Layar Digital di Sekolah Dinilai Hambat Proses Belajar dan Turunkan Nilai Siswa
Ilustrasi(Magnific)

BANYAK sekolah kini memfasilitasi siswa dengan perangkat digital demi mendukung pembelajaran modern. Berdasarkan survei National Center for Education Statistics, sebanyak 88% sekolah negeri di Amerika Serikat telah membagikan gawai kepada setiap muridnya. Namun, tren ini justru memicu kekhawatiran besar di kalangan orang tua dan pakar pendidikan.

Kara Alaimo, profesor komunikasi di Fairleigh Dickinson University sekaligus penulis buku “Over the Influence”, menyoroti bagaimana ketergantungan pada layar digital di sekolah justru membuat siswa stres, kelelahan, bahkan menurunkan performa akademik mereka.

Performa Siswa Menurun Akibat Komputer

Fakta mengejutkan diungkapkan neurosaintis Jared Cooney Horvath dalam bukunya. Berdasarkan berbagai tes standar internasional, siswa yang lebih sering menggunakan komputer justru menunjukkan performa akademik yang lebih buruk.

Banyak materi yang kini beralih sepenuhnya ke platform digital tanpa adanya interaksi dua arah. Seorang orangtua murid menceritakan, guru sejarah anaknya sama sekali tidak memberikan pelajaran secara konvensional, melainkan hanya memberikan latihan di perangkat digital.

“Bisa saja ada diskusi yang sangat bagus tentang hak-hak perempuan, agama, dan dinamika kekuasaan, namun sekarang anak saya sama sekali tidak peduli,” kata ibu tersebut. “Ini hanya tentang bagaimana dia bisa melewati berjam-jam pengisian formulir online.”

Riset menunjukkan pemahaman siswa jauh lebih baik saat membaca materi cetak dan menulis catatan dengan tangan dibandingkan menggunakan layar atau mengetik.

Risiko Kesehatan dan Konten Berbahaya

Selain menurunkan kualitas belajar, paparan layar digital yang berlebihan juga merusak kesehatan fisik, seperti meningkatkan risiko mata minus dan memicu gaya hidup tidak aktif (sedentary lifestyle). Penggunaan gim atau video edukasi yang adiktif juga dinilai mempersulit anak-anak dalam membangun fokus jangka panjang yang dibutuhkan untuk membaca dan meneliti.

Tak hanya itu, gawai sekolah juga membuka celah bagi anak-anak untuk mengakses konten yang tidak sesuai dengan usia mereka atau terhubung dengan predator daring. Lindsay Lieberman, seorang pengacara korban kekerasan daring, menjelaskan bahwa anak-anak selalu bisa menemukan celah untuk melewati pembatasan keamanan digital sekolah.

“Anak-anak akan selalu lebih canggih dalam teknologi daripada kita. Kita tidak akan pernah bisa membuat teknologi sedemikian rupa sehingga anak-anak tidak akan bisa menemukan cara untuk melewati hambatan keamanan apa pun yang kita pasang,” ujar Lieberman.

Ia mencontohkan seorang anak berusia 8 tahun yang berhasil mengakses gim di perangkat sekolahnya, di mana gim tersebut meminta pengguna mengambil keputusan dewasa seperti penggunaan kondom.

Gerakan Pembatasan Layar di Sekolah

Melihat dampak negatif ini, beberapa wilayah mulai mengambil tindakan. Los Angeles, misalnya, telah mengesahkan resolusi untuk membatasi screen time di sekolah.

Lieberman mengingatkan bahwa di bawah Undang-Undang Perlindungan Privasi Daring Anak (COPPA), orang tua memiliki hak federal untuk menolak anak-anak mereka menggunakan platform digital tertentu di sekolah. Saat ini, gerakan komunitas orang tua dan guru mulai aktif mendesak sekolah agar mengevaluasi kembali penggunaan teknologi digital dan mengembalikan metode belajar berbasis kertas untuk membaca, menulis, dan berhitung. (CNN/Z-2)

 



Source link

By Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *