Tersisa 10 Ekor di Dunia, Kerangka Vaquita Kini Abadi dalam Model 3D
Kerangka lengkap spesimen vaquita betina yang sangat langka, dikumpulkan pada tahun 1966.(Jamie Knaub, Florida Atlantic University)

LUMBA-lumba vaquita (Phocoena sinus) kini berada di ambang kepunahan massal. Sebagai mamalia laut paling langka dan terancam punah di dunia, populasi hewan endemik Teluk California Utara, Meksiko, ini terus merosot tajam. Jika pada tahun 1997 jumlah mereka masih berkisar di angka 600 ekor, kini World Wildlife Fund (WWF) memperkirakan hanya tersisa antara tujuh hingga sepuluh ekor vaquita saja di alam liar.

Menghadapi ancaman kepunahan yang sudah di depan mata, sekelompok ilmuwan melakukan terobosan besar demi menyelamatkan data anatomi berharga dari hewan ini. Mereka berhasil menciptakan rekonstruksi digital tiga dimensi (3D) dari salah satu dari sedikit kerangka lengkap vaquita yang ada di dunia.

Proyek pelestarian digital ini dipimpin oleh Florida Atlantic University (FAU) bekerja sama dengan San Diego Natural History Museum, SeaWorld California, dan NOAA Fisheries. Objek penelitian utama mereka adalah kerangka vaquita betina utuh yang ditemukan pada tahun 1966 dan disimpan di San Diego Natural History Museum selama hampir 60 tahun.

Untuk memetakan setiap detail tanpa merusak spesimen fisik yang rapuh, para peneliti menggabungkan teknologi pemindaian CT rumah sakit, pencitraan mikro-CT beresolusi ultra-tinggi yang mampu menangkap struktur lebih kecil dari sehelai rambut manusia, serta fotografi digital. Ribuan potongan gambar hasil pemindaian tersebut kemudian dirangkai menggunakan perangkat lunak khusus menjadi model digital 3D yang sangat interaktif.

“Proyek ini memerlukan alur kerja pencitraan yang sangat rumit untuk menangkap kerangka vaquita pada berbagai skala, mulai dari keseluruhan struktur tulang hingga detail internal mikroskopis,” kata Marianne E. Porter, penulis senior sekaligus profesor di Departemen Ilmu Biologi FAU. “Dengan mengintegrasikan CT medis, mikro-CT, dan fotografi resolusi tinggi, kami dapat merekonstruksi morfologi eksternal dan arsitektur internal setiap tulang dengan cara yang mempertahankan ketepatan anatomi sekaligus tetap interaktif sepenuhnya dalam bentuk digital.”

Melalui pemindaian ini, ilmuwan di seluruh dunia kini dapat memutar, memperbesar, dan mempelajari anatomi vaquita secara virtual tanpa perlu menyentuh tulang aslinya. Seluruh data hasil pemindaian ini telah diunggah dan dapat diakses secara gratis oleh publik melalui repositori daring MorphoSource.

Langkah keterbukaan akses ini diharapkan mampu mendorong riset global, evolusi, sekaligus meningkatkan kepedulian masyarakat terhadap krisis biodiversitas laut. Pasalnya, kepunahan vaquita utamanya dipicu oleh aktivitas manusia, yaitu terjerat jaring insang (gillnets) yang dipasang secara ilegal oleh pemburu ikan totoaba.

“Kami ingin memengaruhi konservasi dan kesadaran terhadap vaquita, tetapi intinya bermuara pada kumpulan data akses terbuka untuk keanekaragaman hayati,” jelas Jamie Knaub, penulis utama studi tersebut sekaligus mahasiswa doktoral di FAU. “Ada seluruh jaringan [informasi] yang dapat dibagikan untuk mempelajari keanekaragaman hayati, konservasi, evolusi – ada begitu banyak hal yang bisa dihasilkan dari satu kumpulan data.”

Selain untuk kebutuhan riset, model digital 3D ini juga dapat dikirim ke printer 3D untuk memproduksi replika fisik yang akurat. Replika tersebut nantinya akan didistribusikan ke museum-museum dan ruang kelas sebagai alat edukasi publik mengenai mamalia laut terkecil di bumi ini, memastikan pengetahuan tentang mereka tidak ikut lenyap meskipun spesiesnya kelak punah di alam liar. (The Guardian/Earth/Z-2)



Source link

By Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *