
MASYARAKAT Indonesia sering kali mengandalkan kerokan sebagai pertolongan pertama saat merasa tidak enak badan, termasuk ketika mengalami nyeri dada yang sering dianggap sebagai masuk angin. Namun, pakar kesehatan memperingatkan bahwa tindakan ini justru bisa berbahaya jika keluhan tersebut sebenarnya berkaitan dengan masalah jantung.
Dokter spesialis jantung dan pembuluh darah, dr. Febtusia Puspitasari, Sp.JP, FIHA, FASCC, menegaskan bahwa kerokan sangat tidak disarankan untuk mengatasi nyeri dada. Menurutnya, warna merah yang muncul saat kerokan bukanlah tanda “angin keluar”, melainkan indikasi pecahnya pembuluh darah di permukaan kulit.
“Jangan (dikerok), karena pada saat kita kerok sebenarnya pembuluh darah yang di permukaan kulit itu pecah. Merah itu adalah pembuluh darah yang pecah,” ujar Febtusia dalam sebuah temu media di Jakarta, dikutip Rabu(10/6).
Efek Semu dan Bahaya Tersembunyi
Dokter yang berafiliasi dengan Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia (PERKI) ini menjelaskan bahwa rasa nyaman yang muncul setelah kerokan hanyalah efek sementara. Sensasi hangat dari balsem dan sugesti pribadi sering kali menutupi masalah serius yang terjadi di dalam tubuh, seperti sumbatan pembuluh darah jantung.
Meskipun balsem dapat melebarkan pembuluh darah karena efek panasnya, hal tersebut bersifat short effect atau instan dan tidak bertahan lama. Hal ini sangat berbeda dengan pengobatan medis, seperti obat pengencer darah, yang memiliki efek jangka panjang (long term) untuk mengatasi penyebab utama keluhan.
| Aspek | Metode Kerokan & Balsem | Penanganan Medis |
|---|---|---|
| Mekanisme | Memecahkan pembuluh darah permukaan & penekanan otot. | Mengatasi sumbatan & memperbaiki aliran darah jantung. |
| Durasi Efek | Sangat singkat (short effect). | Jangka panjang (long term). |
| Risiko | Menunda penanganan medis yang krusial. | Terkontrol dan berdasarkan diagnosis klinis. |
Mengenali Angin Duduk (Angina Pektoris)
Nyeri dada yang patut diwaspadai adalah Angina pektoris atau angin duduk. Kondisi ini terjadi ketika otot jantung tidak mendapatkan pasokan darah dan oksigen yang cukup. Febtusia memberikan panduan untuk membedakan nyeri dada biasa dengan nyeri dada akibat gangguan jantung:
- Bukan Gejala Jantung: Nyeri yang berubah atau hilang saat posisi tubuh berubah.
- Gejala Jantung (Wajib Waspada): Nyeri yang tidak bisa ditunjuk dengan satu jari (pointing), intensitasnya semakin sering, serta disertai sesak napas, mual, dan keringat dingin.
Langkah Pertolongan Pertama yang Benar
Jika menemui orang terdekat mengalami nyeri dada atau sesak napas, dr. Febtusia menyarankan langkah-langkah berikut sebagai bantuan awal sebelum dibawa ke fasilitas kesehatan:
- Tenangkan Pasien: Kecemasan akan memperberat kerja jantung. Pastikan pasien tetap tenang.
- Longgarkan Pakaian: Lepaskan atau longgarkan dasi, kancing baju, atau ikat pinggang untuk membuat pasien merasa nyaman.
- Berikan Oksigen: Jika tersedia, pemberian oksigen dapat membantu melebarkan pembuluh darah dan memperbaiki kondisi pasien.
- Segera ke Rumah Sakit: Bawa pasien ke fasilitas kesehatan terdekat untuk monitoring dan pemeriksaan medis lebih lanjut.
Menunda penanganan medis dengan melakukan kerokan pada kasus nyeri dada berisiko fatal. Pastikan keselamatan jantung menjadi prioritas utama dengan mengikuti prosedur medis yang tepat. (Ant/Z-1)
