Diet Intermittent Fasting: Manfaat, Risiko Otot, dan Pengaruh Usia
Ilustrasi.(Magnific)

BANYAK orang mengenal intermittent fasting (IF) atau puasa intermiten sebagai metode ampuh untuk menurunkan berat badan, baik melalui pembatasan jendela makan harian maupun pengurangan kalori beberapa kali seminggu. Namun, studi terbaru mengungkapkan bahwa efektivitas dan dampak kesehatan dari metode ini sangat bergantung pada faktor usia, bahkan menyimpan risiko tersembunyi yang jarang disadari.

Analisis komprehensif terhadap 28 uji klinis yang melibatkan lebih dari 1.800 orang dewasa menunjukkan bahwa puasa intermiten memang efektif menurunkan berat badan dan indeks massa tubuh (BMI) tanpa memandang usia atau jenis kelamin. Meski demikian, penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Nutrients ini menemukan bahwa perjalanan metabolik setiap individu jauh dari kata seragam.

Salah satu temuan yang paling mengkhawatirkan adalah penurunan berat badan sering kali dibayar mahal dengan hilangnya massa otot (lean mass), bukan sekadar lemak. Secara umum, sekitar 20%-30% dari berat badan yang hilang saat diet adalah otot. Bahkan, satu uji coba melaporkan angka ekstrem di mana 65% penurunan berat badan berasal dari jaringan otot.

Kondisi ini sangat berbahaya bagi lansia yang secara alami mengalami penurunan massa otot setiap tahun. Tanpa perencanaan yang matang, pelaku puasa intermiten berisiko menjadi lebih kurus tetapi secara fisik lebih lemah.

Solusi: Puasa dengan Latihan Beban

Para ahli merekomendasikan kombinasi puasa dengan asupan protein tinggi dan latihan beban (resistance training). Penelitian menunjukkan bahwa pelaku puasa yang tetap melakukan olahraga aerobik atau angkat beban berhasil membakar lemak sekaligus mempertahankan massa otot mereka.

Lonjakan Kolesterol LDL yang Mengejutkan

Selain masalah otot, studi ini menemukan anomali pada profil lemak darah. Berbeda dengan laporan sebelumnya yang menyebutkan puasa intermiten menurunkan kolesterol, tinjauan terbaru ini justru menemukan kecenderungan kenaikan kolesterol jahat (LDL-C) di hampir semua kelompok usia.

Kenaikan ini memicu peringatan bagi para praktisi kesehatan. Peneliti menekankan pentingnya pemantauan lipid secara rutin bagi mereka yang menjalani diet puasa, guna memastikan kesehatan jantung tetap terjaga meskipun indikator gula darah atau trigliserida membaik.

Kesimpulan: Bukan Solusi untuk Semua

Puasa intermiten tetap diakui sebagai alat manajemen berat badan yang efektif, tetapi bukan merupakan obat ajaib yang berlaku sama untuk semua orang. Respons fisiologis seseorang di usia 20-an akan sangat berbeda dengan mereka yang berusia 60-an.

Kunci keberhasilan metode ini terletak pada kustomisasi: asupan protein yang cukup, aktivitas fisik yang mendukung otot, dan pemeriksaan kesehatan berkala. Perlakukan intermittent fasting sebagai salah satu alat dalam kotak peralatan gaya hidup sehat Anda, bukan satu-satunya solusi tunggal. (medicalxpress/I-2)



Source link

By Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *