Hillary Clinton Ungkap Obsesi Netanyahu Serang Iran dan Normalisasi Saudi
(Youtube Hillary Clinton)

MANTAN Menteri Luar Negeri Amerika Serikat, Hillary Clinton, mengungkapkan pandangan tajam mengenai gaya kepemimpinan Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu. Dalam wawancara terbaru, Clinton menyebut Netanyahu memiliki obsesi jangka panjang untuk menyerang Iran dan menormalisasi hubungan dengan Arab Saudi.

Berbicara kepada Editor The New Yorker, David Remnick, dalam acara The New Yorker Radio Hour di New York City, Clinton mengenang masa jabatannya sebagai Menlu (2009-2012). Ia menggambarkan Netanyahu sebagai sosok yang sangat gigih dan terus-menerus mendesak AS untuk mendukung serangan militer terhadap Teheran.

Obsesi terhadap Iran

Clinton mengungkapkan bahwa selama periode 2009 hingga 2012, isu penyerangan ke Iran menjadi topik yang berulang dalam komunikasinya dengan pemerintah Israel. Ia secara khusus mengingat percakapan telepon yang panjang dengan Netanyahu dan Menteri Pertahanan Israel saat itu, Ehud Barak.

“Mereka akan mengatakan hal-hal seperti, ‘Pesawat kami sudah berada di landasan pacu.’ Dan saya akan menjawab, ‘Ya, semoga berhasil. Maksud saya, oke, tetapi mengapa Anda melakukan ini?'” ujar Clinton menirukan percakapan tersebut.

Ketika Remnick menanggapi bahwa Israel tampak sedang ‘bermain-main’ dengan AS sebagai sekutu yang memberikan bantuan besar, Clinton menjawab dengan tegas, “Selalu. Tentu saja.”

Kutipan Utama:

“Bibi (Netanyahu) telah terobsesi, selama saya berurusan dengannya, dengan dua hal: Iran dan keinginannya untuk menormalisasi hubungan dengan Arab Saudi.” — Hillary Clinton.

Hubungan dengan Donald Trump dan Joe Biden

Clinton menambahkan bahwa pendekatan yang sama juga terlihat dalam hubungan Netanyahu dengan mantan Presiden Donald Trump. Ia menilai Netanyahu berhasil mendorong Trump ke dalam konflik dengan Iran yang menurutnya berakhir dengan kekalahan strategis bagi Amerika Serikat.

“Amerika Serikat keluar dengan posisi lebih lemah, sementara Iran keluar dengan posisi yang lebih kuat,” kata Clinton merujuk pada dinamika konflik baru-baru ini di bawah pemerintahan Trump.

Selain mengkritik Netanyahu dan Trump, Clinton juga memberikan komentar jujur mengenai Joe Biden. Ia menyebut keputusan Biden untuk mencalonkan diri kembali pada pemilu 2024 sebagai ‘kesalahan besar’ bagi warisan politiknya dan bagi negara.

Masa Depan Politik Israel

Terkait situasi di Timur Tengah, Clinton memandang kesepakatan atau nota kesepahaman terbaru antara AS dan Iran sebagai kekalahan nyata bagi Netanyahu. Ia menilai strategi Netanyahu yang mengandalkan konflik untuk mempertahankan kekuasaan mungkin akan segera mencapai titik jenuh.

“Saya pikir kesepakatan Iran ini mungkin menjadi sedotan terakhir yang mematahkan hal itu, dan menciptakan peluang bagi kepergiannya dalam pemilihan mendatang,” pungkas Clinton. (I-2)



Source link

By Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *