
MENINGKATNYA kebutuhan energi dan tekanan pengurangan emisi, panas sisa dari proses industri sering terbuang percuma. Padahal, panas tersebut dapat diolah kembali menjadi sumber energi dan produk bernilai tambah.
Guru Besar Fakultas Teknik dan Teknologi IPB University, Prof Edy Hartulistiyoso, memperkenalkan konsep combined heat, power and product (CHPP) sebagai solusi efisiensi energi industri. Konsep ini memungkinkan panas dimanfaatkan untuk menghasilkan listrik sekaligus produk bernilai tambah seperti biochar dan bio-oil.
“Panas yang selama ini terbuang sebenarnya masih bisa dimanfaatkan kembali untuk menghasilkan listrik maupun produk lain yang bernilai tambah,” kata Edy dalam keterangannya, Minggu (24/5).
Menurutnya Edy, kebutuhan energi termal di Indonesia saat ini masih didominasi batu bara dan gas alam, sementara potensi energi terbarukan sangat besar.
“Pembahasan energi tidak hanya berkaitan dengan listrik, tetapi juga sistem termal yang digunakan dalam berbagai proses pengolahan produk pertanian dan perikanan, seperti pemanasan, pengeringan, dan pendinginan,” tuturnya.
Dalam kebijakan energi nasional, sektor energi diarahkan pada pemanfaatan energi terbarukan sebesar 51% dan efisiensi energi sebesar 37%. Namun, pemanfaatan energi surya di Indonesia masih dinilai minim meskipun potensinya melimpah.
“Selain CHPP, pemanfaatan teknologi organic rankine cycle (ORC) untuk mengolah sumber panas bersuhu rendah agar dapat dimanfaatkan kembali sebagai energi,” ujar Edy.
Biomassa
Di sisi lain, Indonesia memiliki potensi besar dari sumber daya agromaritim seperti biomassa, energi surya, panas bumi, angin, hingga energi laut yang dapat dikembangkan menjadi energi berkelanjutan.
Biomassa, misalnya, dapat diolah melalui pembakaran langsung, biogas, bioetanol, hingga pirolisis yang menghasilkan biochar dan bio-oil bernilai tambah.
Ia memaparkan, IPB University telah mengembangkan berbagai inovasi energi termal, salah satunya teknologi pengering surya tipe efek rumah kaca (ERK) sejak 1980-an untuk membantu proses pengeringan hasil pertanian tanpa bergantung pada bahan bakar fosil.
Energi Surya
Energi surya juga dimanfaatkan untuk sistem pendinginan produk perikanan melalui listrik berbasis photovoltaic (PV) yang menggerakkan sistem pendingin kompresi uap, sehingga membantu nelayan menjaga kualitas hasil tangkapan lebih lama.
Isu energi dan perubahan iklim sendiri menjadi perhatian global, di mana pembakaran bahan bakar fosil masih menjadi sumber utama emisi karbon dioksida (CO?) yang memicu efek rumah kaca dan peningkatan suhu bumi.
Melalui pengembangan teknologi seperti CHPP, Prof Edy mendorong pemanfaatan energi secara lebih efisien, tidak hanya untuk menekan emisi, tetapi juga menciptakan nilai ekonomi baru dari energi yang selama ini terbuang. (Z-2)
