
DI tengah semakin banyaknya pilihan instrumen investasi, semakin banyak pula investor yang mulai mempertimbangkan satu hal di luar potensi imbal hasil: dampak yang dihasilkan dari dana yang mereka investasikan.
Jika sebelumnya investasi identik dengan saham, obligasi, atau reksa dana, kini investasi berdampak mulai menjadi pilihan alternatif dalam berinvestasi. Melalui instrumen ini, dana investor tidak hanya berkembang sebagai bagian dari portofolio, tetapi juga digunakan untuk mendukung aktivitas ekonomi nyata, mulai dari pengembangan usaha kecil hingga penciptaan lapangan kerja.
Meski demikian, seperti halnya instrumen investasi lainnya, investasi berdampak atau impact investing juga memiliki risiko. Oleh karena itu, sebelum memilih sebuah platform, investor perlu memahami bagaimana dana dikelola, bagaimana risiko dimitigasi, serta bagaimana tata kelola dijalankan.
Pada akhirnya, bukan hanya besarnya potensi imbal hasil yang perlu dipertimbangkan, tetapi juga bagaimana sebuah platform menjaga kepercayaan para investornya.
Pahami Risiko Investasi dan Cara Kelolanya
Setiap instrumen investasi memiliki karakteristik risiko yang berbeda. Saham dipengaruhi oleh pergerakan pasar, obligasi memiliki risiko kredit, sementara investasi sektor riil menghadapi tantangan yang berasal dari aktivitas usaha yang dibiayai.
Dalam pendanaan UMKM, misalnya, risiko investasi dapat muncul ketika sebagian dari mereka mengalami penurunan usaha akibat perubahan kondisi ekonomi, bencana, atau faktor lainnya. Dalam kondisi tertentu, sebagian pendanaan dapat berakhir pada proses write-off setelah melalui berbagai tahapan penyelesaian sesuai ketentuan yang berlaku.
Karena itu, pertanyaan yang lebih relevan bukanlah “Apakah investasi ini bebas risiko?”, melainkan “Bagaimana risiko tersebut dikelola?”
Platform yang memiliki tata kelola yang baik tidak menjanjikan investasi tanpa risiko, tetapi membangun sistem yang mampu mengelola risiko tersebut secara disiplin, transparan, dan berkelanjutan.
Mengapa Investasi Berdampak Sektor Riil Mulai Dilirik?
Dalam beberapa tahun terakhir, tren investasi juga mengalami perubahan. Semakin banyak investor yang tidak hanya mengejar return, tetapi juga ingin mengetahui ke mana dana mereka dialokasikan dan dampak apa yang dihasilkan.
Inilah yang kemudian melahirkan konsep impact investing atau investasi berdampak sosial, yaitu investasi yang tidak hanya mempertimbangkan potensi keuntungan finansial, tetapi juga manfaat sosial maupun ekonomi yang tercipta.
Di Indonesia, salah satu bentuk investasi sektor riil tersebut hadir melalui Amartha Prosper, platform yang menghubungkan dana investor dengan pembiayaan produktif bagi pelaku UMKM perempuan di berbagai wilayah Indonesia.
Melalui pendekatan ini, investor tidak hanya menempatkan dana pada sebuah instrumen investasi, tetapi turut berkontribusi dalam memperluas akses pembiayaan bagi para UMKM di desa yang selama ini menjadi tulang punggung ekonomi nasional.
Pengelolaan Dana Investor
Kepercayaan investor dibangun melalui proses yang berlangsung jauh sebelum dana disalurkan kepada pelaku usaha.
Di Amartha Prosper, pembiayaan didukung oleh proses seleksi terhadap calon mitra, penilaian kelayakan usaha, hingga pemanfaatan teknologi berbasis data untuk membantu proses analisis risiko. Pendekatan tersebut kemudian dipadukan dengan pendampingan langsung di lapangan melalui jaringan tenaga lapangan Amartha yang mendampingi para mitra secara berkala.
Model ini memungkinkan proses pembiayaan tidak berhenti pada pencairan dana semata, tetapi terus dipantau selama usaha berjalan sehingga perkembangan mitra dapat dimonitor secara berkelanjutan.
Di sisi lain, dana investor juga dialokasikan ke dalam portofolio pembiayaan sehingga tidak bergantung pada satu UMKM saja. Pendekatan ini membantu menciptakan diversifikasi risiko sekaligus mendukung keberlanjutan portofolio investasi.
Bagi investor, transparansi mengenai proses pengelolaan dana menjadi bagian penting dalam membangun kepercayaan terhadap sebuah platform investasi.
Dalam investasi sektor riil, tata kelola memiliki peran yang sama pentingnya dengan potensi imbal hasil.
Mulai dari proses penyaluran dana, pengelolaan risiko, hingga penyampaian informasi kepada investor perlu dilakukan secara transparan dan akuntabel. Dengan tata kelola yang baik, investor dapat memahami bagaimana keputusan investasi dijalankan serta bagaimana risiko dikelola sepanjang siklus pembiayaan.
Pendekatan inilah yang menjadi fondasi Amartha dalam membangun hubungan jangka panjang dengan para lender maupun investor institusi yang telah mempercayakan pendanaannya untuk mendukung pembiayaan produktif bagi UMKM Indonesia.
Salah satu hal yang membedakan investasi berdampak atau impact investing adalah dampak yang dapat dilihat secara nyata.
Dana yang disalurkan melalui Amartha Prosper membantu UMKM memperoleh akses pembiayaan produktif untuk mengembangkan usaha mereka. Sebagian memanfaatkannya untuk membeli bahan baku, menambah stok dagangan, memperluas kapasitas produksi, hingga merekrut tenaga kerja baru.
Julie Fauzie, Chief Funding Officer Amartha, mengatakan, “Di tengah kondisi pasar yang tidak menentu, masyarakat perlu semakin cermat memilih produk investasi. Melalui Amartha Prosper, masyarakat dapat berinvestasi sekaligus mendukung pembiayaan sektor riil, khususnya pembiayaan produktif UMKM perempuan di perdesaan. Investor bukan hanya memperoleh potensi imbal hasil, melainkan juga dana yang disalurkan dapat memberi dampak ekonomi yang lebih luas dan inklusif.” (H-2)
