
GANGGUAN perjalanan Kereta Cepat Whoosh akibat aktivitas bermain layang-layang mengalami peningkatan seiring tingginya aktivitas anak-anak selama masa libur sekolah.
Untuk mencegah gangguan operasional dan menjaga keselamatan perjalanan, PT Kereta Cepat Indonesia China (KCIC) terus meningkatkan pengawasan serta sosialisasi kepada masyarakat di sekitar jalur operasional.
Berdasarkan data KCIC, sepanjang 2024 hingga Mei 2026, petugas telah mengamankan sebanyak 452 layang-layang beserta benangnya yang ditemukan di sekitar jalur operasional Whoosh, khususnya di wilayah Padalarang, Cimahi, dan Bandung.
Jumlah temuan tersebut terdiri dari 25 kasus pada 2024, meningkat menjadi 317 kasus pada 2025, dan sebanyak 110 kasus selama periode Januari hingga Mei 2026.
General Manager Corporate Secretary KCIC, Eva Chairunisa mengatakan, pihaknya mengajak orangtua, masyarakat, serta pihak sekolah untuk turut mengawasi aktivitas anak-anak saat bermain layang-layang selama masa liburan.
“Memasuki masa libur sekolah, kami mengajak orangtua, masyarakat, dan sekolah untuk turut mengawasi aktivitas anak-anak saat bermain. Layang-layang yang putus dan terbawa angin dapat tersangkut pada jaringan listrik aliran atas Whoosh dan membahayakan keselamatan perjalanan kereta,” katanya, Minggu (14/6).
Patroli rutin
Dia menjelaskan, KCIC secara konsisten memberikan edukasi keselamatan kepada masyarakat yang tinggal di sekitar jalur operasional. Masyarakat diimbau untuk tidak bermain layang-layang dalam radius minimal tiga kilometer di sisi kanan dan kiri jalur operasional Whoosh.
Menurut Eva, layang-layang yang putus dan terbawa angin berpotensi tersangkut pada jaringan listrik aliran atas atau Overhead Catenary System (OCS) yang menjadi sumber tenaga utama operasional Whoosh.
Jaringan tersebut menggunakan tegangan tinggi sehingga layang-layang maupun benang yang tersangkut dapat merusak jaringan listrik aliran atas dan pantograf kereta yang berfungsi mengambil daya listrik selama perjalanan.
“Kondisi tersebut tidak hanya berpotensi mengganggu keselamatan perjalanan, tetapi juga dapat menyebabkan gangguan operasional serta keterlambatan perjalanan yang berdampak pada ribuan penumpang,” ujarnya.
Sebagai langkah pencegahan, KCIC secara rutin melakukan patroli di sepanjang jalur operasional, memasang papan imbauan keselamatan, serta mengamankan layang-layang dan benang yang ditemukan di sekitar lintasan kereta cepat.
Dalam dua tahun terakhir, KCIC juga telah melaksanakan 46 kegiatan sosialisasi keselamatan yang menjangkau 38 sekolah tingkat SD hingga SMP dengan total 7.827 siswa.
Selain itu, sosialisasi juga dilakukan kepada masyarakat di enam kecamatan yang dinilai rentan mengalami gangguan akibat aktivitas bermain layang-layang.
“Selain pengawasan di lapangan, KCIC secara aktif melaksanakan program sosialisasi keselamatan kepada masyarakat dan pelajar yang berada di sekitar jalur operasional. Keselamatan operasional Whoosh tidak hanya mengandalkan teknologi dan petugas di lapangan, tetapi juga membutuhkan dukungan masyarakat,” jelasnya.
