BI Optimalkan Instrumen Moneter demi Stabilitas Rupiah
ilustrasi(Antara)

Bank Indonesia terus menegaskan komitmennya untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah tingginya ketidakpastian ekonomi global. Komitmen tersebut diwujudkan melalui penguatan bauran kebijakan moneter, tidak hanya mengandalkan suku bunga kebijakan, tetapi juga mengoptimalkan berbagai instrumen operasi moneter dan intervensi di pasar keuangan.

Direktur Eksekutif Senior sekaligus Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas Bank Indonesia, Erwin Gunawan Hutapea, mengatakan stabilisasi nilai tukar rupiah akan terus diperkuat sebagai bagian dari respons BI terhadap ketidakpastian global yang masih tinggi.

“Optimalisasi bauran kebijakan moneter dalam menjaga stabilitas nilai tukar rupiah ditingkatkan,” ujarnya dalam keterangan resmi, Rabu (29/7).

Menurutnya, penguatan bauran kebijakan tersebut dilakukan melalui optimalisasi berbagai instrumen moneter. Selain suku bunga kebijakan, BI terus mempertajam strategi triple intervention di pasar valuta asing, yang meliputi pasar spot, Non-Deliverable Forward (NDF), dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF). Di sisi lain, instrumen moneter seperti Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) juga terus dioptimalkan dengan dukungan fasilitas insentif swap dan lindung nilai (hedging) DNDF.

“Ini terus dioptimalkan untuk menjaga stabilitas nilai tukar sekaligus mendukung masuknya aliran modal asing,” jelas Erwin.

Lebih lanjut, BI juga memperkuat strategi pengelolaan likuiditas di pasar uang dan perbankan. Posisi SRBI disebut berada dalam tren yang semakin terkendali. Ke depan, penerbitan SRBI akan diarahkan agar selaras dengan kebutuhan pengelolaan likuiditas sekaligus mendukung masuknya arus modal asing guna memperkuat stabilitas nilai tukar rupiah.

Selain menjaga stabilitas nilai tukar, BI juga terus mengoptimalkan berbagai instrumen kebijakan untuk mendukung pertumbuhan ekonomi. Salah satunya melalui penguatan implementasi Kebijakan Insentif Likuiditas Makroprudensial (KLM) guna mendorong pembiayaan ke sektor-sektor prioritas. BI juga memperkuat mekanisme redistribusi likuiditas di sektor keuangan agar transmisi pembiayaan menjadi lebih efektif.

“Selain itu, kebijakan digitalisasi sistem pembayaran juga terus diakselerasi sehingga makin mendorong pertumbuhan ekonomi,” pungkasnya.

Sebagaimana diketahui, perubahan struktural terjadi pada bank sentral menyusul pengunduran diri Perry Warjiyo dari kursi Gubernur BI. Saat ini, kepemimpinan Bank Indonesia (BI) dijalankan oleh Pelaksana Tugas (Plt) Destry Damayanti. (E-3)



Source link

By Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *