Limbah Kurban Bisa Diolah Jadi Pupuk Organik
Petugas badan karantina memeriksa Kesehatan sapi saat bongkar muat sapi siap kurban diturunkan dari geladak KM Camara Nusantara 1 di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, Kamis (21/05/2026). Sebanyak 275 ekor sapi yang berasal dari daerah pemasok utama Kupang,(Usman Iskandar/MI)

JELANG Iduladha, lonjakan jumlah hewan kurban kembali memunculkan persoalan limbah yang berpotensi mencemari lingkungan jika tidak dikelola dengan baik. Pakar IPB University Salundik menilai limbah ternak kurban perlu ditangani secara tepat karena jumlahnya besar dan tersebar di banyak titik.

Menurut dia, limbah kurban terbagi menjadi dua jenis utama, yakni limbah di area penjualan dan limbah di lokasi penyembelihan. Limbah di area penjualan umumnya berupa kotoran ternak dan sisa pakan hijauan yang terus menumpuk selama hewan ditampung menjelang Iduladha.

“Karena ternak dikumpulkan dalam jumlah besar sekitar 20 hari sebelum Iduladha, akumulasinya menjadi sangat masif,” ujar Salundik, Selasa (26/5).

Ia menjelaskan, 50 ekor sapi yang masing-masing menghasilkan sekitar 20 kilogram kotoran per hari dapat memproduksi hingga 20 ton limbah selama masa penampungan.

Sementara itu, limbah di lokasi penyembelihan dinilai memiliki risiko lebih tinggi karena mencakup darah, isi rumen, dan saluran pencernaan yang berpotensi menimbulkan kontaminasi, terutama di kawasan perkotaan dengan lahan terbatas.

“Jenis limbah di area penyembelihan memerlukan penanganan khusus karena risiko kontaminasinya lebih tinggi,” katanya.

Salundik mendorong masyarakat memanfaatkan limbah organik dari area penjualan, seperti feses dan sisa pakan, menjadi produk bernilai tambah.

Menurutnya, limbah tersebut dapat diolah menjadi pupuk organik seperti kompos maupun vermikompos.

“Feses dan sisa pakan dapat diolah menjadi pupuk organik seperti kompos atau vermikompos. Ini menjadi solusi praktis sekaligus memberikan nilai ekonomi,” jelasnya.

Namun, ia mengakui pengelolaan limbah di lokasi penyembelihan masih menjadi tantangan lantaran jumlah ternak yang tidak pasti, lokasi penyembelihan yang tersebar, serta keterbatasan lahan pengolahan limbah.

Ia menilai pengelolaan limbah kurban perlu dilakukan secara lebih terencana dan terkoordinasi, khususnya di wilayah perkotaan. Selain mengurangi pencemaran lingkungan, pemanfaatan limbah organik juga dinilai dapat mendukung praktik ekonomi sirkular yang berkelanjutan. (H-4)



Source link

By Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *