Pengamat Prediksi Rupiah Sentuh 18 Ribu Per Dolar AS Pekan Depan
Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo (tengah), Menko Perekonomian Airlangga Hartarto (kanan), Menkeu Purbaya Yudhi Sadewa (kedua kiri) memberikan keterangan pers usai melakukan pertemuan dengan Presiden Prabowo Subianto di Istana Merdeka, Jakarta, Se( ANTARA FOTO/Galih Pradipta/wsj.)

PENGAMAT pasar uang Ibrahim Assuaibi memprediksi nilai tukar rupiah bisa menyentuh Rp18.000 per dolar AS pada pekan depan. Sementara hingga hari ini (29/5) pukul 11.13, rupiah melemah 39 poin di Rp17.885 per dolar AS.

“Di minggu ini untuk mencapai level Rp18.000 sepertinya tidak akan tercapai. Namun di minggu depan, kemungkinan besar antara hari Senin pada saat libur atau Selasa, kemungkinan besar Rp18.000 itu akan tercapai,” kata Ibrahim dalam keterangannya, Jumat (29/5).

Ia memaparkan bahwa permasalahan utama pelemahan rupiah bukan kesalahan teknis dari Bank Indonesia sebagai otoritas moneter, melainkan  kesalahan struktural. Pertama, terang dia, defisit transaksi berjalan yang bersifat struktural, bukan temporer yang membuat investor asing susah masuk ke saham-saham dan obligasi di Indonesia.

“Defisit berjalan ini kita mengalami pelebaran. Dari kuartal pertama tahun 2025 di Rp0,15 miliar, kemudian di kuartal pertama tahun 2026 di Rp4,01 miliar,” ungkapnya.

Pelebaran defisit terjadi seiring menyusutnya surplus perdagangan Indonesia. Surplus perdagangan Indonesia pada kuartal pertama 2025 yang sebesar US$13,07 miliar menjadi US$7,98 miliar pada kuartal pertama 2026. Hal itu tidak terlepas dari tensi geopolitik di Timur Tengah ini terus memanas. Terutama setelah Iran melakukan blokade di Selat Hormuz.

“Selat Hormuz diblokade berarti 20% transportasi minyak dan gas itu terhambat total. Ini yang membuat harga minyak mentah mengalami kenaikan baik brent crude oil maupun WTI crude oil,” kata Ibrahim.

Ia mengingatkan bahwa Indonesia merupakan salah satu negara di Asia pengimpor minyak terbesar dengan 1,5 juta barrel per hari. Sebanyak 85% di antaranya untuk subsidi masyarakat.

“Sehingga pemerintah membutuhkan dolar yang cukup banyak ntuk menanggulangi defisit,” ujar Ibrahim.

Faktor kedua ialah masa dividen yang mana perusahaan-perusahaan di bursa harus membayar dividen yang mana menggunakan dolar. Kemudian faktor ketiga yakni utang jatuh tempo yang bunganya saja hampir Rp600 triliun. Pemerintah pun, lanjutnya, harus membuka utang baru.

“Utang baru di luar negeri ini rupanya sedikit sepi. Akhirnya membuka lah lelang di bursa Tiongkok, yaitu dengan Panda Bond dengan bunga 2,3% sampai 2,5%. Ini pun juga minat investor itu sedikit berkurang di Tiongkok. Ini yang membuat rupiah terus mengalami pelemahan,” papar Ibrahim.

Faktor terakhir, katanya, ialah permasalahan masyarakat Indonesia yang FOMO (Fear of Missing Out) ikut-ikutan tren memindahkan dana dari emas atau tabungan konvensional ke valuta asing (valas). “Buktinya di bulan April, 24% tabungan masyarakat itu berpindah ke valuta asing. Pasalnya masyarakat tahu bahwa rupiah ini bakal ke Rp22.000. Nah sehingga setelah jangka pendek, mereka akan mendapatkan keuntungan,” ungkapnya. (H-4)



Source link

By Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *