Ketika Ilmu Menjadi Indikator:  Dosen di Tengah Biaya Publikasi dan Ambisi Pemeringkatan
(MI/Seno)

ADA satu paradoks yang semakin terasa dalam kehidupan akademik hari ini. Dosen diminta meneliti, menuliskannya, dan memublikasikan dalam bentuk karya ilmiah, sekaligus sebagai bentuk menjaga reputasi perguruan tinggi.

Namun, ketika ilmu yang dihasilkan hendak masuk ke ruang publikasi bereputasi, dosen sering kali harus berhadapan dengan biaya yang tidak kecil. Ilmu yang lahir dari kerja panjang, dari riset, dari bacaan, dari percakapan dengan mahasiswa dan masyarakat pada akhirnya harus melewati gerbang ekonomi agar dapat diakui.

Paradoks itu menjadi lebih miris ketika perbincangan tentang kesejahteraan dosen kembali mengemuka. Banyak dosen, terutama dosen muda, dosen tetap non-ASN, dan dosen di perguruan tinggi dengan sumber daya terbatas, menghadapi kenyataan bahwa penghargaan material terhadap kerja akademik tidak selalu sebanding dengan tuntutan yang dibebankan kepada mereka.

Di satu sisi, dosen dituntut memenuhi standar akademik yang semakin tinggi. Di sisi lain, dukungan finansial untuk memenuhi standar itu kerap belum memadai.

Dalam sistem jabatan fungsional, publikasi menjadi salah satu syarat penting. Untuk mencapai lektor kepala, dosen dituntut memiliki publikasi pada jurnal nasional bereputasi. Dalam praktiknya, sebagian jurnal bereputasi nasional mengenakan biaya publikasi yang dapat mencapai jutaan rupiah.

Untuk menuju jabatan fungsional guru besar, tuntutannya lebih tinggi lagi, publikasi internasional bereputasi, sering kali pada jurnal terindeks Q1 atau Q2. Pada titik itu, biaya publikasi masuk hitungan dolar. Tidak berlebihan bila seorang dosen merasa gentar dan mundur teratur ketika menemukan jurnal Q1 dengan article processing charge (APC) sebesar US$4.000, yang jika dirupiahkan dapat mencapai puluhan juta rupiah.

Angka itu bukan sekadar angka. Ia tanda adanya persoalan struktural dalam ekonomi pengetahuan. Negara meminta dosen masuk ke arena reputasi akademik global, tetapi tidak selalu menyediakan infrastruktur pembiayaan yang setara dengan tuntutan tersebut. Akibatnya, dosen tidak hanya dituntut untuk berpikir, menulis, dan meneliti, tetapi juga harus membiayai sendiri jalan agar pikirannya memperoleh pengakuan.

 

KETIKA KAMPUS MENGEJAR ANGKA

Persoalan itu tidak berhenti pada kebijakan jabatan fungsional. Perguruan tinggi sendiri juga semakin kuat terdorong oleh logika pemeringkatan. Kampus berlomba meningkatkan akreditasi, memenuhi indikator kinerja, menaikkan reputasi nasional, dan memperbaiki posisi dalam pemeringkatan internasional. Semua itu tentu penting. Tidak ada yang salah dengan keinginan perguruan tinggi untuk bermutu, dikenal, dan diakui.

Namun, persoalan muncul ketika ambisi pemeringkatan itu diterjemahkan menjadi target luaran penelitian yang tinggi, sementara biaya, waktu, tenaga, dan dukungan publikasi yang diberikan kepada dosen tidak selalu seimbang.

Di situlah ilmu mulai berubah wajah, tidak lagi hanya hadir sebagai ikhtiar mencari kebenaran, menjawab persoalan masyarakat, atau memperluas cakrawala pengetahuan. Ilmu berubah menjadi indikator. Artikel ilmiah menjadi bukti kinerja. Jurnal bereputasi menjadi alat pemeringkatan. Sitasi menjadi angka reputasi. Publikasi menjadi mata uang simbolis dalam kompetisi antarprogram studi, antarfakultas, antaruniversitas, bahkan antarnegara.

Dosen berada tepat di tengah pusaran itu, bekerja bukan hanya untuk ilmu, melainkan juga untuk reputasi institusi. Dosen menulis bukan hanya agar gagasannya diuji dan dibaca, tetapi juga agar kampus memiliki luaran, program studi memiliki bukti kinerja, fakultas memiliki capaian indeks kinerja, dan universitas memiliki bahan untuk pemeringkatan. Dalam situasi seperti itu, kerja akademik yang semestinya tumbuh dalam suasana berpikir yang sehat dapat berubah menjadi kerja administratif yang penuh tekanan.

Dosen tidak sedang menolak publikasi. Publikasi ilmiah tetap penting. Tanpa publikasi, pengetahuan sulit diuji, dibagikan, dan dikembangkan. Dosen juga tidak sedang menolak pemeringkatan sepenuhnya. Pemeringkatan dapat menjadi alat evaluasi, peta daya saing, dan dorongan untuk meningkatkan mutu institusi.

Namun, pemeringkatan menjadi bermasalah ketika lebih mementingkan angka daripada ekosistem, lebih mengejar luaran daripada proses, dan lebih menuntut produktivitas daripada merawat kondisi kerja dosen.

Yang membuat banyak dosen merasa lelah bukan semata-mata tuntutan mereka diminta menulis atau memublikasikan karya ilmiah. Yang membuat luka ialah ketika semua tuntutan itu datang bersama dengan biaya yang tidak kecil, kesejahteraan yang belum layak, dan tekanan institusional yang terus meningkat.

