75 Tahun Kiprah Hidrografi Indonesia
(Dok. Pribadi)

PADA 21 Juni, seluruh dunia memperingat Hari Hidrografi Dunia. Peringatan global itu ditetapkan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat dunia akan pentingnya hidrografi (geodesi kelautan/ilmu tentang pemetaan laut dan pesisir) dalam mendukung keselamatan navigasi, pembangunan ekonomi, serta perlindungan lingkungan laut.

Data hidrografi mengandung informasi kedalaman, topografi dasar laut, kondisi pasang surut, arus, gelombang, kadar garam, serta informasi dasar lautnya. Data itu menjadi fondasi utama untuk memetakan alur pelayaran bernavigasi yang aman dan mengidentifikasi potensi kekayaan bawah laut.

Dapat dibayangkan jika tidak ada data hidrografi, tidak ada kapal berlayar dengan aman, pelabuhan tidak dapat dibangun, tidak ada infrastruktur pantai yang dapat dikembangkan, perencanaan lingkungan laut pun tidak dapat diterapkan, tidak ada pantai atau pulau yang dapat dipertahankan, tidak ada usaha penyelamatan laut, tidak ada perairan yang bisa dikembangkan. Bahkan, tidak ada batas maritim negara dan penegakan hukumnya.

 

KOMITMEN INDONESIA

Indonesia bergabung dengan induk organisasi hidrografi dunia International Hydrography Organization (IHO) pada 18 Oktober 1951 sebagai anggota ke-64. Itu menandai komitmen Indonesia akan pentingnya hidrografi dalam menjaga kedaulatan maritimnya, mencerminkan tanggung jawab dalam menjaga perairannya sebagai urat nadi perdagangan, serta komitmen Indonesia dalam konservasi keanekaragaman hayati laut dunia.

Hal itu selaras dengan komitmen global dalam Konvensi Hukum Laut Internasional 1982, yakni laut harus bebas dari ancaman kekerasan, bebas dari ancaman navigasi, bebas dari ancaman terhadap kerusakan sumber daya laut, dan bebas dari ancaman pelanggaran hukum.

Sayangnya, Indonesia masih memiliki beberapa kendala keterbatasan data, seperti laut yang belum terpetakan dengan baik dihadapkan pada kebutuhan pembangunan yang ada.

Kajian Purba et al (2025) membuktikan adanya kesenjangan data penting yang belum terdokumentasi dengan baik, terutama laut dalam yang kurang terwakili serta wilayah kepulauan terpencil, meskipun penelitian laut sudah lebih dari dua abad.

Meningkatnya penelitian kelautan secara dramatis sejak era 1970-an mencerminkan pengakuan dunia yang semakin besar akan peran penting laut Indonesia, baik yang menjadikannya jalur utama sea line of communication (SLOC) dan sea line of trade (SLOT) dengan 40% total pelayaran dan perdagangan komersial global bergantung pada perairan Nusantara.

Laut Indonesia juga merupakan pusat keanekaragaman hayati laut dan pilar penentu stabilitas iklim global. Melalui Segitiga Karang Dunia, menyimpan jutaan spesies dan ekosistem karbon biru yang menyerap serta menyimpan emisi karbon dalam jumlah masif.

 

TINGKATKAN CAKUPAN DATA

Terlepas dari kemajuan itu, penting kiranya untuk meningkatkan cakupan data, khususnya di daerah kepulauan terpencil dan wilayah laut dalam. Penemuan terbaru menunjukkan adanya keterbatasan data yang substansial terutama laut di kedalaman lebih 200 meter, menimbulkan kekhawatiran mengenai pemahaman kita tentang proses kelautan yang kritis di lapisan yang lebih dalam ini serta cara memanfaatkannya.

Penting diingat, bahwa sekitar 68% hingga 70% dari total perairan Nusantara merupakan laut dalam, wilayah maritim yang masih misteri yang belum terjamah. Banyak fenomena penting, seperti fluktuasi suhu, siklus nutrisi, dan dinamika keanekaragaman hayati laut, terjadi pada kedalaman itu. Cakupan data yang terbatas di zona-zona kritis itu berarti pemahaman kita tentang kondisi dan fungsi ekosistem laut secara keseluruhan masih belum memadai.

Melalui penguatan kolaborasi regional dan global, pemanfaatan teknologi pemantauan canggih akan memastikan terjaminnya kapal berlayar, perlindungan wilayah laut, serta pemahaman komprehensif tentang interaksi iklim lautan.

Sebagai negara kepulauan, perairan Indonesia menyerap dan menyimpan panas dari matahari, mengatur siklus cuaca dunia, dan menyimpan sekitar 17% cadangan karbon biru global melalui ekosistem mangrove dan lamun.

Melalui Pusat Hidrooseanografi Angkatan Laut sebagai wakil Indonesia di IHO, aktif berkontribusi dalam berbagai kegiatan dan inisiatif yang berkaitan dengan hidrografi dan oseanografi. Lembaga itu berperan penting dalam pengumpulan data, pemetaan laut, guna mendukung kapal bernavigasi yang aman dan perlindungan lingkungan laut.

Badan itu membawa aspirasi kepentingan Indonesia sebagai negara yang memiliki aset maritim yang besar, yang merupakan fondasi dalam mengembangkan kebijakan pemerintah melaksanakan pembangunan yang berkelanjutan.



Source link

By Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *