
SETELAH keluar dari kepompong, kupu-kupu biasanya hanya terbang selama beberapa minggu sebelum akhirnya mati. Namun, hal ini berbeda dengan spesies kupu-kupu tropis dari genus Heliconius yang hidup di hutan hujan Amerika Selatan dan Tengah.
Kelompok kupu-kupu Heliconius berevolusi dengan mekanisme unik yang memungkinkan mereka menua jauh lebih lambat daripada kerabatnya, bahkan mampu bertahan hidup hingga hampir satu tahun.
Dalam penelitian yang diterbitkan di jurnal Nature Communications, para ilmuwan mengungkapkan bahwa temuan ini dapat membuka jalan baru untuk memahami proses penuaan yang sehat, yang nantinya mungkin bisa diterapkan pada hewan lain, termasuk manusia.
Perbedaan masa hidup antara kupu-kupu Heliconius dan kerabat dekat mereka memang sangat mencolok. Sebagai contoh, spesies Heliconius hewitsoni tercatat dapat hidup hingga 348 hari, sementara kerabat dekatnya, Dione juno, dilaporkan hanya hidup selama 14 hari. Perbedaan ini mencapai 25 kali lipat.
Pengaruh Diet Serbuk Sari
Salah satu hipotesis utama di balik umur panjang mereka terletak pada pola makan yang tidak biasa, yaitu mengonsumsi serbuk sari. Jessica Foley, penulis studi dari Tufts University tersebut, memaparkan bahwa serbuk sari mengandung lipid dan mengandung asam amino, yang merupakan bahan penyusun protein.
Berbeda dengan mayoritas kupu-kupu yang hanya mengonsumsi nektar, sebagian spesies seperti Heliconius hecale mendominasi masa hidup yang lebih panjang hingga 104 hari berkat kebiasaan uniknya memakan serbuk sari.
Untuk membuktikan pengaruh diet tersebut, peneliti membandingkannya dengan Dryas iulia, kerabat dekatnya yang bukan pemakan serbuk sari dan hanya mampu hidup sampai 68 hari.
Eksperimen terhadap 96 individu H. hecale dan 116 individu D. iulia menunjukkan bahwa hilangnya asupan serbuk sari mempercepat penurunan massa tubuh H. hecale.
Meski begitu, H. hecale yang kekurangan serbuk sari tetap hidup lebih lama selama 7 minggu dibandingkan D. iulia yang hanya 4 minggu, yang membuktikan bahwa diet bukan satu-satunya faktor umur panjang mereka. Di sisi lain, pemberian serbuk sari kepada D. iulia sama sekali tidak memperpanjang masa hidupnya.
Selain mengukur masa hidup, tim peneliti merancang tes untuk mengukur penurunan fungsi otot akibat penuaan melalui kekuatan cengkeraman.
Hasilnya, kekuatan cengkeraman D. iulia melemah seiring bertambahnya usia, sedangkan H. hecale tidak mengalami pelemahan, bahkan di sepanjang hidup mereka yang lebih lama. Walau begitu, kelompok H. hecale yang kekurangan serbuk sari tetap lebih lemah daripada kelompok yang diberi makan serbuk sari.
Implikasi bagi Biologi Penuaan Manusia
Meskipun para ilmuwan belum mengetahui secara pasti bagaimana kupu-kupu ini dapat hidup begitu lama, temuan studi ini memiliki implikasi yang sangat luas. Kupu-kupu dari genus Heliconius dapat digunakan untuk mempelajari peningkatan umur panjang, dan wawasan tersebut berpotensi diterapkan pada manusia.
Melalui pemahaman mendalam tentang model genetik kupu-kupu tropis ini, para ilmuwan berharap bisa menemukan intervensi biomedis baru yang dapat membantu manusia menua dengan lebih sehat dan memperlambat degenerasi fisik di masa depan.
(Smithsonian Magazine/H-3)
