Mentan Amran Ajak UGM Perkuat Hilirisasi Riset Pertanian demi Swasembada
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman(MI/Naufal Zuhdi)

Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman mengumpulkan civitas akademika Universitas Gadjah Mada (UGM) di kediamannya, Jakarta, Senin (29/6). Pertemuan strategis ini difokuskan untuk memperkuat kolaborasi dalam mempercepat inovasi dan hilirisasi sektor pertanian guna mengejar target swasembada pangan nasional.

Pertemuan tersebut dihadiri oleh jajaran lengkap UGM, mulai dari Rektor, wakil rektor, dekan, guru besar, peneliti, kepala pusat studi, hingga mahasiswa klaster agro. Amran menegaskan bahwa perguruan tinggi adalah mitra strategis pemerintah dalam melahirkan solusi atas tantangan pertanian.

“Menjadi dosen adalah pekerjaan yang paling enak karena bisa menciptakan lompatan eksponensial. Dari kampus lahir inovasi, teknologi, dan generasi yang menentukan masa depan bangsa,” ujar Amran.

Sinergi Triple Helix dan Hilirisasi Riset

Amran menekankan bahwa pembangunan pertanian tidak dapat dilakukan secara parsial oleh pemerintah saja. Ia mendorong penerapan pendekatan triple helix yang melibatkan sinergi kuat antara perguruan tinggi, pemerintah, dan dunia usaha.

Ia mengingatkan agar hasil riset tidak hanya berakhir sebagai publikasi ilmiah atau sekadar mengejar indeks Scopus, tetapi harus diimplementasikan di lapangan untuk meningkatkan kesejahteraan petani.

“Kita membutuhkan kampus, pemerintah, dan dunia usaha berjalan bersama. Hasil penelitian harus turun ke masyarakat dan memberikan manfaat nyata bagi petani. Lakukan penelitian yang dibutuhkan masyarakat,” tegasnya.

Fokus Komoditas Strategis dan Teknologi Modern

Dalam diskusi tersebut, Mentan mengajak UGM memperluas kolaborasi di berbagai subsektor, termasuk tanaman pangan, hortikultura, perkebunan, hingga peternakan. Beberapa poin fokus yang didorong antara lain:

  • Subsektor Tanaman Pangan & Hortikultura: Pengembangan kedelai dan bawang putih untuk menekan impor, termasuk penguatan riset di sentra produksi seperti Temanggung.
  • Subsektor Peternakan: Pengembangan teknologi semen beku dan persilangan sapi Belgian Blue dengan Brahman untuk menghasilkan ternak berproduktivitas tinggi.
  • Budidaya Modern: Penerapan model padi modern PM AAS melalui sistem tebar langsung dan teknologi drone yang diklaim mampu menekan biaya produksi hingga Rp15 juta per hektare dengan potensi pendapatan mencapai Rp50 juta.

Amran menambahkan bahwa visi besar Presiden untuk mewujudkan swasembada pangan, peningkatan produksi protein, serta pengembangan biodiesel dan bioetanol sangat bergantung pada kolaborasi erat ini.

Respons UGM

Rektor UGM, Ova Emilia, mengapresiasi inisiatif Mentan yang melibatkan seluruh unsur universitas dalam satu forum diskusi. Menurutnya, kehadiran peneliti hingga mahasiswa dalam satu meja merupakan langkah yang sangat lengkap untuk membahas masa depan pertanian.

“Kami siap mendukung apa yang telah disampaikan Bapak Menteri. Apa yang menjadi visi Kementerian Pertanian sejalan dengan semangat UGM untuk menghadirkan riset yang berdampak bagi masyarakat,” pungkas Ova. (E-3)



Source link

By Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *