
PERAWATAN kulit kini tidak lagi hanya berfokus pada penggunaan produk dari luar tubuh. Dalam beberapa tahun terakhir, perhatian masyarakat mulai bergeser pada pendekatan beauty from within, yaitu menjaga kesehatan kulit melalui nutrisi dan kesehatan tubuh secara menyeluruh.
Salah satu konsep yang semakin banyak dibahas dalam dunia kesehatan adalah gut-skin axis, yakni hubungan antara kondisi saluran cerna dan kesehatan kulit. Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa keseimbangan mikrobioma usus dapat memengaruhi berbagai aspek kesehatan kulit, mulai dari tingkat inflamasi, sensitivitas kulit, hingga munculnya jerawat.
Dokter Spesialis Gizi Klinik dr. Chintya Tedjaatmadja, Sp.GK menjelaskan bahwa kulit yang sehat tidak hanya dinilai dari tampilan yang cerah atau bercahaya, tetapi juga ditentukan oleh kondisi lapisan pelindung kulit yang berfungsi dengan baik.
“Definisi kulit sehat itu tidak cuma asal glowing dan putih. Tapi harus pertama, punya barrier yang sehat dan kuat supaya tidak mudah iritasi. Kedua, harus punya kelembapan yang pas, tidak kering dan tidak berminyak, tapi moisture selalu dan tidak mudah iritasi. Sehingga tidak mudah untuk timbul flek, jerawat dan kerutan halus,” ujar dr. Chintya dalam peluncuran produk kecantikan berbasis nutrisi WYCE di Jakarta, Sabtu (6/6).
Menurutnya, menjaga kesehatan kulit membutuhkan dukungan berbagai nutrisi yang bekerja dari dalam tubuh. Salah satu bahan yang kini banyak mendapat perhatian adalah Korean Heartleaf atau Houttuynia cordata, tanaman yang populer dalam industri perawatan kulit Korea Selatan.
Dokter Chintya menjelaskan bahwa Korean Heartleaf mengandung berbagai senyawa antioksidan seperti flavonoid, polifenol, dan vitamin C yang berperan membantu melindungi kulit dari paparan radikal bebas.
“Korean Heartleaf kaya akan antioksidan seperti flavonoid, polifenol, dan vitamin C yang membantu melindungi kulit dari radikal bebas, menjaga skin barrier, serta membantu menyamarkan noda hitam dan bekas jerawat. Kandungan ini mendukung kulit tampak lebih sehat, segar, dan bercahaya,” katanya.
Ia menambahkan, flavonoid berperan sebagai antioksidan yang membantu melindungi sel-sel tubuh dari kerusakan akibat radikal bebas, sementara polifenol berkontribusi dalam menjaga fungsi lapisan pelindung kulit. Adapun vitamin C dikenal berperan dalam membantu proses regenerasi kulit serta menyamarkan noda hitam dan bekas jerawat.
Selain kandungan antioksidan yang tinggi, Korean Heartleaf juga dikenal memiliki sifat antiinflamasi yang membuatnya banyak digunakan untuk membantu merawat kulit sensitif dan rentan berjerawat.
Perhatian terhadap kesehatan kulit dari dalam tubuh sejalan dengan meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap gaya hidup sehat. Tren tersebut mendorong berkembangnya kategori produk beauty from within, termasuk minuman kolagen yang dirancang untuk mendukung kesehatan kulit melalui asupan nutrisi.
Melihat perkembangan tersebut, PT Louis Renzo Cosmindo meluncurkan WYCE, produk collagen drink yang mengombinasikan kolagen dengan Korean Heartleaf. Perusahaan menyebut produk tersebut sebagai minuman kolagen pertama di Indonesia yang menggunakan bahan botani tersebut dalam formulanya.
Founder & CEO PT Louis Renzo Cosmindo, William Krisnadi, mengatakan peluncuran WYCE didorong oleh perubahan cara pandang masyarakat terhadap kecantikan yang semakin erat kaitannya dengan kesehatan.
“Kami melihat adanya pergeseran kesadaran masyarakat Indonesia terhadap pentingnya kesehatan sebagai fondasi kecantikan. Selama ini, pendekatan yang dilakukan cenderung berfokus dari luar, padahal akar dari kulit yang sehat berasal dari dalam tubuh. WYCE kami hadirkan sebagai solusi yang lebih relevan, menggabungkan inovasi bahan premium Korea dengan formulasi berbasis sains sehingga memberikan manfaat yang lebih efektif, menyeluruh, dan berkelanjutan,” ujar William.
Selain mengandalkan kolagen dan Korean Heartleaf, WYCE juga mengusung konsep #GutHealthGoodSkin yang menekankan pentingnya kesehatan saluran cerna sebagai salah satu fondasi kesehatan kulit. Konsep tersebut diwujudkan melalui penambahan psyllium husk dan inulin dalam formulasi produk. Psyllium husk dikenal sebagai sumber serat yang membantu melancarkan sistem pencernaan, sementara inulin berfungsi sebagai prebiotik yang membantu menjaga keseimbangan mikrobioma usus.
Pendekatan tersebut didasarkan pada konsep gut-skin axis, yang menyebut bahwa kondisi saluran cerna memiliki keterkaitan dengan kesehatan kulit. Keseimbangan mikrobioma usus dinilai dapat membantu mengendalikan respons inflamasi dalam tubuh yang pada akhirnya turut memengaruhi kondisi kulit.
Menurut William, konsistensi menjadi salah satu faktor penting dalam memperoleh manfaat dari produk nutrisi kecantikan. Karena itu, perusahaan memilih menghadirkan produk dalam bentuk minuman siap konsumsi yang dinilai lebih praktis untuk dikonsumsi sehari-hari.
“Kami merancang WYCE sebagai solusi kecantikan modern yang tidak hanya efektif secara formulasi, tetapi juga relevan dari sisi penggunaan sehari-hari. Bentuk minuman siap konsumsi membuatnya lebih praktis dan membantu menjaga konsistensi penggunaan sebagai bagian dari gaya hidup,” katanya.
Seiring meningkatnya minat masyarakat terhadap produk kesehatan dan kecantikan, pasar beauty supplement diperkirakan masih memiliki ruang pertumbuhan yang besar. Untuk mendukung ekspansi bisnisnya, WYCE dipasarkan melalui berbagai platform e-commerce dan akan hadir dalam sejumlah pameran kecantikan, lifestyle exhibition, serta berbagai kegiatan komunitas di berbagai daerah.
Pada tahun pertama, perusahaan menargetkan penjualan mencapai 100.000 boks. Target tersebut didukung kapasitas produksi hingga 10.000 boks per bulan di fasilitas produksi perusahaan di Yogyakarta serta jaringan lebih dari 1.100 afiliator yang terlibat dalam pemasaran produk.
Perkembangan tersebut menunjukkan bahwa konsep kecantikan semakin bergerak ke arah yang lebih holistik. Tidak hanya berfokus pada perawatan dari luar, tetapi juga memperhatikan kesehatan tubuh secara menyeluruh, termasuk kesehatan saluran cerna, sebagai bagian dari upaya menjaga kesehatan kulit. (E-1)
