
PETA produksi susu sapi perah di Jawa Tengah kini mengalami pergeseran signifikan. Jika selama ini produksi didominasi oleh wilayah bagian selatan dan tengah, kini kawasan Pantai Utara (Pantura) seperti Kabupaten Batang, Pekalongan, dan Brebes diproyeksikan menjadi tulang punggung baru bagi industri susu nasional.
Langkah strategis ini diambil guna memenuhi kebutuhan susu dalam negeri yang masih sangat bergantung pada impor, sekaligus menyuplai industri pengolahan susu yang mulai menjamur di kawasan industri Batang.
- Batang, Pekalongan, dan Brebes resmi menjadi sentra baru sapi perah di Jawa Tengah.
- Mega Farm Brebes diproyeksikan menyumbang 18% kebutuhan susu nasional.
- Jawa Tengah mengimpor 40 sapi Australia untuk penguatan pembibitan di UPT.
- Populasi sapi perah Jawa Tengah saat ini mencapai 85.814 ekor.
Ekspansi Sapi Perah ke Wilayah Pantura
Berdasarkan pemantauan Media Indonesia, pada Rabu (27/5), Kabupaten Batang dan Pekalongan telah memulai pengembangan ternak sapi perah secara intensif. Meski populasinya belum sebesar daerah sentra lama, kehadirannya menjadi angin segar bagi ekosistem industri di Jawa Tengah.
Kepala Bidang Peternakan Dinas Pertanian dan Peternakan Provinsi Jawa Tengah, Andiningtyas Mula Pertiwi, mengungkapkan bahwa berdirinya pabrik susu besar di Batang menjadi pemicu utama pengembangan ini. Di Kecamatan Reban, Batang, saat ini telah tersedia 150 ekor sapi perah sebagai tahap awal.
“Selama ini produksi susu sapi perah didominasi daerah di Jawa Tengah bagian selatan dan tengah, kini sejumlah daerah di Pantura juga ikut mengembangkan sapi perah menyusul berdirinya pabrik susu di Batang,” ujar Andiningtyas.
Mega Farm Brebes: Target Pangkas Impor 18 Persen
Salah satu proyek paling ambisius adalah pengembangan Mega Farm di Kabupaten Brebes. Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (PKH) Kementerian Pertanian, Agung Suganda, menyatakan bahwa fasilitas di Brebes ini diproyeksikan mampu menyumbang hingga 18 persen dari total produksi susu nasional.
Angka ini sangat krusial mengingat saat ini produksi susu dalam negeri baru mencapai sekitar 1 juta ton per tahun, sementara kebutuhan nasional melonjak hingga 4,7 juta ton. Artinya, sekitar 80 persen kebutuhan susu Indonesia masih dipenuhi melalui impor.
“Dengan tambahan produksi dari Brebes yang cukup signifikan, kita dapat menekan ketergantungan impor dan berpotensi mendongkrak posisi Jawa Tengah untuk menyamai Provinsi Jawa Timur,” tegas Agung Suganda.
| Kategori Data | Statistik Nasional/Provinsi |
|---|---|
| Total Populasi Sapi Perah Jateng | 85.814 Ekor |
| Produksi Susu Dalam Negeri | 1 Juta Ton/Tahun |
| Kebutuhan Susu Nasional | 4,7 Juta Ton/Tahun |
| Ketergantungan Impor | 80 Persen |
Strategi Impor Sapi Australia dan Pembibitan UPT
Guna mempercepat pemenuhan target tersebut, Jawa Tengah berencana mendatangkan 40 ekor sapi perah unggul asal Australia pada tahun ini. Sapi-sapi ini tidak hanya difungsikan untuk produksi susu, tetapi juga sebagai bibit unggul yang akan dikelola di Unit Pelaksana Teknis (UPT).
Langkah ini diharapkan dapat memberikan kontribusi pada Pendapatan Asli Daerah (PAD) serta meningkatkan taraf ekonomi para peternak lokal melalui skema pembibitan yang lebih modern dan terukur.
Sentra Populasi Sapi Perah di Jawa Tengah
Hingga saat ini, pusat produksi susu di Jawa Tengah masih terkonsentrasi di wilayah dataran tinggi dengan iklim sejuk, di antaranya:
- Kabupaten Boyolali: Produsen terbesar dan kantong populasi utama.
- Kabupaten Semarang: Wilayah lereng Gunung Ungaran (Kecamatan Getasan).
- Kabupaten Wonosobo & Temanggung: Area dataran tinggi pegunungan Dieng.
- Kabupaten Klaten: Pengelolaan berbasis koperasi di lereng Gunung Merapi.
Kehadiran Batang, Pekalongan, dan Brebes sebagai pemain baru di jalur Pantura diprediksi akan mengubah peta persaingan industri susu, sekaligus memperkuat ketahanan pangan nasional di sektor peternakan. (AS/E-4)
