Penggunaan Gipsum untuk Interior Bangunan Lebih Efisien
Marketing Communication Digital & Branding Manager, Raden Krisma Hadianto.(MI/Muhammad Ghifari A)

Penggunaan papan gipsum sebagai material partisi interior bangunan diperkirakan akan terus meningkat di Indonesia. Selain dinilai lebih efisien dari sisi waktu pengerjaan, material tersebut juga menawarkan bobot yang lebih ringan dibandingkan dinding bata konvensional.

Marketing Communication Digital & Branding Manager, Raden Krisma Hadianto, mengatakan tren penggunaan partisi gipsum telah lebih dulu berkembang di sejumlah negara maju seperti Jepang, Korea Selatan, dan Australia, terutama untuk bangunan bertingkat.

Menurutnya, penggunaan gipsum pada area interior dapat membantu mengurangi beban struktur bangunan sekaligus mempercepat proses konstruksi.

“Dinding bata itu sangat berat dan membutuhkan pondasi yang lebih kuat. Kalau menggunakan sistem partisi gipsum, bobot bangunan menjadi lebih ringan sehingga efisiensinya terasa terutama pada bangunan bertingkat,” kata Kris di Jakarta, Kamis (18/6).

Ia menjelaskan, proses pemasangan partisi gipsum juga relatif lebih cepat dibandingkan dinding bata. Pada konstruksi konvensional, pekerjaan dinding masih harus melalui tahap plester dan acian yang membutuhkan waktu pengeringan cukup lama sebelum dapat dicat.

“Sementara pada partisi gipsum, setelah pemasangan selesai, tahap finishing bisa dilakukan lebih cepat sehingga waktu pengerjaan proyek menjadi lebih singkat,” ujarnya.

Meski menawarkan sejumlah keunggulan, penggunaan bata masih mendominasi sektor konstruksi nasional. Menurut Kris, salah satu penyebabnya adalah persepsi masyarakat yang menganggap partisi gipsum lebih rapuh dibandingkan dinding bata.

Ia menilai anggapan tersebut umumnya muncul akibat penggunaan material yang tidak sesuai spesifikasi. Papan gipsum yang digunakan untuk plafon, misalnya, memiliki ketebalan berbeda dengan papan yang dirancang khusus untuk partisi dinding.

“Kalau menggunakan spesifikasi yang benar, termasuk rangka dan ketebalan papan yang sesuai, performanya bisa sangat baik. Bahkan untuk kebutuhan akustik dan ketahanan api,” katanya.

Selain menyasar proyek gedung bertingkat dan perkantoran, pasar terbesar produk gipsum di Indonesia saat ini masih berasal dari sektor perumahan. Aktivitas pembangunan dan renovasi rumah dinilai menjadi sumber permintaan yang relatif stabil di tengah perlambatan sektor properti.

Kris menyebut pasar retail dan perumahan masih menyumbang porsi terbesar penjualan dibandingkan proyek apartemen, gudang, maupun kawasan industri yang cenderung mengikuti siklus investasi.

Di sisi lain, industri gipsum nasional masih menghadapi tantangan ketergantungan bahan baku impor. Sebagian besar produsen papan gipsum di Indonesia masih mengimpor bahan baku utama karena kualitas mineral gipsum domestik dinilai belum memenuhi spesifikasi yang dibutuhkan untuk produksi papan gipsum.

Kondisi tersebut membuat industri rentan terhadap fluktuasi nilai tukar rupiah dan perubahan biaya logistik global.   

Di tengah upaya memperluas pemahaman masyarakat mengenai penggunaan material gipsum, Knauf-Jayaboard meresmikan Knauf-Jayaboard Experience Centre di Jakarta Selatan. Fasilitas tersebut menggabungkan fungsi showroom dan pusat pelatihan bagi arsitek, kontraktor, aplikator, distributor, hingga pemilik rumah yang ingin memahami teknologi dan sistem konstruksi berbasis gipsum.

Experience Centre akan menjadi sarana edukasi mengenai berbagai aplikasi gipsum, mulai dari plafon, partisi, sistem akustik, hingga material bangunan yang diklaim lebih efisien untuk kebutuhan konstruksi modern. Setelah Jakarta, konsep serupa direncanakan hadir di sejumlah kota lain seperti Medan, Surabaya, dan Bali. (Z-10)



Source link

By Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *