
KELANGKAAN solar subsidi yang terjadi hampir lebih dari sepekan terakhir di sejumlah SPBU di sepanjang Trans Sulawesidari arah Makassar hingga Luwu Timur dan Toraja memicu antrean panjang kendaraan berat seperti bus antarkota, truk logistik, hingga mobil pengangkut sampah.
Para sopir mengaku mengantre sejak subuh hingga sore namun belum tentu mendapat jatah, lantaran stok harian di beberapa SPBU dipangkas hingga 50 persen,dari 16 ton menjadi hanya 8 ton per hari.
Sementara itu, Pertamina Patra Niaga Regional Sulawesi justru menyatakan stok dalam kondisi aman dan mengklaim telah menambah penyaluran Biosolar hingga 15 persen.
Pemandangan antrean kendaraan berat masih menghiasi sejumlah SPBU. Bus antarkota, truk pengangkut barang, serta armada mobil sampah tampak mengular sejak pukul 05.00 Wita hingga menjelang sore. Kelangkaan solar subsidi ini terjadi di hampir seluruh SPBU termasuk juga di Kota Makassar dalam sepekan terakhir.
Salah satu sopir bus antarkota rute Palopo–Makassar, Kumpiq, 45, mengeluhkan situasi yang membuatnya terancam tidak bisa berangkat.
“Saya antre dari pukul 05.00 subuh tadi, Pak, sampai mau sore belum juga dapat. Semua SPBU di Makassar rata-rata kosong atau masih dalam perjalanan. Saya tadi sudah keliling cari. Kalau tidak ada solar, saya tidak bisa berangkat antar penumpang,” ujarnya, Jumat (12/6).
Keluhan serupa disampaikan Jumardi, sopir truk pengangkut sampah yang juga setia mengantre sejak pukul 05.30 Wita. Menurutnya, satu tangki full solar bisa digunakan untuk operasional tiga hingga empat hari.
“Kalau mobil sampah memang langganan di sini. Tapi sekarang susah, banyak mobil sampah lain juga antre karena langka. Stok dari Pertamina dipangkas. Biasanya 16 ton per hari, sekarang cuma 8 ton,” keluh Jumardi.
Petugas SPBU, Syamsul, membenarkan adanya pemangkasan jatah dan jadwal kirim yang tidak menentu.
“Sudah lebih satu minggu antrean seperti ini. Pengantaran dari Pertamina tidak menentu, kadang jam 1 siang, jam 2, atau sore. Setiap hari dapat suplai, tapi jumlahnya dikurangi dari 16 ton menjadi 8 ton. Yang datang malam tetap menunggu untuk diisi besok,” jelas Syamsul.
Klaim Pertamina
Di sisi lain, Pertamina Patra Niaga Regional Sulawesi menyatakan bahwa stok Biosolar subsidi untuk wilayah Makassar dan jalur lintas Sulawesi dalam kondisi aman.
Bahkan, Sales Branch Manager Sulselbar I, Muhammad Yoga Prabowo, mengklaim telah dilakukan penambahan penyaluran sebesar 10% hingga 15% dibanding rata-rata normal pada Juni 2026.
Yoga menjelaskan bahwa antrean terjadi akibat peningkatan kebutuhan di bulan Juni, tingginya permintaan berbagai produk BBM dari Integrated Terminal Makassar, serta adanya sejumlah mobil tangki yang menjalani pemeliharaan berkala.
“Pertamina memastikan stok Biosolar subsidi aman dan tersedia. Kami terus melakukan berbagai upaya agar penyaluran optimal,” ujar Yoga dalam pernyataan resmi yang diterima, Jumat (12/6).
Area Manager Communication, Relation, & CSR Pertamina Patra Niaga Regional Sulawesi, Lilik Hardiyanto, menambahkan bahwa pihaknya telah berkoordinasi dengan Elnusa untuk mempercepat distribusi, menambah armada spot charter, serta memperkuat pengaturan antrean di SPBU melalui marshaling dan penambahan operator.
“Kami mengajak masyarakat menggunakan BBM sesuai kebutuhan dan peruntukannya agar distribusi energi dapat berjalan lebih optimal,” kata Lilik.
Meski Pertamina mengeklaim ada penambahan pasokan, fakta di lapangan menunjukkan stok harian di sejumlah SPBU justru turun drastis hingga 50%. Para sopir juga mengaku belum merasakan adanya perbaikan layanan atau percepatan distribusi.
Hingga berita ini diturunkan, antrean masih terlihat di beberapa titik SPBU. Masyarakat pengguna solar subsidi terutama untuk sektor angkutan umum dan logistik berharap Pertamina segera menormalisasi pasokan agar aktivitas ekonomi dan transportasi tidak terganggu lebih lanjut.
Pertamina mempersilakan masyarakat melaporkan kendala atau indikasi pelanggaran penyaluran BBM subsidi melalui Contact Center 135. (LN/E-4)
