Cerita Nyanyian Terakhir Si Gajah Kecil Penunggu Rimba, Suarakan Kepedulian terhadap Gajah dan Hutan
Gelar Karya dan Festival Cerita “Nyanyian Terakhir Si Gajah Kecil Penunggu Rimba” yang digelar di Aula H.B. Jassin Perpustakaan Jakarta, Minggu (19/7/2026).(Dok Istimewa )

ANAK-ANAK membuktikan bahwa kepedulian terhadap lingkungan dapat disuarakan melalui karya, seni, dan kreativitas. Hal itu terlihat dalam Gelar Karya dan Festival Cerita “Nyanyian Terakhir Si Gajah Kecil Penunggu Rimba” yang digelar di Aula H.B. Jassin Perpustakaan Jakarta, Minggu (19/7). 

Kegiatan yang diselenggarakan oleh Ranger Bumi berkolaborasi dengan Readocil N Grandung dan Kurcaci Dongeng ini menjadi ruang bagi anak-anak untuk menyampaikan pesan pelestarian gajah dan hutan melalui karya literasi, pertunjukan seni, dan berbagai aktivitas edukatif.

Festival ini diikuti oleh 158 anak yang terbagi dalam dua sesi, yaitu 74 peserta pada sesi pertama dan 84 peserta pada sesi kedua. Juga diikuti oleh orangtua peserta yang turut hadir memeriahkan suasana. Selain menghadirkan pertunjukan seni, kegiatan ini juga menjadi wadah apresiasi terhadap kreativitas anak melalui pameran 12 karya lukisan, 1 buku antologi cerpen, 1 buku antologi puisi, serta 9 buku cerita bergambar yang seluruhnya mengangkat tema pelestarian gajah, hutan, dan lingkungan.

Kegiatan ini dilatarbelakangi oleh keprihatinan terhadap kondisi satwa liar Indonesia yang semakin memprihatinkan. Direktur Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (KSDAE) Kementerian Kehutanan RI, Satyawan Pudyatmoko, mengungkapkan bahwa populasi dan habitat gajah di Indonesia terus mengalami penurunan. Gajah Sumatra bahkan telah dikategorikan sebagai satwa Critically Endangered atau sangat terancam punah. Berangkat dari kondisi tersebut, Ranger Bumi mengajak anak-anak untuk mengenal pentingnya menjaga hutan sebagai rumah bagi gajah dan berbagai satwa lainnya melalui pendekatan seni, literasi, dan kreativitas.

Festival diawali dengan pameran karya anak yang menampilkan buku antologi cerpen, antologi puisi, buku cerita bergambar, serta lukisan bertema gajah dan hutan. Seluruh karya merupakan hasil kreativitas anak-anak yang mengangkat pesan tentang pentingnya menjaga ekosistem hutan sebagai habitat satwa liar. Pameran secara resmi dibuka oleh Ketua Subkelompok Pembudayaan Kegemaran Membaca Priyambodo yang mengapresiasi literasi sebagai sarana membangun kepedulian lingkungan sejak usia dini.

Suasana festival semakin semarak dengan dipandunya acara oleh MC cilik Nabhan dan Kayisa, Co-Founder Ranger Bumi, bersama Kak Andes dari Kurcaci Dongeng. Kehadiran para pembawa acara cilik menghadirkan suasana hangat sekaligus menunjukkan bahwa anak-anak mampu menjadi agen perubahan melalui aksi nyata dan kreativitas mereka.

Pada sesi pagi, pengunjung disuguhkan drama musikal “Nyanyian Terakhir Si Gajah Kecil Penunggu Rimba” yang diperankan oleh anak-anak Ranger Bumi. Melalui perpaduan akting, tari, musik, dan narasi yang menyentuh, pertunjukan ini mengisahkan perjuangan seekor gajah kecil yang kehilangan rumah akibat kerusakan hutan. 

Drama musikal tersebut menjadi refleksi atas semakin terancamnya habitat satwa liar akibat deforestasi serta mengajak penonton menyadari bahwa hutan bukan sekadar kumpulan pepohonan, melainkan rumah bagi jutaan makhluk hidup. Penampilan para pemeran cilik berhasil menyampaikan pesan pelestarian lingkungan dengan cara yang sederhana, menyentuh, dan mudah dipahami oleh seluruh keluarga.

Usai pertunjukan, acara dilanjutkan dengan sesi bincang inspiratif bersama pegiat lingkungan Kak Saifuddin yang mengajak peserta memahami berbagai tantangan pelestarian lingkungan sekaligus mendorong langkah-langkah sederhana yang dapat dilakukan dalam kehidupan sehari-hari. 

Suasana semakin hidup ketika Kayisa membawakan lagu edukatif “Ayo, Memilah Sampah“, yang mengajak anak-anak membangun kebiasaan peduli terhadap kebersihan dan pengelolaan sampah sejak dini. Penampilan tersebut semakin meriah dengan panduan gerak dan tarian yang mengajak seluruh peserta bernyanyi, menari, dan berinteraksi bersama. 

