
TURNAMEN sekelas Piala Dunia selalu menyajikan drama, tidak terkecuali dari balik layar monitor Video Assistant Referee (VAR). Dengan format baru 104 pertandingan, keputusan teknologi pengadil lapangan musim panas ini menjadi sorotan tajam. Apakah keputusan mereka sudah tepat, atau justru merugikan tim?
Berikut ulasan deretan insiden krusial VAR yang memicu perdebatan atas keputusan wasit:
1. Belgia vs Senegal: Penalti 7 Menit yang “Kejam” (Menit 118)

- Insiden: Youri Tielemans (Belgia) terjatuh setelah berbenturan dengan Lamine Camara di area penalti. Wasit awalnya mengabaikan laga.
- Keputusan Akhir: Setelah peninjauan layar (On-Field Review) yang memakan waktu hingga tujuh menit, wasit menghadiahi Belgia penalti.
- Analisis Ulasan: Keputusan ini terbilang sangat kejam bagi Senegal. Kontak kaki Camara ke betis Tielemans sebenarnya sangat minim (negligible). Namun, secara hukum sepak bola, ketika seorang bek melakukan tekel dari belakang tanpa mengenai bola sedikit pun, ia otomatis berada di zona bahaya. Begitu wasit disodori gambar rekaman diam oleh VAR, ia tidak punya pilihan lain selain menunjuk titik putih.
2. Inggris vs DR Kongo: Kerugian Besar The Three Lions (Menit 43)
- Insiden: Harry Kane berhasil mengecoh kiper DR Kongo, Lionel Mpasi, sebelum tampak diganjal hingga terjatuh. Wasit tidak menganggap itu pelanggaran.
- Keputusan Akhir: VAR memeriksa lewat tayangan lambat dan mengesahkan keputusan wasit. Tidak ada penalti.
- Analisis Ulasan: Inggris dinilai dirugikan. Dalam kecepatan tinggi, tanggung jawab penuh ada pada kiper untuk mengamankan bola. Mpasi gagal menyentuh bola dan justru meluncur menjatuhkan Kane. Kesalahan fatal tim VAR adalah menganalisis insiden ini dengan slow-motion, yang memicu persepsi bahwa Kane sengaja menjatuhkan diri (diving). Jika dilihat dengan kecepatan normal, ini adalah pelanggaran 100 persen.
3. Jerman vs Paraguay: Gol Jonathan Tah Dianulir (Menit 105)
- Insiden: Bek Jerman Jonathan Tah mencetak gol lewat sundulan, namun dianulir karena rekan setimnya, Waldemar Anton, dinilai melakukan blok ilegal kepada kiper Paraguay, Orlando Gill.
- Keputusan Akhir: Wasit membatalkan gol setelah melihat monitor tepi lapangan.
- Analisis Ulasan: Ini adalah salah satu kesalahan terburuk perangkat pertandingan. Anton berhak mempertahankan posisinya, dan justru kiper Paraguay yang sengaja memutar tubuhnya lalu menjatuhkan diri setelah merasa ada kontak fisik. Gol Jerman ini seharusnya sah.
4. Kolombia vs Portugal: Frustrasi Akibat Offside “Ujung Kuku” (Menit 90)
- Insiden: Davinson Sanchez mengira telah mencetak gol kemenangan di menit akhir, namun asisten wasit mengangkat bendera tanda offside.
- Keputusan Akhir: Teknologi semi-otomatis memastikan ujung sepatu kanan Sanchez melewati garis. Gol dianulir.
- Analisis Ulasan: Berbeda dengan Liga Inggris yang menerapkan garis tebal dengan toleransi 5 cm, FIFA menggunakan sistem absolut tanpa kompromi. Secara visual sepak bola, ini sangat menjengkelkan bagi fans, namun secara hukum tekstual, keputusan ini faktual dan benar.
5. Ekuador vs Jerman: “Permainan Berbahaya” Pavlovic yang Lolos dari Sanksi (Menit 3)
- Insiden: Sebelum Leroy Sané mencetak gol pembuka Jerman, gelandang Aleksander Pavlovic mengangkat kaki terlalu tinggi (high boot) hingga mengenai kepala Pedro Vite.
- Keputusan Akhir: Wasit mengesahkan gol, dan VAR memilih tidak mengintervensi.
- Analisis Ulasan: Keputusan buruk dari wasit utama dan ruang VAR. Kontak kaki tinggi ke area kepala lawan adalah definisi mutlak dari dangerous play (permainan berbahaya). Gol ini seharusnya dianulir melalui intervensi peninjauan ulang.
6. Swiss vs Qatar: Tamparan Memalukan untuk Teknologi FIFA (Menit 14)
- Insiden: Remo Freuler dilanggar kiper Qatar yang berbuah penalti untuk Swiss. Namun, Freuler diduga kuat sudah terjebak posisi offside terlebih dahulu dalam prosesnya.
- Keputusan Akhir: Penalti tetap diberikan karena sistem VAR manual menilai posisi pemain onside.
- Analisis Ulasan: Kejadian ini menjadi tamparan keras bagi FIFA. Teknologi canggih Semi-Automated Offside Technology (SAOT) yang dibanggakan justru mengalami mati lampu (technical outage) secara mendadak di momen krusial tersebut. Petugas VAR terpaksa menarik garis secara manual. FIFA merilis bukti grafis 4,5 jam setelah laga usai, meninggalkan kecurigaan dan keraguan besar di benak publik.
(Espn/P-4)

