WHO Tetapkan Status Darurat Ebola Internasional, 88 Orang di Kongo Tewas
Ilustrasi(Magnific)

WABAH virus Ebola kembali melanda Republik Demokratik Kongo (RD Kongo) dan telah menewaskan sedikitnya 88 orang. Menanggapi krisis tersebut, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) resmi menetapkan status darurat kesehatan internasional, Minggu (17/5).

Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Afrika (CDC Afrika) melaporkan total kematian tersebut disertai dengan temuan 336 kasus terduga demam berdarah yang sangat menular ini. WHO menyatakan bahwa wabah yang disebabkan oleh virus Ebola varian Bundibugyo ini merupakan “darurat kesehatan masyarakat yang menjadi perhatian internasional”, tingkat peringatan tertinggi kedua di bawah regulasi kesehatan global.

Kondisi ini memicu kekhawatiran besar karena belum adanya penangkal untuk varian tersebut. “Varian Bundibugyo tidak memiliki vaksin, tidak ada pengobatan khusus,” kata Menteri Kesehatan RD Kongo, Samuel-Roger Kamba. “Varian ini memiliki tingkat kematian yang sangat tinggi, yang bisa mencapai 50%.”

Sebagai catatan, vaksin yang ada saat ini hanya tersedia untuk varian Zaire. Otoritas kesehatan mengonfirmasi bahwa wabah terbaru ini terdeteksi di provinsi Ituri, wilayah timur laut RD Kongo yang berbatasan dengan Uganda dan Sudan Selatan. Virus ini bahkan dilaporkan telah menewaskan seorang warga Kongo di negara tetangga, Uganda.

Menurut Menkes Kamba, pasien nol dalam wabah ini adalah seorang perawat yang melapor ke fasilitas kesehatan di ibu kota provinsi Ituri, Bunia, pada 24 April dengan gejala menyerupai Ebola seperti demam, pendarahan, dan muntah.

Kelompok bantuan medis Doctors Without Borders (MSF) mengumumkan sedang menyiapkan respons berskala besar untuk meredam penyebaran virus yang sangat cepat ini. Kendala infrastruktur komunikasi dan transportasi peralatan medis yang buruk di RD Kongo menjadi tantangan berat bagi tim penyelamat.

“Jumlah kasus dan kematian yang kita lihat dalam kurun waktu singkat, dikombinasikan dengan penyebaran di beberapa zona kesehatan dan sekarang di lintas batas, sangat memprihatinkan,” kata Trish Newport, Manajer Program Darurat MSF.

Situasi di lapangan juga dilaporkan memburuk akibat minimnya fasilitas isolasi medis. “Kami telah melihat orang-orang meninggal selama dua minggu terakhir,” ujar Isaac Nyakulinda, seorang perwakilan masyarakat sipil setempat. “Tidak ada tempat untuk mengisolasi orang sakit. Mereka meninggal di rumah dan jenazah mereka ditangani oleh anggota keluarga mereka.”

Ini merupakan wabah Ebola ke-17 yang melanda RD Kongo. WHO memperingatkan adanya risiko tinggi penyebaran regional karena jumlah pasti orang yang terinfeksi dan cakupan geografisnya masih belum jelas. Diperkirakan berasal dari kelelawar, virus Ebola menyebar antarmanusia melalui cairan tubuh atau paparan darah dari orang yang terinfeksi setelah mereka menunjukkan gejala. (AFP/Z-2)



Source link

By Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *