
Penemuan spesies flora baru di Indonesia dinilai tidak hanya menjadi pencapaian ilmiah, tetapi juga peringatan penting untuk memperkuat upaya perlindungan hutan dan keanekaragaman hayati nasional. Wakil Menteri Kehutanan Rohmat Marzuki mengatakan berbagai ekspedisi yang dilakukan di Papua dan Kalimantan Barat dalam beberapa tahun terakhir berhasil mengungkap sejumlah spesies flora baru.
Karena itu, ia mendorong kegiatan eksplorasi terus diperluas agar potensi hayati Indonesia tidak hilang sebelum sempat dipelajari. “Ke depan, kegiatan eksplorasi harus terus dilakukan agar kita tidak kehilangan sumber daya penting tersebut,” ujarnya, Senin (25/5).
Rohmat mengatakan posisi Indonesia sebagai salah satu negara dengan tingkat biodiversitas tertinggi di dunia merupakan modal strategis, bukan hanya bagi kelestarian alam, tetapi juga untuk ketahanan ekologi, pangan, kesehatan, budaya, hingga kesejahteraan masyarakat.
Ia menegaskan setiap spesies baru menyimpan nilai ekologis, informasi ilmiah, dan potensi pemanfaatan berkelanjutan yang sangat besar. “Di balik setiap spesies baru, terdapat nilai ekologis, informasi ilmiah, potensi pemanfaatan berkelanjutan, dan tanggung jawab besar untuk memastikan spesies tersebut tidak hilang sebelum kita memahami perannya bagi ekosistem,” kata Rohmat.
Ia juga menyoroti pentingnya sinergi antara Kementerian Kehutanan, BRIN, dan perguruan tinggi dalam mendukung pengelolaan keanekaragaman hayati. Menurutnya, dukungan para peneliti dan akademisi sangat dibutuhkan untuk memperkuat kapasitas pengelola kawasan hutan dan konservasi.
“BRIN dan perguruan tinggi adalah otoritas keilmuan yang berperan penting dalam mendukung Kementerian Kehutanan selaku otoritas manajemen keanekaragaman hayati,” ujarnya.
Rohmat menilai tantangan konservasi saat ini semakin kompleks, mulai dari perubahan tutupan lahan, kebakaran hutan, spesies invasif, hingga dampak perubahan iklim. Karena itu, hasil riset harus dapat diterjemahkan menjadi kebijakan dan langkah operasional di lapangan.
Selain aspek konservasi, ia juga menyoroti besarnya peluang pengembangan bioprospeksi di Indonesia. Sejumlah kolaborasi antara Kementerian Kehutanan dan BRIN disebut telah menghasilkan inovasi pemanfaatan sumber daya hayati, seperti pengembangan bahan kosmetik dari Tridemia hirta di Taman Nasional Gunung Merapi serta riset antikanker berbasis jamur dari Taman Nasional Gunung Rinjani.
Adapun, Rohmat mengusulkan tiga agenda prioritas ke depan, yakni pembangunan basis data flora Indonesia yang valid untuk mendukung kebijakan, penguatan jembatan antara riset dan pengelolaan kawasan, serta peningkatan edukasi publik terkait kekayaan flora nasional. “Masyarakat akan lebih terdorong melindungi sesuatu yang mereka kenal dan pahami nilainya,” ujarnya.
Senada dengan itu, Staf Khusus Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Bidang Riset dan Pengembangan sekaligus Anggota Dewan Pengarah BRIN, I Gede Wenten, mengatakan penemuan spesies baru harus menjadi fondasi dalam membangun bioekonomi nasional berbasis pengetahuan.
Menurutnya, kekayaan biodiversitas Indonesia harus dibarengi dengan penguasaan ilmu pengetahuan agar mampu memberikan nilai tambah bagi bangsa. “Bangsa yang hanya memiliki biodiversitas akan menjadi pemilik sumber daya, tetapi bangsa yang menguasai pengetahuan atas biodiversitasnya akan menjadi pemilik masa depan,” ucap Wenten. (E-3)
