Jangan Langsung Tenang Saat Demam Anak Turun, Ini Bahaya Fase Kritis DBD
.(Dok Magnific)

DEMAM Berdarah Dengue (DBD) menjadi salah satu penyakit yang masih banyak menyerang anak-anak di Indonesia. Penyakit akibat infeksi virus dengue yang ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti ini memiliki pola perjalanan penyakit yang unik, bahkan kerap mengecoh orang tua.

Salah satu hal yang perlu diwaspadai adalah ketika demam anak mulai turun. Banyak orang tua menganggap kondisi tersebut sebagai tanda kesembuhan, padahal pada kasus DBD, fase penurunan demam justru dapat menjadi periode paling berbahaya.

Melansir informasi dari Halodoc, perjalanan fase DBD pada anak umumnya mengikuti pola yang dikenal sebagai “pelana kuda”. Pola ini menggambarkan kondisi ketika anak mengalami demam tinggi di awal penyakit, kemudian suhu tubuh menurun drastis, sebelum akhirnya masuk ke tahap pemulihan atau justru mengalami komplikasi.

Mengenal Siklus DBD pada Anak

Pada fase awal atau fase demam yang biasanya terjadi pada hari pertama hingga hari ketiga, anak dapat mengalami demam tinggi mendadak hingga mencapai 38–40 derajat Celsius. Kondisi ini sering disertai gejala lain seperti sakit kepala, nyeri otot dan sendi, mual, muntah, tubuh lemas, hingga muncul ruam kemerahan pada kulit.

Di tahap ini, tubuh sedang berusaha melawan infeksi virus dengue. Orang tua dianjurkan untuk menjaga kebutuhan cairan anak tetap tercukupi dan memberikan obat penurun panas seperti parasetamol sesuai anjuran dokter. Namun, penggunaan obat seperti ibuprofen atau aspirin sebaiknya dihindari karena dapat meningkatkan risiko perdarahan pada penderita DBD.

Fase Kritis Terjadi Saat Demam Mulai Turun

Memasuki hari keempat hingga keenam, anak biasanya memasuki fase kritis. Pada tahap inilah suhu tubuh mulai turun drastis atau bahkan tampak kembali normal. Meski terlihat membaik, kondisi tersebut justru dapat menjadi tanda bahaya.

Pada fase kritis, risiko kebocoran plasma darah meningkat. Kebocoran plasma dapat menyebabkan cairan keluar dari pembuluh darah dan menumpuk di rongga tubuh. Jika tidak segera ditangani, kondisi ini dapat memicu syok atau Dengue Shock Syndrome (DSS) yang berbahaya bagi nyawa anak.

Ada sejumlah tanda bahaya yang perlu segera diwaspadai orang tua saat anak memasuki fase kritis, di antaranya:

– Nyeri perut hebat

– Muntah terus-menerus

– Mimisan atau gusi berdarah

– Muncul bintik merah pada kulit

– Anak tampak sangat lemas

– Tangan dan kaki terasa dingin

– Napas cepat atau sesak

– Penurunan kesadaran

Jika gejala tersebut muncul, anak perlu segera dibawa ke fasilitas kesehatan untuk mendapatkan penanganan medis.

Anak Akan Masuk Fase Pemulihan Setelah Melewati Masa Kritis

Setelah berhasil melewati fase kritis, kondisi anak umumnya mulai membaik secara bertahap pada hari ketujuh hingga kesepuluh. Nafsu makan mulai kembali, tubuh lebih bertenaga, dan demam tidak lagi muncul.

Pada fase pemulihan, cairan yang sebelumnya keluar akibat kebocoran plasma akan kembali terserap ke dalam pembuluh darah. Meski demikian, kebutuhan cairan dan nutrisi anak tetap harus diperhatikan agar proses pemulihan berjalan optimal.

Dokter biasanya juga akan memantau kondisi trombosit dan hematokrit melalui pemeriksaan darah hingga kondisi anak benar-benar stabil.

Selain memahami siklus DBD, langkah pencegahan juga penting dilakukan untuk mengurangi risiko penularan virus dengue pada anak. Upaya pencegahan dapat dimulai dengan rutin menguras tempat penampungan air, menutup wadah air, mendaur ulang barang bekas yang berpotensi menjadi sarang nyamuk, hingga menggunakan kelambu atau losion antinyamuk khusus anak. (Abi Rama/E-4)



Source link

By Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *