
ANGGOTA Komisi IV DPR RI Rina Sa’adah mengingatkan pemerintah untuk mewaspadai dampak lonjakan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) dan dampaknya pada ke harga pangan nasional.
Politisi Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) ini meminta gejolak nilai tukar rupiah disikapi secara cermat agar tidak mengacaukan stabilitas harga pangan di dalam negeri.
Sebagau informasi, hari ini rupiah mencatatkan rekor pelemahan dengan menembus level psikologis Rp18.015 per dolar ASB. Berdasarkan data pasar, nilai tukar rupiah terdepresiasi sebesar 0,27%, sebuah posisi yang menempatkan mata uang domestik pada tekanan terdalam dalam beberapa waktu terakhir.
Rina menegaskan pemerintah tidak boleh lengah karena depresiasi rupiah berpotensi melambungkan biaya impor bahan baku strategis. Ia mencontohkan sektor pertanian dan perikanan nasional saat ini masih bergantung pada impor kedelai, gandum, garam industri, hingga bahan baku pakan ternak.
Menurutnya, pelemahan rupiah membuat kenaikan biaya impor komponen yang dipastikan bakal mencekik para pelaku usaha di tingkat bawah. Efek domino dari mahalnya bahan baku impor ini akan langsung memukul nasib petani, peternak, serta nelayan akibat biaya produksi yang membengkak drastis.
“Yang menjadi perhatian kami bukan sekadar pergerakan kurs, melainkan dampaknya terhadap biaya produksi dan ketahanan pangan nasional. Jika biaya impor meningkat, maka tekanan terhadap harga pangan dan biaya produksi petani, peternak, nelayan, serta pelaku usaha perikanan juga akan semakin besar,” jelasnya dalam keterangan yang dikutip, Kamis (4/6). (H-4)
