Bos FSB Rusia Tuding Barat Gunakan Eks Militan ISIS Serang Iran
Ilustrasi.(Magnific)

KEPALA Dinas Keamanan Federal Rusia (FSB), Alexander Bortnikov, melontarkan tuduhan serius terhadap negara-negara Barat. Dalam pertemuan pejabat intelijen dari delapan negara eks-Uni Soviet pada akhir Mei, Bortnikov mengeklaim bahwa dinas intelijen Barat tengah berupaya memanfaatkan mantan pejuang kelompok bersenjata ISIS sebagai kekuatan proksi untuk melawan Iran.

“Layanan intelijen Barat tidak menyerah dalam upaya mereka untuk memanfaatkan teroris militan dari Suriah sebagai pasukan proksi dalam perang melawan Iran,” ujar Bortnikov sebagaimana dikutip dari kantor berita RIA Novosti. Namun, Bortnikov tidak merinci negara Barat yang dimaksud dan tidak menyertakan bukti konkret seperti rekaman percakapan atau foto untuk mendukung klaim tersebut.

Konteks Pemindahan Tahanan ISIS

Tuduhan ini muncul setelah adanya laporan bahwa pada Februari lalu, Amerika Serikat mulai memindahkan ribuan pejuang yang terkait dengan ISIS dari pusat penahanan di timur laut Suriah ke Irak. Langkah ini menyusul keputusan Presiden Suriah, Ahmed al-Sharaa, untuk bergabung dengan koalisi anti-ISIS dan mengambil alih kembali wilayah yang sebelumnya dikuasai oleh pasukan pimpinan Kurdi.

Menurut data militer AS, terdapat sekitar 9.000 pejuang ISIS yang ditahan di wilayah tersebut. Bortnikov berargumen bahwa sejarah ISIS sendiri bermula dari kompleks penjara Irak yang diawasi oleh koalisi Barat dan menurutnya menjadi tempat persemaian ideologi jihadis.

Analisis Ahli: Fakta atau Retorika Politik?

Sejumlah pengamat menilai pernyataan Bortnikov perlu disikapi dengan hati-hati. Gennady Gudkov, mantan perwira KGB yang kini menjadi kritikus Kremlin, menyebut klaim tersebut sebagai kata-kata tanpa bukti. “Ini hanyalah upaya untuk berbohong tanpa ada yang bisa memeriksa kebenarannya, karena hilangnya pengawasan terhadap lembaga keamanan di Rusia saat ini,” tegas Gudkov.

Beberapa poin penting dari analisis para ahli meliputi:

  • Konstruksi Politik: Nikolay Mitrokhin dari Universitas Bremen menilai analis FSB mungkin menerjemahkan pesan dari agen-agen di lapangan menjadi narasi politik yang ingin didengar oleh Presiden Vladimir Putin.
  • Rumor Geopolitik: Ruslan Suleymanov dari New Eurasian Strategies Centre menganggap klaim ini masih sebatas rumor, meski ia mengakui ada pergerakan eks militan dari Suriah ke wilayah Afghanistan yang berbatasan dengan Pakistan.
  • Upaya Mempertahankan Pengaruh: Nikita Smagin, pakar hubungan Rusia-Iran, berpendapat bahwa retorika ini mungkin merupakan taktik Kremlin untuk menakut-nakuti negara-negara eks-Uni Soviet di Asia Tengah dan Kaukasus agar tetap berada di bawah pengaruh Moskow.

Catatan Sejarah: Ini bukan pertama kali Bortnikov melontarkan tuduhan tanpa bukti. Pada Oktober 2025, ia menuduh intelijen Inggris menggagalkan perundingan damai Ukraina dan mencoba meledakkan pipa gas Rusia ke Turki, klaim yang dibantah keras oleh Inggris sebagai omong kosong belaka.

Hingga saat ini, tidak ada pejabat keamanan dari negara-negara eks-Uni Soviet yang hadir dalam pertemuan tersebut memberikan dukungan publik atas klaim Bortnikov. Bahkan, media-media yang dikontrol Kremlin pun memberikan liputan yang relatif terbatas terhadap pidato tersebut, menunjukkan ada kehati-hatian dalam menyebarkan narasi ini lebih luas. (Al Jazeera/I-2)



Source link

By Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *