
DI tengah tantangan pemulihan ekonomi pascapandemi dan ancaman krisis iklim, sebuah langkah progresif muncul dari lereng Gunung Merapi-Merbabu. ChildFund Internasional di Indonesia bersama Yayasan Keluarga Sejahtera Boyolali (YKSB) resmi meluncurkan Green Recovery Initiative (GRI), sebuah program yang menyulap peternakan tradisional menjadi model bisnis hijau modern di Kecamatan Selo, Kabupaten Boyolali.
Inisiatif ini hadir sebagai jawaban atas dua tantangan besar yang dihadapi peternak lokal: rendahnya kesejahteraan akibat pengelolaan limbah yang buruk serta dampak wabah Penyakit Mulut dan Kuku (PMK). Kondisi tersebut memaksa banyak peternak beralih komoditas dari sapi ke domba dan kambing, yang kini dikelola dengan pendekatan lebih ramah lingkungan.
Meinrad Indra Cahya, Senior Specialist – Livelihood ChildFund Internasional di Indonesia, menegaskan bahwa pemulihan ekonomi dan lingkungan harus berjalan beriringan.
“Melalui GRI, kami mendorong kewirausahaan anak muda, penurunan emisi, dan penguatan rantai nilai ekonomi hijau secara terpadu,” ujarnya.
Agro Lestari Muda: Pionir Ekonomi Hijau Desa
Wujud nyata dari program ini adalah lahirnya kelompok ternak Agro Lestari Muda di Desa Suroteleng pada tahun 2024. Dikelola sepenuhnya oleh generasi muda, kelompok ini menerapkan sistem peternakan terintegrasi yang meminimalkan sisa buangan.
Rinto, Direktur Agro Lestari Muda, menjelaskan prinsip utama mereka adalah zero waste. “Bagi kami, bisnis hijau berarti tidak ada limbah yang dibuang. Semua harus kembali menjadi nilai ekonomi,” tegasnya. Desa kini diposisikan sebagai pusat ekonomi baru melalui strategi pengelolaan potensi lokal yang tepat.
Tabel: Komponen Utama Model Peternakan Hijau GRI
| Komponen | Implementasi Praktis |
|---|---|
| Manajemen Pakan | Produksi pakan konsentrat mandiri untuk efisiensi biaya. |
| Infrastruktur | Kandang panggung higienis untuk kesehatan ternak optimal. |
| Pengelolaan Limbah | Konversi kotoran dan urine menjadi pupuk organik (metode JMS). |
| Konservasi Air | Penerapan sistem rainwater harvesting (pemanenan air hujan). |
Dampak Lintas Generasi
Program GRI tidak hanya menyasar aspek ekonomi, tetapi juga edukasi dan sosial. Hanum, seorang mahasiswi yang terlibat, mengaku mendapatkan wawasan baru mengenai perubahan iklim dan disiplin teknis beternak. Sementara itu, peternak konvensional seperti Ari Nugroho kini telah bertransformasi menjadi tenaga profesional yang mampu memproduksi pupuk organik bernilai jual.
Dampak edukasi juga merambah ke dunia pendidikan formal:
- Siswa SMK Peternakan: Mengikuti pelatihan pengolahan urine domba menjadi pupuk cair.
- Anak PAUD & SD: Menggunakan kandang Agro Lestari Muda sebagai laboratorium alam untuk mengenal ekosistem sejak dini.
Kolaborasi Strategis dan Masa Depan
Keberhasilan ini tidak lepas dari dukungan lintas sektor, mulai dari Dinas Peternakan (Disnakkan) hingga Bapperida Kabupaten Boyolali. Pemerintah daerah melihat peluang besar dalam keterlibatan anak muda untuk memperkuat ketahanan ekonomi daerah.
Ahmad Luthfy Mubaarok, Program Manager YKSB, optimistis bahwa GRI adalah investasi jangka panjang. “Kami percaya, dengan semangat kebersamaan, GRI tidak hanya memperkuat ekonomi, tetapi juga menumbuhkan harapan baru bagi generasi mendatang,” tuturnya.
Ke depan, model Agro Lestari Muda diharapkan dapat direplikasi di wilayah lain di Indonesia, menjadi rujukan pusat pembelajaran, sekaligus motor penggerak ekowisata berbasis peternakan yang berkelanjutan dan inklusif. (Z-1)
