
PASAR keuangan nasional dihadapkan pada dinamika baru menyusul proses transisi kepemimpinan di bank sentral. Menanggapi situasi ini, PT Bursa Efek Indonesia (BEI) secara tegas memastikan bahwa stabilitas pasar saham domestik tetap terjaga dengan baik di tengah pergantian pucuk pimpinan Bank Indonesia (BI).
Keyakinan ini disampaikan langsung oleh Direktur Perdagangan dan Pengaturan Anggota Bursa BEI, Irvan Susandy. Menurutnya, fondasi pasar modal Indonesia masih sangat kokoh dan didukung penuh oleh tingkat kepercayaan investor yang tinggi, baik dari kalangan domestik maupun asing.
Kepercayaan Investor Domestik dan Asing Tetap Tinggi
Irvan mengungkapkan bahwa berdasarkan komunikasi intensif yang telah dilakukan dengan berbagai pihak, termasuk investor global, minat terhadap instrumen investasi di Indonesia tidak mengalami penurunan yang signifikan. Para pelaku pasar luar negeri dinilai masih melihat pasar finansial Indonesia sebagai salah satu destinasi investasi yang sangat menarik.
“Selama ini saya lihat investor juga masih sangat confidence dengan market kita, jadi saya yakin bahwa investor juga punya penilaian yang baik. Kita juga ketemu dengan beberapa pihak-pihak luar (asing) yang masih meyakini bahwa market Indonesia itu market yang menarik bagi mereka. Tinggal it’s a matter of time lah,” ujar Irvan ditemui di Gedung BEI, Jakarta, Selasa (28/7).
Lebih lanjut, ia juga mengingatkan para investor agar senantiasa melihat posisi kompetitif pasar saham tanah air yang secara historis dan fundamental masih menduduki jajaran teratas di kawasan regional Asia.
“Jadi ya tetap percaya bahwa market kita ini masih salah satu market yang terbaik yang ada di regional kita (Asia). Dan InsyaAllah kita akan rebound (berbalik menguat) dan akan terus maju di tahun-tahun mendatang,” ujar Irvan.
Imbauan Agar Investor tidak Panik Menghadapi Dinamika Ekonomi
Menghadapi berbagai tantangan ekonomi global maupun domestik, BEI mengimbau para investor agar tetap tenang, rasional, dan menghindari kepanikan. Transisi kepemimpinan di tubuh bank sentral dipandang sebagai siklus ekonomi yang wajar dan telah teruji dilewati oleh Indonesia pada periode-periode sebelumnya.
Irvan juga menyoroti bahwa tahun ini merupakan periode yang cukup menantang bagi perekonomian nasional secara keseluruhan, yang turut dipengaruhi oleh berbagai faktor eksternal maupun sentimen global seperti tensi geopolitik hingga dinamika lembaga pemeringkat.
“Ya jangan panik, ya maksudnya kan dinamika ekonomi, dinamika sosial, dinamika politik. Selama ini investor-investor sudah mengalami ya. Ya kan tahun ini kan kalau dibilang tahun yang sangat tough banget buat Indonesia, nggak cuma pasar modal tapi perekonomian kita, pemerintah kita ya, mulai dari perang lah, MSCI, Moody’s, dan yang lain,” ujar Irvan.
Mekanisme Transisi dan Plt Gubernur Bank Indonesia
Pergantian kepemimpinan di Bank Indonesia bermula ketika Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg), Prasetyo Hadi, mengumumkan bahwa Presiden Prabowo Subianto telah menerima surat pengunduran diri dari Gubernur BI Perry Warjiyo. Proses lanjutan dari pengunduran diri tersebut akan diproses sesuai dengan koridor hukum yang berlaku dalam Undang-Undang Bank Indonesia.
Untuk memastikan roda organisasi dan kebijakan moneter tetap berjalan tanpa hambatan, posisi puncak pimpinan bank sentral akan diisi sementara waktu oleh pejabat pelaksana tugas sesuai ketentuan perundang-undangan.
“Untuk selanjutnya sesuai dengan Undang-Undang Bank Indonesia, jabatan Gubernur Bank Indonesia akan secara otomatis dijabat oleh Deputi Gubernur Senior yang selanjutnya akan menjalankan seluruh tugas sebagai Pejabat Gubernur Sementara. Di dalam catatan yang dimaksud dengan Deputi Gubernur Senior adalah ibu Destry Damayanti,” kata Prasetyo
Dengan ditunjuknya Destry Damayanti sebagai Pejabat Gubernur Sementara hingga ditetapkannya gubernur definitif, diharapkan stabilitas sektor moneter dan pasar keuangan dapat terus bersinergi dalam menjaga pertumbuhan ekonomi nasional secara berkelanjutan. (Ant/E-4)
