
“Maaf jika ini pertanyaan bodoh,” atau “Maaf sudah mengganggu.” Kalimat-kalimat ini kerap terlontar secara refleks, khususnya dari kaum perempuan, bahkan dalam situasi yang jelas-jelas bukan kesalahan mereka. Fenomena ini memicu pertanyaan besar: mengapa perempuan begitu sering meminta maaf, sementara laki-laki tidak melakukan hal yang sama?
Seorang psikolog sekaligus profesor terkemuka dari University of California, Berkeley, Stephen Hinshaw, menunjuk adanya “ekspektasi yang mustahil” yang dibebankan pada anak perempuan sejak dini sebagai akar masalahnya. Melalui studi kelompok fokus, Hinshaw menemukan adanya tekanan tiga lipat (triple bind) pada perempuan. Mereka dituntut untuk: 1) penuh kasih sayang dan mengayomi, 2) kompetitif dan berdorongan kuat, serta 3) memiliki daya tarik, dan harus memenuhi semua itu tanpa usaha keras.
“Bagaimana Anda bisa menjadi kompetitif, sepenuhnya altruistik dan berempati, serta diseksualisasi tanpa usaha? Anda tidak bisa. Itu mustahil,” ujar Hinshaw. “Namun jika itu yang diharapkan oleh budaya dari Anda, maka Anda menginternalisasi kegagalan tersebut.”
Ketakutan akan penilaian orang lain ini membuat perempuan sangat berhati-hati, bahkan untuk sekadar bersikap tegas secara wajar, karena khawatir dianggap melanggar stereotip gender sebagai sosok yang penyayang.
Perbedaan Tolok Ukur antara Laki-Laki dan Perempuan
Karina Schumann, profesor psikologi sosial di University of Pittsburgh, menjelaskan bahwa fenomena ini bukan berarti laki-laki tidak mau meminta maaf. Dalam studinya, Schumann menemukan adanya “hipotesis ambang batas” (threshold hypothesis).
“Tampaknya ada lebih banyak pelanggaran yang melintasi ambang batas bagi perempuan untuk dianggap layak mendapatkan permintaan maaf,” kata Schumann. “Namun ketika laki-laki melihat suatu perilaku sebagai pelanggaran, mereka tampak sama bersedianya untuk meminta maaf.”
Ketika diuji dengan skenario yang sama, perempuan cenderung menilai suatu kesalahan jauh lebih serius dan lebih memerlukan permintaan maaf dibandingkan penilaian laki-laki.
Dampak di Dunia Kerja
Sikap sering meminta maaf ini membawa dampak ganda di lingkungan profesional. Di satu sisi, orang yang sering meminta maaf dinilai sebagai sosok yang peduli, hangat, dan disukai. Namun di sisi lain, mereka juga dipandang kurang tegas, kurang berkuasa, dan terkadang dianggap tidak kompeten atau lemah.
Hal ini mempersulit posisi perempuan di dunia kerja yang secara struktural masih didominasi laki-laki. Data laporan Women in the Workplace dari McKinsey & Company menunjukkan bahwa keterwakilan perempuan di posisi eksekutif (C-suite) mandek di angka 29%.
“Masih ada norma bahwa perempuan harus tunduk pada laki-laki, dan meminta maaf atas apa yang bagi sebagian besar orang dianggap sebagai ketegasan yang wajar, tanpa perlu meminta maaf,” tulis Hinshaw dalam emailnya.
Menjadikan Maaf Lebih Bermakna
Para ahli mengingatkan bahwa terlalu sering meminta maaf untuk hal-hal sepele justru dapat mengikis nilai dari kata “maaf” itu sendiri saat kesalahan fatal benar-benar terjadi. Schumann menyarankan agar masyarakat mulai melatih diri agar tidak menjadikan permintaan maaf sebagai respons refleks.
“Berhati-hatilah saat Anda meminta maaf. Cobalah untuk menjadikannya bukan sekadar refleks yang Anda lakukan begitu saja, melainkan pikirkan ‘Apakah saya telah melakukan sesuatu dalam situasi ini yang menjamin permintaan maaf?'” pungkas Schumann. (CNN/Z-2)
