
PENYANYI pop kenamaan asal Amerika Serikat, Ariana Grande, melayangkan protes keras terhadap Gedung Putih setelah salah satu lagunya digunakan tanpa izin dalam video promosi kebijakan imigrasi. Grande secara tegas meminta agar karyanya tidak dikaitkan dengan agenda politik yang ia nilai tidak manusiawi.
Ketegangan ini bermula ketika sebuah video reel diunggah di akun TikTok resmi Gedung Putih pada Senin (8/6) waktu setempat. Video tersebut menampilkan cuplikan petugas perbatasan yang sedang memborgol sejumlah orang, dengan latar belakang lagu hit Grande tahun 2024 berjudul Bye. Unggahan itu disertai takarir (caption): “Bye-bye… Presiden Trump telah mewujudkan perbatasan paling aman dalam sejarah.”
Reaksi Keras Ariana Grande
Melalui kolom komentar pada unggahan tersebut, bintang film Wicked ini menyampaikan keberatannya secara langsung. Grande menuliskan pesan menohok yang mengecam penggunaan musiknya untuk konten tersebut.
“Tolong jangan gunakan musik saya terkait dengan omong kosong yang biadab, tidak manusiawi, dan keji ini,” tulis Grande.
Merespons kritik tersebut, juru bicara Gedung Putih, Abigail Jackson, memberikan pernyataan balasan kepada media AS. Jackson justru membalikkan istilah yang digunakan Grande untuk membela kebijakan pemerintah.
“Yang sebenarnya biadab, tidak manusiawi, dan keji adalah para pendatang ilegal kriminal yang telah melukai dan membunuh warga negara Amerika yang tidak bersalah,” ujar Jackson.
Tindakan Lanjutan dan Konteks Kebijakan
Tidak lama setelah komentar Grande viral, video di akun TikTok tersebut terpantau telah dibisukan (muted) dan komentar sang artis dihapus. Namun, langkah ini memicu reaksi dari netizen yang menyadari hilangnya suara latar dan komentar kritis Grande.
Insiden ini terjadi di tengah langkah agresif pemerintahan Donald Trump dalam memperketat keamanan perbatasan. Baru-baru ini, Trump menandatangani undang-undang yang menyetujui pendanaan lebih dari US$70 miliar untuk lembaga imigrasi selama sisa masa jabatannya.
Berikut adalah ringkasan data terkait pendanaan dan daftar musisi yang pernah memprotes penggunaan karya mereka oleh tim Trump:
| Kategori | Detail Informasi |
|---|---|
| Total Anggaran Imigrasi | Lebih dari US$70 Miliar |
| Lagu yang Digunakan (2026) | “Bye” oleh Ariana Grande |
| Artis Lain yang Memprotes | Sabrina Carpenter, ABBA, Céline Dion, Beyoncé |
| Durasi Pendanaan | 2,5 tahun sisa masa jabatan presiden |
Tren Penolakan Musisi
Ariana Grande menambah panjang daftar musisi yang menolak musik mereka dijadikan alat kampanye atau promosi kebijakan Trump. Tahun lalu, Sabrina Carpenter juga menyampaikan keberatan serupa setelah lagunya yang berjudul Juno digunakan dalam kompilasi video operasi ICE (Immigration and Customs Enforcement).
Sebelumnya, nama-nama besar seperti ABBA, Céline Dion, hingga Beyoncé juga telah mendesak tim kampanye Trump agar tidak memutar lagu-lagu mereka dalam rapat umum maupun materi promosi politik lainnya. (bbc/Z-1)
