Hilirisasi Nikel tak Cuma Butuh Investasi, tetapi Juga Keberlanjutan
Kadin Komite Bilateral Inggris dan Irlandia(Diskusi bertajuk Responsible Downstreaming at Scale: North Maluku Sustainable Experience)

Meningkatnya permintaan mineral kritis untuk mendukung transisi energi global membuat standar keberlanjutan semakin menjadi faktor penentu daya saing industri nikel. Tidak lagi hanya mengandalkan kapasitas produksi dan besarnya investasi, pelaku industri kini dituntut mampu membuktikan praktik pengelolaan lingkungan, sosial, dan tata kelola (ESG) yang kredibel untuk menjaga akses ke pasar internasional.

Tantangan tersebut menjadi salah satu fokus pembahasan dalam diskusi bertajuk Responsible Downstreaming at Scale: North Maluku Sustainable Experience yang diselenggarakan Kadin Komite Bilateral Inggris dan Irlandia dalam rangka Indonesia Critical Minerals Conference 2026.

Forum tersebut mempertemukan pemerintah daerah, pelaku industri, organisasi internasional, serta berbagai pemangku kepentingan sektor mineral kritis untuk membahas bagaimana praktik hilirisasi nikel di Maluku Utara dapat menjadi referensi global dalam pengembangan industri yang bertanggung jawab dan berkelanjutan.

Pembahasan tersebut menjadi relevan mengingat kontribusi hilirisasi terhadap perekonomian nasional terus meningkat. Realisasi investasi sektor hilirisasi pada kuartal I 2026 mencapai sekitar Rp147,5 triliun, dengan sektor nikel menyumbang sekitar Rp41,5 triliun.

Ketua ESDM Kadin Komite Bilateral Inggris dan Irlandia, Ovan Tito, mengatakan diskusi tersebut merupakan bagian dari rangkaian kegiatan North Maluku Sustainability Trip yang sebelumnya mengunjungi Indonesia Weda Bay Industrial Park (IWIP) di Maluku Utara.

Menurut Ovan, kunjungan lapangan memberikan gambaran yang lebih utuh mengenai perkembangan ekosistem hilirisasi nikel di Indonesia, termasuk berbagai upaya peningkatan standar keberlanjutan yang tengah dilakukan industri.

“Banyak peserta datang dengan berbagai perspektif dan ekspektasi mengenai industri nikel Indonesia. Namun setelah melihat langsung operasional di lapangan, investasi lingkungan yang dilakukan, serta keterbukaan berbagai pihak dalam berdialog, kami melihat sebuah ekosistem industri yang beroperasi pada skala kelas dunia dan terus berupaya meningkatkan standar keberlanjutannya,” ujar Ovan.

Dampak hilirisasi terlihat dari meningkatnya nilai ekspor produk turunan nikel yang melonjak hampir sepuluh kali lipat, dari sekitar US$3,3 miliar pada 2018 menjadi US$34 miliar pada 2024. Peningkatan tersebut mencerminkan semakin besarnya nilai tambah yang berhasil diciptakan di dalam negeri.

Sebagai salah satu pusat produksi nikel dunia dengan kontribusi sekitar 13-15 persen terhadap pasokan global, Maluku Utara kini memegang peran strategis dalam rantai pasok mineral kritis internasional. Pada kuartal pertama 2026, ekonomi provinsi tersebut tumbuh 19,64 persen, tertinggi secara nasional, didorong oleh aktivitas pengolahan dan pertambangan yang terus berkembang.

Gubernur Maluku Utara, Sherly Tjoanda, menegaskan bahwa keberhasilan hilirisasi harus diukur tidak hanya dari pertumbuhan ekonomi dan investasi, tetapi juga dari sejauh mana masyarakat lokal dapat memperoleh manfaat langsung dari perkembangan industri.

“Karena itu kami sedang memperkuat pendidikan dan keterampilan masyarakat agar lebih banyak warga Maluku Utara dapat mengambil peran yang lebih besar dalam industri. Kami juga sedang mendorong pengembangan pendidikan vokasi dan politeknik yang relevan dengan kebutuhan sektor industri, sehingga ke depan semakin banyak masyarakat lokal yang dapat mengisi posisi-posisi strategis,” ujarnya.

Sherly menambahkan, pembangunan industri harus berjalan seiring dengan peningkatan kualitas pendidikan, layanan kesehatan, infrastruktur, serta kesempatan ekonomi bagi masyarakat setempat.

Di tengah meningkatnya perhatian global terhadap aspek ESG, Executive Director NiPERA, Chris Schlekat, menilai kemampuan menunjukkan praktik keberlanjutan yang dapat diverifikasi akan menjadi faktor utama dalam menentukan akses pasar industri nikel di masa depan.

“Ke depan, akses pasar global akan semakin ditentukan oleh kemampuan produsen untuk menunjukkan praktik lingkungan, sosial, dan tata kelola yang dapat diverifikasi. Karena itu, penting bagi industri untuk mengacu pada standar yang kredibel, relevan, dan berbasis sains agar klaim mengenai praktik-praktik tersebut dapat diukur secara objektif,” kata Chris.

Pandangan serupa disampaikan Co-head of Responsible Sourcing Glencore, Ilse Schoeters. Menurutnya, perkembangan industri nikel Indonesia berlangsung sangat cepat dibanding banyak negara penghasil mineral lainnya.

“Industri nikel Indonesia berkembang dalam kecepatan yang luar biasa. Dalam waktu kurang dari satu dekade, kawasan industri dan rantai nilai yang kompleks telah tumbuh dengan sangat cepat. Kami melihat ada perusahaan yang sudah menunjukkan kemajuan dalam mengintegrasikan ESG ke dalam operasionalnya, sementara beberapa yang lain masih dalam proses membangun sistem yang diperlukan,” ujarnya.

Sementara itu, Community Outreach Coordinator IRMA, Andre Barahamin, menekankan pentingnya transparansi dan audit independen untuk memperkuat kepercayaan publik, investor, dan pasar global terhadap praktik pertambangan yang bertanggung jawab.

“Transparansi bukan tentang membuka ruang untuk saling menyalahkan, tetapi memberikan fondasi yang sama bagi seluruh pemangku kepentingan untuk memahami kemajuan yang telah dicapai dan perbaikan yang masih perlu dilakukan. Audit independen dapat membantu perusahaan memetakan langkah perbaikan secara lebih jelas sekaligus membangun kepercayaan dengan masyarakat, investor, dan pasar global,” kata Andre.

Melalui penguatan standar keberlanjutan, transparansi, serta peningkatan keterlibatan masyarakat lokal, hilirisasi nikel Indonesia diharapkan tidak hanya menjadi motor pertumbuhan ekonomi nasional, tetapi juga mampu memperkuat posisi Indonesia sebagai pemain utama dalam rantai pasok mineral kritis dunia yang semakin menuntut praktik industri yang bertanggung jawab. (E-3)



Source link

By Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *