
HARGA minyak dunia melonjak tajam sementara pasar saham global berguguran pada perdagangan Kamis (28/5/2026). Kondisi ini dipicu oleh aksi saling serang antara Amerika Serikat dan Iran yang memupus harapan berakhirnya perang di Timur Tengah.
Kenaikan harga minyak mentah sekitar 2,5 persen ini menghapus penurunan tajam yang terjadi pada Rabu. Sebelumnya, pasar sempat optimistis akan ada kesepakatan segera untuk menghentikan konflik yang melumpuhkan pengiriman melalui Selat Hormuz selama berbulan-bulan.
“Pertukaran serangan baru antara kedua negara menguji gencatan senjata yang rapuh. Hal ini memaksa penilaian ulang terhadap peluang kesepakatan jangka pendek untuk membuka kembali Selat Hormuz,” ujar Russ Mould, Direktur Investasi AJ Bell.
Eskalasi Konflik dan Dampak Pasar
Bentrokan pada Kamis ini tercatat sebagai insiden paling serius sejak gencatan senjata April dimulai. Ketegangan ini turut menyeret Kuwait, sekutu AS, yang menyatakan pihaknya membalas tembakan yang masuk. Di saat yang sama, kekerasan di front Libanon meningkat setelah Israel menetapkan wilayah selatan negara tersebut sebagai zona tempur.
Pasar saham di Asia mencatat kerugian signifikan. Indeks utama di Hong Kong, Taipei, dan Sydney ditutup turun lebih dari satu persen. Tokyo dan Seoul mengalami penurunan moderat, sementara Shanghai menjadi satu-satunya bursa utama yang menguat tipis 0,1 persen.
Di Eropa, bursa London jatuh lebih dari satu persen pada tengah hari, sementara Paris dan Frankfurt masing-masing merosot 0,5 persen. Penurunan ini terjadi setelah sesi kuat pada Rabu saat investor sempat optimistis terhadap sektor kecerdasan buatan (AI) dan mengabaikan berita konflik.
- Minyak Mentah Brent: Naik 2,6% ke level US$96,76 per barel.
- Minyak Mentah WTI: Naik 2,5% ke level US$90,89 per barel.
- London – FTSE 100: Turun 1,1% ke 10.391,62 poin.
Lonjakan harga energi yang terus-menerus mengancam ekonomi utama yang bergantung pada pengiriman minyak dari Timur Tengah. Para ekonom memperingatkan bahwa bank sentral mungkin terpaksa menaikkan suku bunga jika inflasi memburuk akibat perang.
Kenaikan suku bunga tersebut diprediksi akan meningkatkan biaya pinjaman dan berpotensi menghambat pertumbuhan ekonomi global di tengah ketidakpastian geopolitik yang masih tinggi. (AFP/I-2)
