
GELOMBANG budaya Korea atau K-Culture kian kokoh mencengkeram minat pelancong asal Indonesia. Namun, tren terbaru menunjukkan pergeseran menarik: wisatawan kini tidak lagi hanya terpaku pada gemerlap Kota Seoul, melainkan mulai merambah ke wilayah-wilayah yang menawarkan pengalaman lebih autentik dan mendalam.
Berdasarkan laporan terbaru Airbnb bertajuk “Korea Calling: How K-Culture Is Driving a New Generation of Travelers into Korea”, sebanyak 97% wisatawan Indonesia mengakui bahwa budaya Korea menjadi faktor utama yang memicu keinginan mereka untuk berkunjung ke ‘Negeri Ginseng’ tersebut. Fenomena ini mencerminkan daya tarik budaya yang melintasi batas generasi.
Amanpreet Bajaj, Country Head Airbnb untuk Asia Tenggara & India, menjelaskan bahwa saat ini terjadi perubahan pola perjalanan. Wisatawan Indonesia mulai mencari makna lebih dalam melalui kuliner lokal, warisan budaya, dan daerah-daerah tersembunyi yang belum banyak terjamah turis massal.
“Ini menjadi kesempatan untuk memastikan minat tersebut dapat diterjemahkan menjadi perjalanan yang lebih bermakna, dengan memperluas akses terhadap akomodasi dan pengalaman lokal di luar destinasi yang selama ini paling banyak dikunjungi,” ujar Amanpreet.
Eksplorasi di Luar Seoul: Busan dan Jeju Jadi Primadona
Data menunjukkan antusiasme yang luar biasa untuk mengeksplorasi wilayah di luar ibu kota. Sebanyak 98% responden menyatakan ketertarikan mengunjungi kota lain jika tersedia akomodasi yang memadai. Busan memimpin daftar destinasi impian, disusul oleh keindahan alam Pulau Jeju.
| Destinasi Favorit Luar Seoul | Persentase Minat |
|---|---|
| Busan dan sekitarnya | 81% |
| Pulau Jeju | 58% |
| Incheon dan Gyeonggi | 47% |
| Daegu | 39% |
Faktor pendorong utama kunjungan ke wilayah-wilayah ini meliputi keindahan alam (66%), kuliner khas daerah (56%), tradisi lokal (41%), hingga napak tilas lokasi syuting drama Korea (40%).
Peran Penting Homestay dan Pengalaman Budaya
Akomodasi kini bukan sekadar tempat beristirahat, melainkan bagian dari pengalaman budaya. Sebanyak 70% wisatawan menyebut ketersediaan homestay sebagai faktor krusial dalam pengambilan keputusan. Menginap di hunian lokal dinilai lebih praktis untuk durasi perjalanan panjang dan memberikan kedekatan emosional dengan kehidupan masyarakat setempat dibandingkan hotel konvensional.
Menariknya, terdapat perbedaan preferensi aktivitas antar-generasi, meski kuliner tetap menjadi pemersatu utama.
| Faktor Pendorong | Gen Z & Milenial | Generasi Dewasa |
|---|---|---|
| K-Pop | 64% | 23% |
| Warisan Budaya | 46% | 67% |
| Kuliner (Universal) | 65% | |
Profil Perjalanan Wisatawan Indonesia
Secara rata-rata, wisatawan Indonesia menghabiskan waktu 5,5 malam di Korea Selatan dengan estimasi pengeluaran mencapai lebih dari Rp30 juta per orang (di luar tiket pesawat). Mayoritas dari mereka lebih suka bepergian dalam kelompok, baik bersama pasangan (60%), keluarga (42%), maupun teman (22%).
Dengan 89% responden berencana kembali mengunjungi Korea Selatan dalam lima tahun ke depan, pengembangan akses akomodasi di luar kota besar menjadi kunci untuk mendukung pariwisata yang lebih berkelanjutan dan autentik di masa depan. (Z-1)