Dosen diminta menjaga mutu pendidikan tinggi, tetapi sering harus melakukannya dengan tenaga yang nyaris habis, dana yang terbatas, dan kecemasan yang tidak selalu terlihat.

 

STANDAR TANPA KEADILAN

Masalahnya bukan pada standar mutu, melainkan pada keadilan di balik standar. Jika perguruan tinggi meminta dosen menghasilkan publikasi nasional bereputasi atau internasional bereputasi, dukungan yang diberikan juga harus sebanding. Riset membutuhkan dana. Publikasi membutuhkan biaya.

Penulisan artikel membutuhkan waktu. Revisi membutuhkan pendampingan. Proses menuju jurnal bereputasi membutuhkan jejaring, literasi akademik, dan ketahanan mental. Semua itu tidak bisa hanya dibebankan kepada individu dosen.

Lebih ironis lagi, banyak luaran penelitian dipaksakan dengan skema pembiayaan yang tidak realistis. Dana penelitian sering kali tidak cukup untuk membiayai keseluruhan proses riset, apalagi sampai publikasi.

Namun, pada akhir program, luaran tetap harus memenuhi target, jurnal nasional bereputasi, jurnal internasional, prosiding terindeks, atau bentuk keluaran lain yang dapat dihitung dalam sistem kinerja institusi. Di situlah terjadi ketimpangan yang jarang dibicarakan, targetnya tinggi, tetapi daya dukungnya rendah.

Akibatnya, dosen sering bekerja dalam tekanan berlapis. Ia harus mengajar, membimbing, meneliti, mengurus administrasi, mengikuti rapat, memenuhi laporan, mengejar luaran, sekaligus memikirkan biaya publikasi. Dalam kondisi kesejahteraan yang belum sepenuhnya layak, tuntutan itu dapat menjadi beban ekonomi dan psikologis. Dosen diminta produktif, tetapi produktivitas itu sering dibangun di atas kelelahan yang tidak terlihat.

Perlu berhati-hati agar universitas tidak berubah menjadi pabrik indikator. Perguruan tinggi memang membutuhkan reputasi, tetapi reputasi yang sehat seharusnya lahir dari ekosistem akademik yang adil. Bukan dari tekanan terus-menerus kepada dosen untuk menghasilkan luaran, sementara kondisi kerja, kesejahteraan, dan dukungan risetnya tidak diperbaiki secara serius.

 

MERAWAT ILMU, MERAWAT MANUSIANYA

Yang perlu dikritisi bukan semangat untuk meningkatkan mutu, melainkan cara mendefinisikan mutu. Mutu akademik tidak cukup diukur dari jumlah artikel, indeksasi jurnal, sitasi, atau posisi pemeringkatan.

Mutu harus dilihat dari bagaimana perguruan tinggi memperlakukan dosennya, bagaimana riset didukung, bagaimana mahasiswa dibimbing, bagaimana pengetahuan memberi manfaat bagi masyarakat, dan bagaimana kerja intelektual dihargai secara manusiawi.

Bila negara dan perguruan tinggi meminta dosen menghasilkan publikasi bereputasi, negara dan perguruan tinggi juga perlu memastikan bahwa jalan menuju publikasi itu tidak menjadi beban individual yang menyulitkan dosen. Jangan sampai jabatan fungsional dan pemeringkatan menjadi medan seleksi yang tampak akademik, tetapi diam-diam juga menjadi seleksi finansial. Jangan sampai yang diukur seolah-olah mutu ilmiah, padahal yang ikut menentukan ialah kemampuan membayar.

Pada akhirnya, persoalan itu bukan sekadar soal dosen, APC, atau pemeringkatan. Itu ialah persoalan tentang masa depan pengetahuan. Apakah kita ingin membangun ekosistem akademik yang sungguh-sungguh menghargai ilmu, atau sekadar sistem yang pandai menghitung luaran? Apakah kita ingin perguruan tinggi menjadi ruang pertumbuhan intelektual, atau hanya mesin produksi indikator?

Publikasi memang penting. Pemeringkatan juga berguna. Namun, ilmu tidak boleh tumbuh di atas kelelahan dan ketidakadilan. Ketika dosen harus membayar mahal untuk menyumbangkan ilmu, sementara kesejahteraan dan dukungan akademiknya belum memadai, sudah saatnya kita bertanya ulang, sistem akademik seperti apa yang sebenarnya sedang kita bangun?

Barangkali yang paling mendesak bukanlah menurunkan standar, melainkan memperbaiki keadilan di balik standar itu. Mutu akademik tidak akan lahir hanya dari tuntutan. Mutu akademik lahir dari ekosistem yang menghargai kerja intelektual, menopang dosen secara layak, dan menempatkan ilmu bukan sekadar sebagai indikator, melainkan juga sebagai tanggung jawab publik.

Pada akhirnya, suara dosen hari ini bukanlah suara yang menolak perubahan. Suara dosen ialah suara yang meminta agar perubahan tidak dibangun di atas kelelahan manusia. Publikasi, akreditasi, dan pemeringkatan boleh menjadi bagian dari upaya memperbaiki pendidikan tinggi.

Namun, semua itu tidak boleh membuat lupa bahwa di balik setiap artikel, setiap laporan penelitian, setiap angka kinerja, ada dosen yang berpikir, mengajar, membimbing, menulis, merevisi, membayar, dan tetap berusaha menjaga martabat ilmu.

Bila ilmu hanya dihitung sebagai indikator, sementara manusia yang menjaganya diabaikan, yang sedang rapuh bukan hanya dosen, melainkan juga masa depan pendidikan tinggi itu sendiri.

 



Source link

By Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *