mencegah komplikasi yang lebih serius sekaligus meningkatkan kualitas hidup pasien.
Seiring berkembangnya teknologi medis, pemasangan alat pacu jantung kini menjadi salah satu terapi yang aman dan efektif bagi pasien dengan gangguan irama jantung tertentu. Sejumlah rumah sakit yang memiliki layanan jantung terpadu, termasuk RS Lira Medika, menyediakan pemeriksaan hingga evaluasi kebutuhan pemasangan alat pacu jantung sesuai kondisi masing-masing pasien.
(Lira Medika/H-3)