Antusiasme anak-anak terlihat sepanjang pertunjukan, menciptakan suasana yang ceria sekaligus memperkuat penyampaian pesan bahwa menjaga lingkungan dapat dimulai melalui kebiasaan sederhana yang dilakukan dengan penuh kegembiraan. Setelah itu ada tour karya yang dipandu oleh tim READOCIL yaitu kak Awa. Anak-anak diajak berkeliling melihat karya mereka dan menceritakan karya mereka pada teman-teman lainnya.

Memasuki sesi siang, rangkaian acara menghadirkan beragam pertunjukan edukatif yang memadukan seni, cerita, dan pesan pelestarian alam. Salah satu penampilan yang mencuri perhatian adalah drama musikal dari Kurcaci Cilik yang diperankan dengan penuh penghayatan oleh anak-anak Kurcaci Dongeng. 

Melalui kisah yang menyentuh, drama ini menggambarkan dampak kerusakan hutan yang menyebabkan gajah dan satwa liar lainnya kehilangan habitat mereka. Pesan tersebut disampaikan dengan bahasa yang dekat dengan dunia anak sehingga mengajak para penonton, khususnya generasi muda, untuk menumbuhkan rasa cinta terhadap hutan, menghargai kehidupan satwa liar, serta menyadari pentingnya menjaga lingkungan sejak dini.

Penampilan dilanjutkan dengan cerita musikal bertema gajah dan hutan oleh Kak Wulan dari Sastra Svara. Melalui perpaduan cerita, musik, dan ekspresi yang dikemas secara apik, pertunjukan ini mengajak anak-anak berimajinasi sekaligus memahami pentingnya menjaga keseimbangan ekosistem. 

Alur cerita yang hangat dan menyentuh berhasil membuat para peserta larut dalam setiap adegan, menyimak jalannya cerita dengan penuh perhatian, serta menangkap pesan tentang pentingnya mencintai hutan dan melindungi satwa yang hidup di dalamnya.

Suasana semakin semarak dengan pertunjukan puppet show dan hand shadow oleh Kak Dwi dan Kak Iman yang menghadirkan kisah-kisah inspiratif tentang alam melalui media yang kreatif dan menghibur. Tidak hanya menyaksikan pertunjukan, peserta juga diajak berkreasi melalui kegiatan mewarnai tas ramah lingkungan bersama Kelas Vicky Poppi. 

Beragam aktivitas tersebut menjadikan festival ini bukan sekadar hiburan, melainkan ruang belajar yang menyenangkan, tempat anak-anak dapat menumbuhkan kepedulian terhadap lingkungan melalui pengalaman yang kreatif, interaktif, dan penuh makna.

Melalui festival ini, Ranger Bumi ingin menunjukkan bahwa isu pelestarian lingkungan dapat dikenalkan kepada anak-anak dengan pendekatan yang dekat dengan dunia mereka. Seni, cerita, musik, dan karya kreatif menjadi media yang efektif untuk menanamkan nilai kepedulian terhadap alam sekaligus menumbuhkan keberanian anak-anak dalam menyampaikan pesan positif kepada masyarakat.

“Kami percaya setiap anak memiliki suara yang berarti. Melalui cerita, gambar, musik, dan pertunjukan seni, mereka dapat menjadi inspirasi bagi orang-orang di sekitarnya untuk lebih peduli terhadap kelestarian hutan dan satwa. Semoga gerakan kecil ini dapat mengajak semakin banyak pihak bersama-sama menjaga bumi untuk generasi mendatang,” ujar Kayisa.

Festival ini terselenggara berkat dukungan berbagai pihak. PT PLN Indonesia Power dan MASKIT hadir sebagai sponsor utama, didukung oleh PT PLN Indonesia Power UBP Cilegon, Dompet Dhuafa, Buku Hamu, Kelas Vicky Poppy, dan Sparkle Face Painting sebagai sponsor pendukung. 

Kegiatan ini juga didukung oleh para media partner, yaitu Media Indonesia, Majalah CIA, Rumpun Asa, Bank Sampah 102, Read Aloud Tangerang, Sastra Svara, dan Gerobak Baca, yang turut membantu memperluas gaung kampanye pelestarian lingkungan kepada masyarakat.

Melalui kolaborasi berbagai komunitas, sponsor, media partner, relawan, serta keluarga yang hadir, Gelar Karya dan Festival Cerita “Nyanyian Terakhir Si Gajah Kecil Penunggu Rimba” diharapkan menjadi gerakan berkelanjutan yang memperkuat literasi lingkungan sekaligus menginspirasi lebih banyak anak Indonesia untuk mencintai alam melalui karya, kreativitas, dan aksi nyata. Festival ini menjadi bukti bahwa perubahan besar dapat dimulai dari langkah-langkah kecil ketika anak-anak diberi ruang untuk berkarya, bersuara, dan menginspirasi masyarakat dalam menjaga bumi. (RO/E-4)



Source link

By Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *