Kejutan

ByRedaksi

Jun 18, 2026


Kejutan
Suryopratomo Dewan Redaksi Media Group(MI/Seno)

SALAH satu kekuatan dan daya tarik sepak bola ialah kejutannya. Sampai sebelum wasit meniupkan peluit panjang, tidak pernah ada yang bisa diprediksi. Segala sesuatu bisa terjadi di lapangan hijau.

Seminggu setelah Piala Dunia 2026 bergulir, begitu banyak kejutan yang terjadi. Siapa yang menyangka Korea Selatan bisa mengalahkan Ceko 2-1. Bagaimana Jepang bisa bangkit dari ketertinggalan untuk memaksa Belanda bermain imbang 2-2.

Kita juga melihat Arab Saudi yang mampu memaksa juara dunia dua kali, Uruguai, bermain imbang 1-1. Terakhir Kongo, negara yang sedang dilanda wabah Ebola, membuat Cristiano Ronaldo dan kawan-kawan dari Portugal harus puas dengan hasil imbang 1-1.

Namun, cerita yang tidak habis-habisnya dibahas ialah ketika Tanjung Verde menahan juara dunia Spanyol 0-0. Bagaimana negara kepulauan kecil di tengah Samudra Atlantik, sebelah barat Senegal, mampu menahan gempuran negara raksasa sepak bola dunia yang bergelimangan pemain bintang. Sampai pemain sekelas Lamine Yamal pun tidak mampu menjebol gawang mereka.

Para pendukung La Furia Roja menilai Tanjung Verde memainkan sepak bola negatif, melakukan taktik parkir bus. Namun, persoalannya, di tengah gempuran yang begitu hebat dan begitu banyak peluang matang yang didapatkan, kiper kawakan Vozinha selalu mampu berdiri untuk menepis semua bola yang hendak masuk ke dalam gawangnya.

Pelatih Argentina pada 1978, Cesar Luis Menotti, sering menyampaikan, dalam ajang seperti Piala Dunia selalu ada empat kelompok. Pertama ialah tim pecundang yang biasa dimanfaatkan untuk mencetak gol sebanyak-banyaknya. Kedua, tim kuda hitam yang tampil mengejutkan. Ketiga, tim penantang yang hadir untuk menantang tim-tim juara. Dan, keempat, tim calon juara yang hadir untuk mengukuhkan hegemoni sepak bola mereka.

Babak awal merupakan ancaman bagi tim calon juara. Karena semua tim ingin membuat kejutan dan melakukan berbagai cara untuk bisa mengalahkan tim-tim besar. Mereka yang lengah di babak awal bisa angkat koper lebih dulu.

Prancis, Spanyol, dan Jerman pernah mengalami masa pahit seperti itu. Bahkan Jerman dua kali berturut-turut tersingkir di babak awal justru setelah mereka memenangi Piala Dunia yang keempat kalinya pada 2014 di Brasil.

Dengan 48 tim yang berlaga di Piala Dunia kali ini, perjalanan ke tangga juara semakin panjang. Apabila sebelumnya sang juara hanya perlu menjalani tujuh pertandingan selama sebulan, kali ini tim juara harus bertanding delapan kali dalam waktu lima pekan.

Peluang bagi setiap tim untuk melaju ke babak knock-down dan melanjutkan kejutan menjadi lebih besar. Setiap tim yang mampu mengumpulkan 4 poin berpeluang menjadi salah satu dari delapan ‘the best losers’ untuk bergabung dengan 24 tim terbaik yang berhak otomatis lolos ke babak 32 Besar.

Inilah yang membuat pertandingan kedua pekan ini akan menjadi lebih menarik dan penuh kejutan. Semua akan berupaya untuk tidak menjadi tim pertama yang harus angkat koper dari gelanggang.

Tentunya kita berharap Piala Dunia 2026 diwarnai dengan sejarah yang indah. Setidaknya tinta emas pertama sudah ditorehkan oleh mahabintang sepak bola Lionel Messi. Ia menjadi pemain paling paling tua yang bisa mencetak hattrick di ajang Piala Dunia.

Di usia yang ke-38 tahun, Messi sudah tergolong pemain yang ‘uzur’. Pele memutuskan untuk gantung sepatu pada usia 36 tahun. Di era speed and power games seperti sekarang, usia menjadi faktor yang menentukan.

Namun, Messi menunjukkan bahwa dirinya adalah ‘the real greatest of all time’. Ia tidak perlu bergerak penuh selama 90 menit pertandingan. Tetapi, di saat diperlukan, ia tampil seperti macan yang lapar. Tiga gol yang ia ciptakan ke gawang Aljazair adalah gol-gol indah yang menghibur pencinta sepak bola.



Source link

By Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *