
MESKI sebagian wilayah Indonesia mulai merasakan teriknya masa peralihan dengan suhu siang hari mencapai 37,1 derajat Celsius, hujan lebat belum sepenuhnya pergi. BMKG menjelaskan dua fenomena atmosfer utama, yakni Madden-Julian Oscillation dan sirkulasi siklonik, menjadi pendorong utama potensi hujan yang masih signifikan sepanjang 15 hingga 21 Mei 2026.
“MJO saat ini berada pada fase 3 di Samudra Hindia dan mulai berdampak terhadap wilayah Indonesia dengan membawa massa udara yang lebih lembap dari perairan barat Sumatra,” ungkap BMKG dalam keterangan resmi, Minggu (17/5).
Kondisi ini melemahkan pengaruh Monsun Australia yang seharusnya membawa udara kering, sehingga kandungan uap air di sebagian wilayah Indonesia bagian selatan kembali meningkat. Secara spasial, MJO diprakirakan melintasi sebagian wilayah Sumatera, Jawa, Sulawesi bagian selatan, dan Papua.
Sementara itu, sirkulasi siklonik diprediksi terbentuk di tiga titik strategis, yakni sekitar Selat Karimata, Selat Makassar bagian selatan, dan Laut Sulawesi. Sistem ini membentuk zona konvergensi dan konfluensi yang mendorong pertumbuhan awan hujan di sekitar wilayah tersebut.
Kombinasi dua fenomena itu diperkuat Gelombang Kelvin yang aktif di sebagian Kalimantan, Sulawesi, dan Papua, serta Gelombang Rossby Ekuatorial yang aktif di Sumatera bagian selatan, Jawa, Bali, hingga Nusa Tenggara. Dalam sepekan terakhir, Sulawesi Barat mencatat curah hujan tertinggi dengan intensitas 139 mm per hari, disusul Sulawesi Tenggara 81,4 mm per hari dan Papua Barat 80 mm per hari.
Untuk periode 15 hingga 17 Mei, BMKG menetapkan status siaga hujan lebat hingga sangat lebat di 15 provinsi, yakni Kepulauan Riau, Kepulauan Bangka Belitung, Bengkulu, Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, Kalimantan Selatan, Sulawesi Barat, Sulawesi Selatan, Maluku Utara, Maluku, Papua, Papua Tengah, Papua Pegunungan, dan Papua Selatan. Potensi angin kencang diwaspadai di Kepulauan Bangka Belitung dan Nusa Tenggara Timur.
Memasuki periode 18 hingga 21 Mei, status siaga menyempit ke Maluku Utara, Papua Tengah, dan Papua Pegunungan, meski hujan sedang hingga lebat masih mencakup hampir seluruh wilayah dari Aceh hingga Papua Selatan.
BMKG juga mengingatkan fenomena yang khas di masa peralihan ini, di mana langit terik pada pagi dan siang hari tidak berarti hari akan tetap kering. Pemanasan permukaan yang kuat justru dapat memicu pertumbuhan awan konvektif pada sore hingga malam hari, terutama di wilayah dengan kelembapan udara tinggi.
Masyarakat diminta mewaspadai dampak hujan lebat seperti pohon tumbang, baliho roboh, genangan, dan sambaran petir, sekaligus menggunakan tabir surya dan menjaga kecukupan cairan saat beraktivitas di luar ruangan siang hari. Informasi cuaca terkini dapat dipantau melalui bmkg.go.id, aplikasi InfoBMKG, dan media sosial @infoBMKG. (Z-2)
