Pengamat: Perluasan KEK Berbasis Industri Perkuat Kebijakan Hilirisasi
DIREKTUR Eksekutif Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Mohammad Faisal.(Dok. Antara)

DIREKTUR Eksekutif Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Mohammad Faisal, menilai langkah perluasan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) berbasis industri merupakan strategi tepat untuk mendukung kebijakan hilirisasi pemerintah. Langkah ini dinilai krusial guna mengakomodasi lonjakan investasi di sektor manufaktur dan teknologi tinggi.

Pernyataan tersebut merespons pengajuan perluasan lahan oleh tiga KEK industri, yakni KEK Gresik, KEK Kendal, dan KEK Galang Batang. Ketiga kawasan tersebut berencana mengembangkan area hingga rata-rata dua kali lipat dari luas eksisting demi menampung permintaan investasi baru.

“Saya kira perluasan tiga KEK ini sangat bagus jika tujuannya memang untuk mengakomodasi lonjakan investasi,” ujar Faisal saat dihubungi di Jakarta, Sabtu (11/7/2026).

Faisal menjelaskan bahwa ketiga KEK tersebut memiliki peran strategis dalam rantai pasok industri masa depan. KEK Gresik, misalnya, sangat erat dengan industri metal (smelter), elektronik, kimia, dan energi. Sementara itu, KEK Galang Batang berfokus pada pengolahan mineral bauksit beserta produk turunannya.

Adapun KEK Kendal telah dikenal sebagai pusat pengembangan industri berbasis ekspor dan teknologi, termasuk ekosistem kendaraan listrik (EV). “Ketiga KEK ini memuat pabrik manufaktur yang berkaitan langsung dengan kebijakan hilirisasi, pengolahan mineral, serta industri berteknologi tinggi seperti petrokimia dan elektronika,” imbuhnya.

Dorong Industrialisasi dan Ekspor

Menurut Faisal, karakteristik investasi di sektor manufaktur memang membutuhkan ketersediaan lahan yang luas. Perluasan kawasan diharapkan tidak hanya membantu ekspansi fisik, tetapi juga meningkatkan daya tarik bagi investor besar melalui penyediaan fasilitas yang lebih lengkap.

“Termasuk kemudahan dalam fasilitasi ekspor-impor. Hal ini penting untuk mendorong industri yang tidak hanya berorientasi pada pasar domestik, tetapi juga kompetitif di pasar global,” kata Faisal.

Namun, CORE menekankan bahwa indikator keberhasilan KEK tidak boleh hanya terpaku pada nilai investasi, tetapi juga harus mencakup kualitas penyerapan tenaga kerja lokal dan transfer teknologi.

Kualitas Investasi dan Tenaga Kerja

Meski mendukung perluasan lahan, Faisal memberikan catatan penting bagi pemerintah. Ia mengingatkan agar tambahan investasi yang masuk harus berkorelasi positif dengan penciptaan lapangan kerja berkualitas bagi masyarakat dalam negeri.

Ia mendorong adanya indikator kontrol kualitas investasi yang lebih ketat. Selama ini, keberhasilan kawasan industri sering kali hanya diukur dari besaran nilai modal yang masuk.

“Mestinya dilihat juga kualitasnya, seberapa besar lapangan kerja yang diciptakan untuk tenaga kerja domestik dan bagaimana proses transfer of technology berjalan,” tegasnya.

Selain itu, Faisal menekankan pentingnya pelibatan pelaku ekonomi atau usaha lokal agar terintegrasi ke dalam ekosistem industri manufaktur dari investasi baru tersebut. Hal ini bertujuan agar dampak ekonomi dari perluasan KEK dapat dirasakan secara inklusif oleh masyarakat di sekitar kawasan. (Ant/H-3)



Source link

By Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *