
PEMERINTAH Kuba menerima pengiriman perdana bantuan pangan berupa 15.000 ton beras dari Tiongkok pada Minggu (24/5). Bantuan ini tiba di pelabuhan Havana di tengah kondisi negara kepulauan tersebut yang sedang berjuang melawan krisis pangan dan energi yang parah.
Pengiriman ini merupakan gelombang pertama dari total 60.000 ton beras yang dijanjikan oleh Beijing untuk membantu rakyat Kuba. Presiden Kuba, Miguel Diaz-Canel, menyampaikan apresiasinya melalui platform media sosial X, menyebut bantuan tersebut sebagai bentuk solidaritas yang nyata.
“Gerakan solidaritas yang mulia ini akan menjangkau jutaan konsumen di seluruh provinsi dan kotamadya khusus Isla de la Juventud, selain juga untuk institusi kesehatan dan pendidikan kami,” tulis Diaz-Canel.
Diplomasi di Tengah Tekanan Embargo
Duta Besar Tiongkok untuk Kuba, Hua Xin, menyatakan dalam siaran televisi nasional bahwa total bantuan 60.000 ton beras ini merupakan bantuan pangan terbesar dari Tiongkok untuk Kuba dalam beberapa tahun terakhir. Langkah ini mempertegas hubungan diplomatik kedua negara yang semakin erat di saat Kuba menghadapi tekanan ekonomi dari Amerika Serikat.
Kuba berada di bawah embargo perdagangan AS sejak tahun 1962 yang oleh pemerintah setempat dituding sebagai penyebab utama kelangkaan pangan dan obat-obatan. Situasi semakin memburuk sejak Januari lalu, ketika Kuba berhenti menerima pasokan minyak dari sekutu utamanya, Venezuela, menyusul perubahan kepemimpinan di negara tersebut yang didukung oleh Amerika Serikat.
- Bantuan Tiongkok: 15.000 ton (tahap pertama) dari total komitmen 60.000 ton beras.
- Krisis Energi: Pemadaman listrik massal akibat blokade energi dan terhentinya pasokan minyak Venezuela.
- Tekanan AS: Embargo perdagangan sejak 1962 dan ancaman sanksi bagi pihak yang menjual minyak ke Kuba.
Ketegangan Geopolitik
Selain masalah ekonomi, ketegangan politik antara blok Tiongkok-Kuba dan Amerika Serikat juga terus meningkat. Awal pekan ini, Tiongkok secara terbuka mengecam keputusan AS yang mendakwa mantan Presiden Kuba, Raul Castro, terkait insiden penembakan pesawat pada tahun 1996.
Blokade energi yang efektif memperburuk pemadaman listrik yang telah lama melanda negara komunis tersebut. Dalam konteks ini, bantuan pangan dari Tiongkok dianggap sebagai napas buatan bagi stabilitas domestik Kuba.
“Ikatan persahabatan dan kerja sama yang tulus yang menyatukan kita semakin diperkuat dalam momen-momen krusial,” pungkas Diaz-Canel, menekankan pentingnya dukungan internasional bagi kelangsungan hidup negaranya di tengah isolasi ekonomi. (AFP/I-2)
