Aplikasi Pelacak Bayi Picu Postpartum OCD pada Ibu Baru, Ini Kata Ahli
Ilustrasi(Magnific)

BAGI seorang ibu baru, mencatat setiap detail aktivitas bayi, mulai dari jadwal menyusui, durasi tidur, hingga frekuensi buang air, sering kali dianggap sebagai bentuk kepedulian. Namun, di balik kecanggihan aplikasi pelacak bayi (baby tracking app), terdapat dampak tersembunyi yang dapat memperburuk kesehatan mental ibu pascamelahirkan.

Pengalaman ini dirasakan langsung banyak ibu yang terjebak dalam lingkaran obsesi data. Keinginan untuk mengontrol segala hal demi memastikan sang anak sehat justru kerap berujung pada gangguan kecemasan parah atau Postpartum Obsessive-Compulsive Disorder (OCD).

Olivia Pham, seorang terapis pernikahan dan keluarga berlisensi, menceritakan pengalamannya saat sang putra harus dirawat di NICU setelah lahir. Dorongan untuk melacak aktivitas bayinya seketika melonjak drastis.

“Saya perlu tahu persis apa yang sedang terjadi untuk memastikan dia sehat,” kata Pham. “Dia adalah anak yang waktu tidurnya sedikit, jadi saya selalu berpikir, ‘Ya ampun, dia hanya tidur selama 37 menit dan 6 detik. Oke, itu lebih baik daripada tidur siang, yang 5 menit lebih pendek.'”

Pham mengakui kebiasaan memeriksa aplikasi tersebut berubah menjadi obsesi yang tak sehat, bahkan membuat dirinya mudah marah jika suami atau ibunya tidak mencatat data bayi dengan sempurna. Baginya dan banyak klien yang ia tangani, aplikasi tersebut seolah terus berbisik, “Ini alasan lain mengapa kamu tidak cukup baik. Ini alasan lain mengapa kamu gagal.”

Mengapa Aplikasi Ini Bisa Memperburuk Mental Ibu?

Menurut Pham, aplikasi pelacak digital pada dasarnya tidak langsung menyebabkan gangguan mental pascamelahirkan. Namun, aplikasi ini menjadi faktor pemicu yang memperburuk gejala pada ibu yang memiliki faktor risiko bawaan. Perempuan dengan kepribadian berprestasi tinggi (high-achieving), perfeksionis, dan tipe A adalah kelompok yang paling rentan.

Dalam kondisi OCD, mencatat data di aplikasi bertransformasi menjadi perilaku kompulsif (tindakan berulang) untuk meredakan pikiran obsesif (ketakutan intrusif) akan kesehatan bayinya. Alih-alih memberi ketenangan, tumpukan statistik tersebut justru menciptakan kecemasan baru.

Sudut Pandang Dokter Anak

Skeptisisme terhadap kegunaan aplikasi ini juga datang dari dunia medis. Dr. Lauren Hughes, seorang dokter anak dan konsultan laktasi bersertifikat, justru menyarankan para orang tua untuk menghindari aplikasi pelacak jika tidak benar-benar diperlukan medis.

“Jika saya harus membuat rekomendasi universal, itu adalah untuk tidak menggunakannya, karena saya jarang melihat aplikasi tersebut membantu,” ujar Hughes.

Ia mencontohkan kasus seorang ibu yang panik karena bayinya hanya menyusu rata-rata 7 menit per payudara, berkurang dari bulan sebelumnya yang mencapai 13 menit. Padahal, secara klinis anak tersebut tumbuh bahagia, sehat, dan berkembang dengan baik. Hanya karena satu set data digital menunjukkan penurunan waktu menyusu, sang ibu menjadi sangat cemas.

Kapan Harus Menghapus Aplikasi?

Aplikasi pelacak memang berguna dalam situasi tertentu, seperti saat memantau indikator dehidrasi lewat popok basah atas instruksi dokter, atau bagi ibu yang merawat bayi kembar. Namun, Pham menegaskan bahwa cara terbaik untuk mengukur apakah seorang ibu sudah ketergantungan adalah dengan merasakan seberapa cemas dirinya jika aplikasi tersebut dihapus sepenuhnya dari ponsel.

Jika penggunaan aplikasi sudah memicu pikiran obsesif dan menurunkan kesejahteraan mental, sangat disarankan untuk segera berkonsultasi dengan psikolog atau terapis yang berspesialisasi dalam kesehatan mental perinatal dan maternal. (Parents/Z-2)



Source link

By Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *