Kasus DBD di Tasikmalaya Meningkat, 225 Warga Terjangkit dan 3 Meninggal Dunia
Pengasapan antisipasi wabah DBD.(Dok. Antara)

KASUS demam berdarah dengue (DBD) di wilayah Tasikmalaya, Jawa Barat, menunjukkan tren peningkatan yang signifikan sepanjang semester pertama tahun 2026. Berdasarkan data yang dihimpun dari Kabupaten dan Kota Tasikmalaya, total warga yang terjangkit penyakit akibat gigitan nyamuk Aedes aegypti tersebut mencapai 225 orang, dengan tiga di antaranya dilaporkan meninggal dunia.

Di Kabupaten Tasikmalaya, Dinas Kesehatan dan Pengendalian Penduduk mencatat sebanyak 132 orang positif DBD dalam periode Januari hingga Mei 2026. Meski terjadi peningkatan kasus di tengah musim kemarau, otoritas kesehatan setempat memastikan tidak ada korban jiwa di wilayah kabupaten.

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan Kabupaten Tasikmalaya, Otong Kusmana, mengungkapkan bahwa lonjakan kasus ini dipicu oleh sikap abai masyarakat terhadap kebersihan lingkungan. Saat ini, sebagian pasien masih menjalani perawatan intensif di rumah sakit, sementara lainnya telah berangsur pulih.

“Kasus DBD di Kabupaten Tasikmalaya ada 132 orang. Kami terus berupaya melakukan edukasi agar masyarakat selalu membersihkan lingkungan. Meskipun tidak ada angka kematian, kenaikan kasus ini harus diwaspadai. Warga diingatkan untuk rutin melakukan 3M (menguras, menutup, mengubur) dan pemberantasan sarang nyamuk (PSN) meski di tengah musim kemarau,” ujar Otong, Minggu (28/6/2026).

Kondisi di Kota Tasikmalaya

Kondisi berbeda terjadi di wilayah Kota Tasikmalaya. Sekretaris Dinas Kesehatan Kota Tasikmalaya, Suryaningsih, melaporkan adanya 96 kasus DBD yang mengakibatkan tiga orang meninggal dunia. Para pasien yang terjangkit, mulai dari usia anak-anak hingga orang tua, menjalani perawatan di RSUD Dr. Soekardjo, sejumlah rumah sakit swasta, dan puskesmas.

Data sebaran kasus DBD di Kota Tasikmalaya sepanjang 2026 adalah sebagai berikut:

  • Januari: 27 kasus
  • Februari: 10 kasus
  • Maret: 21 kasus
  • April: 21 kasus
  • Mei: 3 kasus
  • Juni: Masih dalam proses penghitungan

Suryaningsih menambahkan, meskipun saat ini memasuki musim kemarau panjang, potensi kenaikan kasus tetap ada. Hal ini disebabkan masih banyaknya jentik nyamuk yang ditemukan di dalam area rumah warga.

“Kami selalu memberikan edukasi mengenai 3M, PSN, serta penerapan Pola Hidup Bersih dan Sehat (PHBS). Peningkatan jentik nyamuk masih banyak ditemukan di dalam rumah, sehingga masyarakat harus selalu waspada,” pungkasnya. (H-3)



Source link

By Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *