Dorong Upaya Kurangi Dampak Polusi Udara di Kota Satelit
Komunitas dari Aliansi Udara Bersih Indonesia melakukan kampanye mengajak masyarakat untuk bergerak bersama demi langit bersih dan biru di arena car free day (CFD) Bundaran HI, Jakarta, Minggu (14/9/2025).(MI/USMAN ISKANDAR)

POLUSI udara di wilayah kota satelit Jakarta kembali menjadi sorotan. Center for Indonesia’s Strategic Development Initiatives (CISDI) mengangkat isu tersebut melalui kegiatan komunitas Health Inc bertajuk “Napas di Kota Satelit: Hidup di Tengah Polusi Tangsel” yang digelar di Tangerang Selatan, Banten, Sabtu (13/6).

Kegiatan ini menghadirkan praktisi kesehatan, pegiat lingkungan, komunitas, hingga masyarakat umum untuk membahas dampak polusi udara terhadap kesehatan fisik maupun kesehatan mental masyarakat perkotaan.

Urban & Environmental Health Lead CISDI, Wisya Aulia Prayudi mengatakan bahwa Tangerang Selatan masih termasuk wilayah dengan tingkat polusi udara yang tinggi di Indonesia. Kondisi tersebut meningkatkan risiko penyakit tidak menular akibat paparan polusi udara dalam jangka panjang.

Menurut Wisya, partikel PM2,5 menjadi salah satu polutan yang perlu diwaspadai karena dapat masuk ke dalam aliran darah dan memengaruhi kesehatan secara serius.

“Polusi udara bukan hanya persoalan lingkungan, tetapi juga kesehatan masyarakat. Selain memicu gangguan pernapasan, polusi udara turut mempengaruhi produktivitas kelompok usia muda dengan mobilitas tinggi,” kata Wisya.

Ia menjelaskan, pertumbuhan mobilitas di Tangerang Selatan sebagai kota satelit Jakarta turut berdampak pada peningkatan emisi kendaraan bermotor. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Banten, jumlah kendaraan bermotor di wilayah tersebut mencapai 1,63 juta unit pada 2025.

Wisya menyebut tingginya aktivitas kendaraan memiliki hubungan langsung dengan peningkatan emisi yang menjadi salah satu penyebab utama polusi udara di kawasan Jabodetabek.

Selain itu, konsentrasi PM2.5 di Tangerang Selatan dan sekitarnya juga kerap berada di atas ambang batas aman, yakni lebih dari 50 µg/m³. Angka tersebut melampaui target interim tertinggi Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) yang berada di angka 35 µg/m³.

“Dampak polusi udara sering kali tidak disadari karena sifatnya tidak kasat mata, menjadikan polusi udara sebagai silent stressor dalam kehidupan perkotaan,” ujarnya.

Melalui forum Health Inc, CISDI ingin mendorong masyarakat agar memandang persoalan polusi udara bukan hanya sebagai isu lingkungan, tetapi juga ancaman kesehatan masyarakat.

Dalam kesempatan yang sama, Program Director Bike2Work Indonesia Dimas Gilang menilai pemerintah perlu membangun sistem transportasi yang lebih sehat dan ramah lingkungan, terutama di wilayah kota satelit seperti Tangerang Selatan.

“Kami menyuarakan pembenahan sistem transportasi agar semua moda transportasi bisa saling terhubung. Selain itu, kami juga mendorong tersedianya parkiran sepeda agar pesepeda bisa mengakses transportasi umum dengan nyaman. Sistem transportasi yang saat ini membuat kita jadi malas bergerak. Maka dari itu, kita bisa memulai perubahan dari hal-hal kecil dan sederhana, kalau jaraknya dekat bisa berjalan kaki saja dan konsisten dilakukan,” ujar Dimas.

Sementara itu, psikolog klinis dari organisasi Noutrisi Jiwa, Winona Lalita, menyoroti dampak polusi udara terhadap kondisi psikologis masyarakat, khususnya mahasiswa dan pekerja muda yang memiliki mobilitas tinggi setiap hari.

Menurut Winona, perjalanan panjang, tekanan aktivitas harian, serta paparan polusi selama beraktivitas dapat memicu stres dan kelelahan. Ia menyarankan masyarakat untuk memberi jeda sejenak dalam rutinitas guna menjaga kesehatan mental.

“Kalau dari sisi psikologisnya, kita bisa mulai dengan menyadari nafas kita. Dengan memberikan jeda, kita dapat mengurangi kecemasan. Kecemasan yang timbul akibat berada di lingkungan berpolusi juga dapat dikurangi dengan cara mengawali kegiatan dengan melihat tanaman setelah bangun tidur,” kata Winona.

Kreator konten ramah lingkungan Nada Arini turut menyoroti persoalan sistem pengelolaan lingkungan di Indonesia yang dinilai belum mendukung masyarakat menjalani gaya hidup sehat dan ramah lingkungan.

Ia mencontohkan praktik pembakaran sampah rumah tangga yang masih banyak dilakukan masyarakat akibat sistem pengangkutan sampah yang tidak berjalan optimal di sejumlah daerah.

“Masalahnya, praktik membakar sampah bisa membahayakan kesehatan karena sampah yang dibakar isinya bercampur antara sampah organik dengan plastik dan bahan-bahan lainnya. Asap hasil pembakaran sampah menghasilkan polusi udara,” ucap Nada.(H-2)



Source link

By Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *