
PASUKAN Rusia dilaporkan telah menyusup ke kota strategis Kostyantynivka di Ukraina timur dan kini tengah berupaya keras untuk mengepungnya. Kepada BBC, sejumlah tentara Ukraina mengungkapkan seluruh wilayah kota tersebut saat ini secara efektif telah menjadi “zona abu-abu” yang tidak lagi dikendalikan secara penuh oleh pihak mana pun.
Kostyantynivka merupakan pintu gerbang penting menuju wilayah Donbas. Jika kota ini jatuh, pasukan Rusia akan dapat merangsek maju menuju benteng terakhir Ukraina di timur, yaitu kota Kramatorsk dan Sloviansk, sekaligus semakin dekat untuk menguasai Donbas sepenuhnya.
Rusia dilaporkan menerapkan strategi serupa seperti saat merebut Pokrovsk, yaitu bergerak maju melalui sayap untuk memutus jalur pasokan logistik. Di dalam kota, pertempuran berlangsung sengit dari bangunan ke bangunan.
Klaim Rusia yang menyebut pasukannya maju pesat dan telah mengepung unit militer Ukraina dibantah oleh Kyiv. Brigadir Jenderal Oleksandr Bakulin menegaskan situasi masih terkendali. Kendati demikian, ia mengakui masih ada sekitar 130 tentara Rusia di dalam kota.
Seorang pilot drone Ukraina yang bertugas di area tersebut memaparkan sulitnya situasi di lapangan. “Mereka masuk ke area di belakang punggung kami dan dalam kondisi perkotaan, sangat sulit untuk mendesak mereka keluar,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa situasi saat ini telah menjadi “krisis besar”. Kurangnya sumber daya membuat kru drone Ukraina kelelahan. Akibatnya, pilot drone Rusia dapat beroperasi lebih bebas untuk mendeteksi posisi pertahanan Ukraina.
“Karena kami mencurahkan sedikit waktu untuk [mencari dan menargetkan] pilot musuh, mereka dapat beroperasi dengan bebas, mendeteksi posisi kami, dan kami terpaksa mundur. Beginilah cara garis depan bergerak,” jelasnya.
Masalah diperparah oleh minimnya bala bantuan. Seorang prajurit Ukraina lainnya mengeluhkan bahwa komandan mereka sering kali enggan melaporkan kehilangan posisi karena takut diperintahkan untuk melakukan serangan balik yang mustahil.
“Kami tidak punya cukup orang untuk mempertahankan apa yang masih kami kendalikan, apalagi mengatur serangan,” ungkapnya.
Proyek pemantauan garis depan Ukraina, DeepState, melaporkan jatuhnya Kostyantynivka kini “hanya masalah waktu”. Jika kota ini jatuh, operasi logistik militer Ukraina akan menjadi jauh lebih rumit dan wilayah Kramatorsk akan menjadi sangat berbahaya untuk dipertahankan.
“Kami masih bertempur di dalam kota. Namun, kecuali kami mengubah pendekatan dan mulai menghancurkan logistik serta menargetkan pilot mereka, mereka akan terus maju,” pungkas sang pilot drone. (BBC/Z-2)
